Wartatrans.com, JAKARTA — Indonesia telah mengakuisisi rudal jelajah ÇAKIR dan sejumlah rudal lain dari Turki, sekaligus menyiapkan produksi rudal di dalam negeri melalui kerja sama dengan perusahaan pertahanan Turki, Roketsan. Langkah ini memperluas kerja sama pertahanan kedua negara dari pengadaan menuju penguatan kapasitas industri domestik.
Duta Besar RI untuk Turki Achmad Rizal Purnama mengatakan Indonesia tidak hanya memperoleh produk pertahanan Turki, tetapi juga menyiapkan basis produksi bersama di dalam negeri.

“Contohnya, kami telah memperoleh rudal ÇAKIR dan beberapa rudal lainnya,” kata Purnama, Rabu (26/8/2026), seperti dikutip media pertahanan Turki.
Kerja sama industri tersebut memiliki pijakan sejak 2025. Roketsan dan PT Republik Roketsan Indonesia menandatangani perjanjian pada Juli 2025 untuk mengembangkan kapasitas produksi rudal di Indonesia, termasuk ÇAKIR dan sejumlah sistem rudal lainnya.
ÇAKIR merupakan rudal jelajah multi-platform yang dapat digunakan dari berbagai wahana. Sistem ini dirancang untuk diluncurkan dari platform udara, laut, kendaraan taktis darat, hingga wahana tanpa awak, dengan jangkauan lebih dari 150 kilometer.
Portofolio rudal Indonesia dari Turki juga mencakup ATMACA. Pada Januari 2024, Indonesia memperoleh kontrak awal 45 rudal antikapal ATMACA beserta peluncur dan terminal pengguna.
Pengadaan tersebut berlangsung ketika pemerintah memperbesar dukungan anggaran pertahanan. Anggaran pertahanan 2026 ditetapkan sekitar Rp185 triliun, dengan alokasi Rp81,39 triliun untuk modernisasi alutsista, non-alutsista, dan sarana prasarana.
Besarnya belanja modernisasi itu kemudian berhadapan dengan kebutuhan untuk memastikan alutsista yang diperoleh dapat dioperasikan dan dipelihara secara efektif. Dalam kajiannya pada 12 Agustus 2026, peneliti S. Rajaratnam School of International Studies (RSIS) Iis Gindarsah menilai kemampuan tersebut tidak hanya bergantung pada pengadaan sistem persenjataan.
Iis mencatat anggaran pertahanan Indonesia meningkat dari US$7,50 miliar pada 2023 menjadi US$10,44 miliar yang disetujui untuk 2026. Menurut dia, kemampuan militer yang dibangun dari pengadaan baru akan menjadi kekuatan nyata jika ditopang jaringan komando dan kendali, latihan gabungan, pemeliharaan, serta pembiayaan.
Konteks kemandirian industri juga sejalan dengan arah kebijakan pertahanan pemerintah. Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin pada 19 Agustus 2026 mengatakan peningkatan kemampuan pemeliharaan alutsista di dalam negeri membuat Indonesia semakin dekat dengan kemandirian pertahanan.
Di ASEAN, Malaysia juga memperkuat persenjataannya melalui kerja sama dengan Roketsan. Kontrak ATMACA Malaysia pada April 2026 menunjukkan perusahaan pertahanan Turki itu semakin memperluas pasar rudalnya di kawasan.
Bagi Indonesia, kerja sama dengan Turki memiliki dimensi yang lebih luas karena tidak berhenti pada pembelian rudal. Pengalihan produksi ÇAKIR membuka peluang pembentukan kapasitas industri rudal domestik, sehingga belanja pertahanan dapat sekaligus memperkuat kemampuan produksi dan pemeliharaan di dalam negeri.*** (Artha Tidar)





























