Menu

Mode Gelap
Ramaikan GBK, Penonton Pertandingan Persija-Persib Tembus 58.961 Aceh Coffee Day Rayakan Dua Tahun Hari Kopi Aceh Dihelat 15 September 2026 Bidik Ekosistem Umrah Terintegrasi, JARDY Travel Gandeng BPRS Harum Hikmahnugraha Gubernur Jateng Ahmad Luthfi Buka Akses Masyarakat Saksikan Langsung MTQ Nasional XXXI di Semarang KAI Daop 4 Semarang Siap Layani Mobilitas Masyarakat pada MTQ Nasional XXXI, Penumpang Melonjak Naik KAI Daop 1 Jakarta Gunakan 6,5 Juta Liter B50, Operasional KA Tetap Lancar

SENI BUDAYA

Naga Kemuliaan di Tangan Tanah: Yoyo dan Rika Hidupkan Filosofi Borobudur melalui Lukisan Gerabah

badge-check


 Naga Kemuliaan di Tangan Tanah: Yoyo dan Rika Hidupkan Filosofi Borobudur melalui Lukisan Gerabah Perbesar

Wartatrans.com, MAGELANG — Di tengah hamparan sawah yang mengelilingi kawasan Borobudur, tanah liat tidak hanya dibentuk menjadi gerabah, tetapi juga menjadi medium untuk merawat ingatan, filosofi, dan kearifan lokal. Hal itu tercermin dalam karya Yoyo dan Rika dari Omah Sawah Borobudur yang menghadirkan lukisan naga pada permukaan gerabah.

Karya tersebut mengangkat simbol naga dalam tradisi Buddhis, khususnya Mucalinda, Naga Raja yang dikenal dalam kisah kehidupan Buddha. Sosok naga digambarkan melengkung mengikuti lekuk vas dan wadah gerabah, dengan tujuh tudung yang menyerupai mahkota atau payung pelindung.

Bagi Yoyo dan Rika, gambaran tersebut bukan sekadar ornamen. Naga dimaknai sebagai simbol ketabahan, perlindungan, dan kesetiaan dalam menjaga perjalanan menuju kebaikan.

“Ia melengkung menjadi tangga, menjadi penopang, menjadi jalan. Bukan untuk dilangkahi semata, melainkan untuk dihayati: bahwa setiap langkah menuju cahaya senantiasa dilindungi.”

Selain Mucalinda, karya itu juga menghadirkan figur Nanda dan Upananda, dua raja naga yang dalam tradisi Buddhis berkaitan dengan air dan kehidupan. Keduanya divisualisasikan bersama aliran air yang mengalir dari langit menuju bumi.

Dalam karya tersebut, air menjadi simbol kehidupan, kesuburan, dan kemurnian. Makna itu terasa semakin kuat karena gerabah dibuat di lingkungan Omah Sawah Borobudur, sebuah ruang yang lekat dengan kehidupan pertanian dan hamparan persawahan.

Aliran air yang dilukiskan mengikuti lekuk wadah, sementara gambar padi yang menguning hadir sebagai simbol kehidupan dan kesejahteraan. Naga ditempatkan bukan sebagai sosok yang menakutkan, tetapi sebagai penjaga keseimbangan alam.

“Air yang mengalir tak pernah lupa asalnya; naga yang menjaga tak pernah lupa tugasnya. Dan tangan yang membentuk tanah liat ini tak pernah lupa dari mana ia lahir.”

Karya Yoyo dan Rika pada akhirnya mempertemukan tiga unsur penting: tanah, air, dan kehidupan. Tanah liat menjadi bahan dasar, air menjadi sumber kehidupan, sedangkan naga menjadi simbol penjaga dan pelindung.

Di tangan para perajin muda, simbol-simbol tersebut mendapatkan tafsir baru. Warna keemasan dan hijau yang digunakan mengingatkan pada tanah yang subur, hamparan padi, serta alam Borobudur yang menjadi bagian dari keseharian masyarakat.

Karena itu, gerabah tersebut tidak berhenti sebagai benda dekoratif. Ia menjadi sebuah karya yang membawa cerita tentang hubungan manusia dengan alam, tentang ketabahan dalam menjalani kehidupan, sekaligus tentang pentingnya merawat warisan budaya.

Yoyo dan Rika menempatkan proses berkarya sebagai bagian dari upaya menjaga hubungan antara generasi sekarang dengan nilai-nilai yang tumbuh di sekitar Borobudur.

“Dari tanah liat, kami bentuk naga — bukan untuk disembah, melainkan untuk diingat: bahwa kekuatan terbesar bukanlah yang menguasai, melainkan yang melindungi, memberi, dan menyatu dengan kehidupan.”

Melalui gerabah, Omah Sawah Borobudur menunjukkan bahwa warisan budaya tidak selalu harus hadir dalam bentuk bangunan monumental. Ia juga dapat hidup dalam benda-benda sederhana yang lahir dari tanah, dibentuk dengan tangan, kemudian diberi makna oleh generasi yang terus berkarya.

Di antara sawah, tanah liat, dan kehidupan masyarakat Borobudur, naga pun kembali hadir—bukan sebagai makhluk yang menakutkan, melainkan sebagai simbol perlindungan, air, kesuburan, dan perjalanan manusia menuju kehidupan yang lebih harmonis.*** (Priyo)

Baca Lainnya

Jelang MotoGP Mandalika 2026: Ada 27 Penerbangan Tambahan ke Lombok

12 September 2026 - 08:44 WIB

Lawang Sewu Tarik 376 Ribu Pengunjung hingga Agustus 2026, Sejarah Kereta Api Jadi Daya Tarik

11 September 2026 - 21:59 WIB

Lobster Modeling Batam Tembus Pasar Ekspor, KKP Dorong Pengembangan Budi Daya Lobster

11 September 2026 - 08:35 WIB

AMIN ABDULLAH, Direktur Musik Kemenekraf Luncurkan Single “Biarkan Ada Ruang di Antara Kita” 

9 September 2026 - 21:06 WIB

Menelusuri Jejak Kereta Api Masa Lalu lewat KAI Explore Kedungjati–Tuntang

9 September 2026 - 13:54 WIB

FKSTIM Desak Transparansi Pemilihan DKJ, Wacana PTUN hingga Pembubaran AJ Mengemuka

8 September 2026 - 22:18 WIB

Kholbi Berani Dorong Expert Saat Casting Dhot Design The Movie, Dream Ticket Masih Lepas

8 September 2026 - 15:59 WIB

SANFFEST 2026 Kembali, Hadirkan Nilai Al-Qur’an untuk Menjawab Tantangan Zaman

8 September 2026 - 12:17 WIB

DAMRI Kembali Hadirkan Promo, Ada Diskon 20% Spesial Twin Date 9.9

7 September 2026 - 22:16 WIB

Satu Dekade IDPFEST, Amin Abdullah: Ekki Soekarno Berhasil Bikin Drum dan Perkusi Jadi Populer

7 September 2026 - 10:38 WIB

Trending di SENI BUDAYA