Wartatrans.com, BANDA ACEH – Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh menjadi ruang perjumpaan para seniman dari berbagai negara dalam Aceh International Collaborative Art Exhibition 2026 bertajuk “Cultural Nuances”.
Pameran seni internasional tersebut berlangsung 5–10 Oktober 2026 di Gedung AAC Dayan Dawood, Universitas Syiah Kuala (USK), Banda Aceh.
Kegiatan ini mempertemukan seniman dari berbagai negara, di antaranya Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunei, Thailand, Filipina, Jepang, India, Pakistan, Sri Lanka, China, Myanmar, Tajikistan, dan Prancis. Selain itu, turut hadir seniman dari sejumlah daerah di Indonesia, seperti Aceh, Papua Selatan, Kalimantan Timur dan Sumatera Barat.
Pembukaan pameran diawali dengan lantunan ayat suci Al-Qur’an, kemudian dilanjutkan dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Suasana pembukaan semakin kental dengan nuansa budaya Aceh melalui pertunjukan tarian Aceh.
Rangkaian pembukaan tersebut menjadi simbol bahwa seni dan kebudayaan dapat menjadi jembatan untuk mempertemukan manusia dari berbagai latar belakang.
Tema “Cultural Nuances” sendiri mengangkat keberagaman nuansa budaya yang dituangkan para seniman melalui karya masing-masing. Perbedaan bahasa, tradisi, sejarah dan latar belakang tidak menjadi penghalang, tetapi justru menjadi sumber inspirasi dalam menciptakan karya seni.
Sejumlah seniman internasional turut ambil bagian dalam pameran ini, termasuk seniman dari Jepang, Singapura, Malaysia, Thailand, Filipina, India, Pakistan, Sri Lanka, China, Myanmar, Tajikistan, Prancis dan Brunei.
Dari Aceh, sejumlah seniman juga tampil dalam ajang tersebut. Salah satunya Kamaruzzaman dari Aceh Tengah, yang ikut membawa warna seni dari dataran tinggi Gayo ke dalam perhelatan seni internasional tersebut.
Pameran ini tidak hanya menjadi ruang untuk memamerkan karya, tetapi juga menjadi kesempatan bagi para seniman untuk saling mengenal, bertukar gagasan dan memperkenalkan kekayaan budaya masing-masing kepada dunia internasional.
Seni, dalam konteks ini, hadir sebagai bahasa universal. Sebuah garis, warna, bentuk dan tekstur dapat menyampaikan pengalaman serta identitas budaya tanpa harus dibatasi oleh perbedaan bahasa.
Melalui Aceh International Collaborative Art Exhibition 2026, Banda Aceh kembali menunjukkan bahwa Aceh tidak hanya memiliki kekayaan sejarah dan budaya, tetapi juga memiliki ruang yang terbuka bagi dialog seni dan kebudayaan dunia.
“Cultural Nuances” pada akhirnya bukan sekadar pameran lukisan, melainkan sebuah perjumpaan budaya—tempat berbagai identitas bertemu, berdialog dan membangun persahabatan melalui seni.*** (Kamaruzzaman)


























