Wartatrans.com, JAKARTA — Sastra Semesta kembali menggelar perhelatan ke-16 sekaligus memperingati tujuh tahun perjalanan komunitas tersebut dalam menghidupkan ekosistem sastra dan seni. Mengusung tema “Komunitas Seni sebagai Penggerak Pemajuan Kebudayaan”, acara ini mempertemukan penyair, seniman, budayawan, komunitas seni, dan pegiat kebudayaan dalam satu panggung.
Rangkaian kegiatan diawali musik pembukaan, kemudian dilanjutkan dengan sambutan pembawa acara dan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya yang dipandu Ritmanto Saleh.

Koordinator Sastra Semesta, Ireng Halimun, dalam sambutannya menegaskan pentingnya keberadaan komunitas seni sebagai ruang tumbuh bagi kreativitas sekaligus bagian dari gerakan kebudayaan di tengah masyarakat.
Sambutan berikutnya disampaikan Kepala PDS HB Jassin atau yang mewakili, sebelum panggung dilanjutkan dengan rangkaian pembacaan puisi oleh sejumlah penyair, di antaranya Ndari Soedibyo, Giyanto Subagio, Cikeu Bidadewi, Putra Gara, Riri Satria, Dedy Tri Riyadi, Sahaya Santayana, Diana Prima Resmana, Sihar Ramses Simatupang, dan Wahyu Toveng.
Tidak hanya menghadirkan puisi, Sastra Semesta #16 juga menyuguhkan pertunjukan seni tradisi melalui Lenong Mini Sanggar Ruang Condet dengan judul Melestarikan Budaya Betawi.
Pementasan tersebut disutradarai Beryl Gondrong, dengan pemain Kuntari sebagai Mpok Rodemah, Mpok Nunung sebagai Rogaya, Raisya sebagai Siti, Nyai Kantil sebagai Mpok Rumpi, Heru Meong sebagai Centeng Kodir, Zuki sebagai Centeng Udin, Beryl sebagai Babe Rojak, dan Baim sebagai Dodo.
Pertunjukan didukung operator musik Macboul dan videografi Way Aryadi, dengan Deacy Fatimah Dorra sebagai Dewan Penasihat serta Lurah Balekambang, Herman Triono, SE, sebagai Dewan Pembina.
Selain pembacaan puisi dan lenong, acara juga menghadirkan pembacaan monolog oleh Yogi Karmas, yang memperkaya ekspresi seni dalam perhelatan tersebut.
Komunitas sebagai Penggerak Kebudayaan
Bagian utama acara diisi diskusi bertema “Komunitas Seni sebagai Penggerak Pemajuan Kebudayaan”. Diskusi menghadirkan Noorca M Massardi dan Yusuf Susilo Hartono sebagai narasumber, dengan Ireng Halimun bertindak sebagai moderator.

Forum tersebut menjadi ruang untuk membahas posisi strategis komunitas seni dalam menjaga keberlanjutan kebudayaan, membangun ruang kreativitas, serta memperluas partisipasi masyarakat dalam kehidupan seni dan sastra.
Bagi Sastra Semesta, keberadaan komunitas bukan sekadar tempat berkumpulnya para pelaku seni. Komunitas juga dapat menjadi ruang regenerasi, pertukaran gagasan, sekaligus penggerak kebudayaan yang bekerja langsung di tengah masyarakat.
Setelah diskusi, acara dilanjutkan dengan pemberian sertifikat kepada para narasumber dan pengurus PDS HB Jassin.
Panggung kemudian kembali diisi pembacaan puisi dan musikalisasi puisi. Repoeblik WC Umum (Waroeng Canda untuk Muda-mudi) tampil membawakan musikalisasi puisi dengan personel B1M (dibaca B satu M), Wawan Gesek, dan Adi Beos.
Rangkaian Sastra Semesta #16 ditutup dengan pembacaan puisi oleh Sihar Ramses Simatupang dan Wahyu Toveng, sebelum acara secara resmi ditutup dan dilanjutkan dengan foto bersama.
Memasuki usia tujuh tahun, Sastra Semesta menunjukkan bahwa perjalanan komunitas seni tidak hanya diukur dari panjangnya usia, tetapi dari kemampuannya mempertahankan ruang kreatif, mempertemukan berbagai ekspresi seni, dan ikut menggerakkan kebudayaan.
Melalui perhelatan ke-16 ini, Sastra Semesta kembali menegaskan satu pesan: pemajuan kebudayaan tidak hanya lahir dari institusi, tetapi juga dari komunitas yang terus bergerak, berkarya, dan menjaga kebudayaan tetap hidup di tengah masyarakat.*** (Dulloh)






























