Menu ✖

Mode Gelap
Ekspor Perikanan Maluku Tembus Rp700 Miliar, Serap 1.102 Tenaga Kerja KAI Angkut 191 Ribu Ton Barang Retail hingga September 2026, Dorong Efisiensi Logistik Kemenhub dan Kemenlu Fasilitasi Kepulangan 4 Awak Kapal Korban Pembajakan di Somalia Lima Tahun Bersatu, Terminal Teluk Lamong Terus Tumbuh dan Bertransformasi Bersama Pelindo B50 Jadi Program Utama KAI, Target Pangkas Emisi 133.676 Ton CO₂e Pelindo Regional 2 Dorong Generasi Muda Kenali Strategi dan Bisnis Kepelabuhanan

SENI BUDAYA

Naga Kemuliaan di Tangan Tanah: Yoyo dan Rika Hidupkan Filosofi Borobudur melalui Lukisan Gerabah

badge-check


 Naga Kemuliaan di Tangan Tanah: Yoyo dan Rika Hidupkan Filosofi Borobudur melalui Lukisan Gerabah Perbesar

Wartatrans.com, MAGELANG — Di tengah hamparan sawah yang mengelilingi kawasan Borobudur, tanah liat tidak hanya dibentuk menjadi gerabah, tetapi juga menjadi medium untuk merawat ingatan, filosofi, dan kearifan lokal. Hal itu tercermin dalam karya Yoyo dan Rika dari Omah Sawah Borobudur yang menghadirkan lukisan naga pada permukaan gerabah.

Karya tersebut mengangkat simbol naga dalam tradisi Buddhis, khususnya Mucalinda, Naga Raja yang dikenal dalam kisah kehidupan Buddha. Sosok naga digambarkan melengkung mengikuti lekuk vas dan wadah gerabah, dengan tujuh tudung yang menyerupai mahkota atau payung pelindung.

Bagi Yoyo dan Rika, gambaran tersebut bukan sekadar ornamen. Naga dimaknai sebagai simbol ketabahan, perlindungan, dan kesetiaan dalam menjaga perjalanan menuju kebaikan.

“Ia melengkung menjadi tangga, menjadi penopang, menjadi jalan. Bukan untuk dilangkahi semata, melainkan untuk dihayati: bahwa setiap langkah menuju cahaya senantiasa dilindungi.”

Selain Mucalinda, karya itu juga menghadirkan figur Nanda dan Upananda, dua raja naga yang dalam tradisi Buddhis berkaitan dengan air dan kehidupan. Keduanya divisualisasikan bersama aliran air yang mengalir dari langit menuju bumi.

Dalam karya tersebut, air menjadi simbol kehidupan, kesuburan, dan kemurnian. Makna itu terasa semakin kuat karena gerabah dibuat di lingkungan Omah Sawah Borobudur, sebuah ruang yang lekat dengan kehidupan pertanian dan hamparan persawahan.

Aliran air yang dilukiskan mengikuti lekuk wadah, sementara gambar padi yang menguning hadir sebagai simbol kehidupan dan kesejahteraan. Naga ditempatkan bukan sebagai sosok yang menakutkan, tetapi sebagai penjaga keseimbangan alam.

“Air yang mengalir tak pernah lupa asalnya; naga yang menjaga tak pernah lupa tugasnya. Dan tangan yang membentuk tanah liat ini tak pernah lupa dari mana ia lahir.”

Karya Yoyo dan Rika pada akhirnya mempertemukan tiga unsur penting: tanah, air, dan kehidupan. Tanah liat menjadi bahan dasar, air menjadi sumber kehidupan, sedangkan naga menjadi simbol penjaga dan pelindung.

Di tangan para perajin muda, simbol-simbol tersebut mendapatkan tafsir baru. Warna keemasan dan hijau yang digunakan mengingatkan pada tanah yang subur, hamparan padi, serta alam Borobudur yang menjadi bagian dari keseharian masyarakat.

Karena itu, gerabah tersebut tidak berhenti sebagai benda dekoratif. Ia menjadi sebuah karya yang membawa cerita tentang hubungan manusia dengan alam, tentang ketabahan dalam menjalani kehidupan, sekaligus tentang pentingnya merawat warisan budaya.

Yoyo dan Rika menempatkan proses berkarya sebagai bagian dari upaya menjaga hubungan antara generasi sekarang dengan nilai-nilai yang tumbuh di sekitar Borobudur.

“Dari tanah liat, kami bentuk naga — bukan untuk disembah, melainkan untuk diingat: bahwa kekuatan terbesar bukanlah yang menguasai, melainkan yang melindungi, memberi, dan menyatu dengan kehidupan.”

Melalui gerabah, Omah Sawah Borobudur menunjukkan bahwa warisan budaya tidak selalu harus hadir dalam bentuk bangunan monumental. Ia juga dapat hidup dalam benda-benda sederhana yang lahir dari tanah, dibentuk dengan tangan, kemudian diberi makna oleh generasi yang terus berkarya.

Di antara sawah, tanah liat, dan kehidupan masyarakat Borobudur, naga pun kembali hadir—bukan sebagai makhluk yang menakutkan, melainkan sebagai simbol perlindungan, air, kesuburan, dan perjalanan manusia menuju kehidupan yang lebih harmonis.*** (Priyo)

Baca Lainnya

Zulfikar Kirbi, Seni Harus Terus Mengalir, Jangan Sampai Berhenti

7 Oktober 2026 - 18:40 WIB

Aceh International Collaborative Art Exhibition 2026 Hadirkan Semangat Persahabatan Lintas Negara di USK

7 Oktober 2026 - 12:38 WIB

118 Bus Shuttle DAMRI Siap Layani Mobilitas Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026

6 Oktober 2026 - 05:31 WIB

Kehadiran MotoGP Mandalika 2026 Perluas Jaringan Transportasi Lombok

6 Oktober 2026 - 05:04 WIB

Sembilan Tahun Ruang Baca, Doa untuk Negeri Mengiringi Perayaan

5 Oktober 2026 - 21:37 WIB

Komunitas Ruang Baca Rayakan HUT ke-9 Lewat Galeri Esai di Warung Kopi

5 Oktober 2026 - 20:34 WIB

Aceh Tengah Bersama Kodim 0106 Raih Juara Stand Terbaik Indonesia Fest 2026

5 Oktober 2026 - 19:51 WIB

Wahyu Zein, Penyany Sekaligus Komposer Rilis EP dan Sukses Tembus 8 Ribuan Montly Listeners di Spotify

5 Oktober 2026 - 08:25 WIB

Aceh International Collaborative Art Exhibition 2026 Digelar di USK, Hadirkan Seniman dari Berbagai Negara

5 Oktober 2026 - 08:13 WIB

Tanjung Lesung Kini Terhubung Dengan Bandara Soekarno-Hatta Melalui Layanan DAMRI

4 Oktober 2026 - 17:52 WIB

Trending di JALUR