Menu

Mode Gelap
Ramaikan GBK, Penonton Pertandingan Persija-Persib Tembus 58.961 Aceh Coffee Day Rayakan Dua Tahun Hari Kopi Aceh Dihelat 15 September 2026 Bidik Ekosistem Umrah Terintegrasi, JARDY Travel Gandeng BPRS Harum Hikmahnugraha Gubernur Jateng Ahmad Luthfi Buka Akses Masyarakat Saksikan Langsung MTQ Nasional XXXI di Semarang KAI Daop 4 Semarang Siap Layani Mobilitas Masyarakat pada MTQ Nasional XXXI, Penumpang Melonjak Naik KAI Daop 1 Jakarta Gunakan 6,5 Juta Liter B50, Operasional KA Tetap Lancar

SENI BUDAYA

Sastra Semesta #16 Rayakan 7 Tahun, Komunitas Seni Didorong Jadi Penggerak Pemajuan Kebudayaan

badge-check


 Sastra Semesta #16 Rayakan 7 Tahun, Komunitas Seni Didorong Jadi Penggerak Pemajuan Kebudayaan Perbesar

Wartatrans.com, JAKARTA — Sastra Semesta kembali menggelar perhelatan ke-16 sekaligus memperingati tujuh tahun perjalanan komunitas tersebut dalam menghidupkan ekosistem sastra dan seni. Mengusung tema “Komunitas Seni sebagai Penggerak Pemajuan Kebudayaan”, acara ini mempertemukan penyair, seniman, budayawan, komunitas seni, dan pegiat kebudayaan dalam satu panggung.

Rangkaian kegiatan diawali musik pembukaan, kemudian dilanjutkan dengan sambutan pembawa acara dan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya yang dipandu Ritmanto Saleh.

Koordinator Sastra Semesta, Ireng Halimun, dalam sambutannya menegaskan pentingnya keberadaan komunitas seni sebagai ruang tumbuh bagi kreativitas sekaligus bagian dari gerakan kebudayaan di tengah masyarakat.

Sambutan berikutnya disampaikan Kepala PDS HB Jassin atau yang mewakili, sebelum panggung dilanjutkan dengan rangkaian pembacaan puisi oleh sejumlah penyair, di antaranya Ndari Soedibyo, Giyanto Subagio, Cikeu Bidadewi, Putra Gara, Riri Satria, Dedy Tri Riyadi, Sahaya Santayana, Diana Prima Resmana, Sihar Ramses Simatupang, dan Wahyu Toveng.

Tidak hanya menghadirkan puisi, Sastra Semesta #16 juga menyuguhkan pertunjukan seni tradisi melalui Lenong Mini Sanggar Ruang Condet dengan judul Melestarikan Budaya Betawi.

Pementasan tersebut disutradarai Beryl Gondrong, dengan pemain Kuntari sebagai Mpok Rodemah, Mpok Nunung sebagai Rogaya, Raisya sebagai Siti, Nyai Kantil sebagai Mpok Rumpi, Heru Meong sebagai Centeng Kodir, Zuki sebagai Centeng Udin, Beryl sebagai Babe Rojak, dan Baim sebagai Dodo.

Pertunjukan didukung operator musik Macboul dan videografi Way Aryadi, dengan Deacy Fatimah Dorra sebagai Dewan Penasihat serta Lurah Balekambang, Herman Triono, SE, sebagai Dewan Pembina.

Selain pembacaan puisi dan lenong, acara juga menghadirkan pembacaan monolog oleh Yogi Karmas, yang memperkaya ekspresi seni dalam perhelatan tersebut.

Komunitas sebagai Penggerak Kebudayaan

Bagian utama acara diisi diskusi bertema “Komunitas Seni sebagai Penggerak Pemajuan Kebudayaan”. Diskusi menghadirkan Noorca M Massardi dan Yusuf Susilo Hartono sebagai narasumber, dengan Ireng Halimun bertindak sebagai moderator.

Forum tersebut menjadi ruang untuk membahas posisi strategis komunitas seni dalam menjaga keberlanjutan kebudayaan, membangun ruang kreativitas, serta memperluas partisipasi masyarakat dalam kehidupan seni dan sastra.

Bagi Sastra Semesta, keberadaan komunitas bukan sekadar tempat berkumpulnya para pelaku seni. Komunitas juga dapat menjadi ruang regenerasi, pertukaran gagasan, sekaligus penggerak kebudayaan yang bekerja langsung di tengah masyarakat.

Setelah diskusi, acara dilanjutkan dengan pemberian sertifikat kepada para narasumber dan pengurus PDS HB Jassin.

Panggung kemudian kembali diisi pembacaan puisi dan musikalisasi puisi. Repoeblik WC Umum (Waroeng Canda untuk Muda-mudi) tampil membawakan musikalisasi puisi dengan personel B1M (dibaca B satu M), Wawan Gesek, dan Adi Beos.

Rangkaian Sastra Semesta #16 ditutup dengan pembacaan puisi oleh Sihar Ramses Simatupang dan Wahyu Toveng, sebelum acara secara resmi ditutup dan dilanjutkan dengan foto bersama.

Memasuki usia tujuh tahun, Sastra Semesta menunjukkan bahwa perjalanan komunitas seni tidak hanya diukur dari panjangnya usia, tetapi dari kemampuannya mempertahankan ruang kreatif, mempertemukan berbagai ekspresi seni, dan ikut menggerakkan kebudayaan.

Melalui perhelatan ke-16 ini, Sastra Semesta kembali menegaskan satu pesan: pemajuan kebudayaan tidak hanya lahir dari institusi, tetapi juga dari komunitas yang terus bergerak, berkarya, dan menjaga kebudayaan tetap hidup di tengah masyarakat.*** (Dulloh)

Baca Lainnya

Lobster Modeling Batam Tembus Pasar Ekspor, KKP Dorong Pengembangan Budi Daya Lobster

11 September 2026 - 08:35 WIB

AMIN ABDULLAH, Direktur Musik Kemenekraf Luncurkan Single “Biarkan Ada Ruang di Antara Kita” 

9 September 2026 - 21:06 WIB

Menelusuri Jejak Kereta Api Masa Lalu lewat KAI Explore Kedungjati–Tuntang

9 September 2026 - 13:54 WIB

FKSTIM Desak Transparansi Pemilihan DKJ, Wacana PTUN hingga Pembubaran AJ Mengemuka

8 September 2026 - 22:18 WIB

Kholbi Berani Dorong Expert Saat Casting Dhot Design The Movie, Dream Ticket Masih Lepas

8 September 2026 - 15:59 WIB

SANFFEST 2026 Kembali, Hadirkan Nilai Al-Qur’an untuk Menjawab Tantangan Zaman

8 September 2026 - 12:17 WIB

Satu Dekade IDPFEST, Amin Abdullah: Ekki Soekarno Berhasil Bikin Drum dan Perkusi Jadi Populer

7 September 2026 - 10:38 WIB

Dica Melo Curi Perhatian di Panggung Satu Dekade IDPFest, Madeena Tampil Patriotik

6 September 2026 - 13:01 WIB

Delisha Okta Mahasiswi di Jogya, Mendekati 1 Juta Streams dari Playlist di Spotify, Kini Rilis ‘Akhir Cerita’ Single Ke-19

6 September 2026 - 08:09 WIB

Ketika Puisi Menjadi Langit dan Bumi

5 September 2026 - 21:54 WIB

Trending di SENI BUDAYA