Menu

Mode Gelap
“Jakarta Kulminasi”, Lima Bola Besar Tandai Momentum 500 Tahun Jakarta Pemerintah Dorong Industri Baterai Nikel, MOLINAS Masuk Rantai Hilirisasi Film Black Coffee Angkat Perjuangan Tunanetra dan Budaya Gayo ke Layar Lebar ÇAKIR Masuk Indonesia, Turki Buka Jalan Produksi Rudal Jelajah Lokal KIP Dorong Keterbukaan Informasi Tak Sekadar Predikat Informatif Teken Kerja Sama, Pelindo & IKM Perkuat Arus Nikel Kendari

SENI BUDAYA

Film Black Coffee Angkat Perjuangan Tunanetra dan Budaya Gayo ke Layar Lebar

badge-check


 Film Black Coffee Angkat Perjuangan Tunanetra dan Budaya Gayo ke Layar Lebar Perbesar

Wartatrans.com, JAKARTA– Catatan dari diskusi film Drama dengan tema Trend dan Formula Film Drama Saat ini. Dengan menghadirkan narasumber, Ronny Mepet (sutradara), Joseph Tarigan (produser dan Jeremias Nyangoen (penulis dan sutradara) seharusnya mnjadi bahan diskusi yang menarik. Tapi lantaran moderatornya terlalu kagum dengan narasumber, sehingga alpa dengan tema yang diusung, sehingga Jeremias Nyangoen leluasa memaparkan film yang baru saja disutradarainya. Sehingga diskusi lebih banyak ngebahas soal film Black Coffee ketimbang membahas tema diskusi. Berikut catatan penulis dari hasil diskusi

Film Black Coffee karya sutradara dan penulis Jeremias Nyangoen menawarkan perspektif berbeda dalam mengangkat kehidupan penyandang tunanetra. Alih-alih mengeksploitasi keterbatasan dengan rasa iba, film ini menghadirkan tunanetra sebagai sosok mandiri yang memiliki pekerjaan, keluarga, cinta, serta harapan.

Hal tersebut disampaikan Jeremias Nyangoen dalam diskusi bertema “Trend dan Formula Film Drama Saat Ini” yang juga menghadirkan sutradara Ronny Mepet dan produser Joseph Tarigan. Dalam diskusi tersebut, Jeremias banyak memaparkan proses kreatif di balik Black Coffee yang mengambil latar kehidupan masyarakat Gayo di Aceh Tengah.

Bagi Jeremias, kopi menjadi pintu masuk untuk bercerita tentang kehidupan. Filosofi rasa pahit kopi dianggapnya memiliki kemiripan dengan perjalanan manusia yang tidak selalu mudah, tetapi tetap memiliki makna.

“Kalau orang di sana bilang, ada kopi ada cerita. Di situlah cerita bermula,” ujar Jeremias.

Black Coffee berkisah tentang pasangan suami istri tunanetra yang berjuang mendapatkan keturunan. Konflik rumah tangga tersebut kemudian berkembang menjadi drama keluarga yang memperlihatkan bahwa persoalan manusia sebenarnya bersifat universal.

“Persoalan di Gayo, di Jakarta, persoalan manusia sama,” katanya.

Selain kisah keluarga, budaya Gayo dan perkebunan kopi menjadi bagian penting dalam film. Keduanya tidak sekadar menjadi latar visual, tetapi turut membangun atmosfer dan karakter cerita.

Jeremias juga berusaha menghindari penggambaran penyandang tunanetra sebagai pihak yang selalu membutuhkan pertolongan. Ia terinspirasi dari penyandang tunanetra yang ditemuinya saat riset dan memiliki kehidupan mandiri, termasuk bekerja dan memetik kopi.

Reza Rahadian dan Ine Febriyanti Jalani Riset

Untuk menghidupkan karakter pasangan tunanetra, Jeremias menggandeng Reza Rahadian dan Ine Febriyanti. Keduanya menjalani proses latihan dan riset sebelum syuting, termasuk mempelajari karakter serta bahasa Gayo.

“Reza dan Ine pemain yang sangat bagus. Mereka berdua luar biasa disiplin dalam bekerja,” ungkap Jeremias.

Proses kreatif di lokasi syuting juga memberikan ruang bagi improvisasi. Salah satunya terjadi dalam adegan emosional yang dimainkan Reza Rahadian. Blocking yang semula sudah ditentukan dalam skenario berkembang setelah dilakukan diskusi di lokasi.

Bahkan, hujan dan angin kencang yang terjadi saat pengambilan gambar justru dimanfaatkan Jeremias untuk memperkuat adegan.

“Alam semesta ternyata mendukung kita dengan caranya,” ujarnya.

Tak Mengejar Tren Semata

Produser Joseph Tarigan mengatakan ketertarikannya memproduksi film dengan unsur budaya lokal karena ingin menghadirkan tontonan yang tidak hanya menghibur, tetapi juga membawa nilai kehidupan.

Sebelumnya, Joseph memproduksi Made in Bali yang memadukan kisah percintaan dengan budaya Bali dan Jepang. Baginya, film memiliki kekuatan untuk membentuk cara pandang masyarakat, khususnya generasi muda.

“Saya menginginkan film-film yang menginspirasi, membangun masyarakat kita untuk hal-hal yang baik, nilai-nilai universal yang harus dipegang dalam kehidupan sehari-hari,” tutur Joseph.

Ia pun tidak ingin menjadikan tren pasar sebagai satu-satunya pertimbangan dalam membuat film.

“Orang hidup itu ada dua, takut dan cinta. Saya lebih memilih menyebarkan cinta daripada menyebarkan ketakutan,” tegasnya.

Jeremias berharap Black Coffee dapat membuka ruang lebih luas bagi sineas Indonesia untuk mengangkat cerita dari berbagai daerah tanpa khawatir dianggap ketinggalan zaman.

Menurutnya, kekuatan sebuah film bukan hanya terletak pada lokasi atau budaya yang ditampilkan, tetapi pada persoalan manusia yang mampu menyentuh penonton.

Ide Black Coffee sendiri telah disiapkan Jeremias sejak 2013. Penulisan skenarionya berlangsung sekitar enam hingga tujuh bulan, sementara latihan para pemain dilakukan sekitar satu setengah bulan sebelum proses syuting.

Pada akhirnya, Jeremias berharap penonton tidak sekadar melihat kisah pasangan tunanetra, tetapi juga memahami bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk memiliki mimpi dan memperjuangkannya.

“Semua orang punya hati. Pasangan suami istri tunanetra pun sama. Harapan itu perlu perjuangan,” pungkasnya.*** (Byl)

Baca Lainnya

“Jakarta Kulminasi”, Lima Bola Besar Tandai Momentum 500 Tahun Jakarta

28 Agustus 2026 - 13:29 WIB

Tanta Ginting Tertantang Perankan Tan Malaka, Belajar Sejarah hingga Bangun Chemistry dengan Arswendy Bening Swara

27 Agustus 2026 - 20:22 WIB

PARFI ’56 Ingin Bangun Dana Abadi untuk Seniman

27 Agustus 2026 - 11:16 WIB

“Meradjoet Sendja” Hadirkan Orkestrasi Kebangsaan, Satukan Seni, Sejarah dan Kepedulian Sosial

26 Agustus 2026 - 17:14 WIB

7Dunia Seandainya Engkau Tahu Single Raih Ratusan Ribu Views YouTube, Kini Tembus Puluhan Ribu Stream Spotify

26 Agustus 2026 - 13:48 WIB

Lewat Panggung Seni, Guruh Sukarno Putra Ajak Masyarakat Peduli Anak Penyintas Kanker

25 Agustus 2026 - 13:31 WIB

Sandrinna Michelle Ungkap Serunya Bangun Chemistry di Sinetron *Seindah Masa Remaja

24 Agustus 2026 - 10:55 WIB

FIFGROUP Salurkan 1.200 Paket Sembako bagi Masyarakat Terdampak Gempa NTT

23 Agustus 2026 - 16:38 WIB

Guruh Sukarno Putra Galang Dana untuk Anak Penyintas Kanker Lewat “Untuk Indonesia”

22 Agustus 2026 - 08:36 WIB

Naga Kemuliaan di Tangan Tanah: Yoyo dan Rika Hidupkan Filosofi Borobudur melalui Lukisan Gerabah

21 Agustus 2026 - 21:32 WIB

Trending di SENI BUDAYA