Wartatrans.com, JAKARTA — Semangat mencintai Indonesia diwujudkan melalui panggung seni dalam pertunjukan “Meradjoet Sendja – Persembahan Cinta Untuk Republik” yang digelar di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ), Rabu (26/8/2026).
Pertunjukan tersebut menjadi bagian dari program Bakti Seniman Nusantara – Social Funds of Art & Culture, yang memadukan seni pertunjukan, sejarah, musik, serta kepedulian sosial dalam satu panggung.

“Meradjoet Sendja” merupakan kolaborasi Persatuan Artis Film Indonesia (PARFI ’56), Keana Production, dan Dompet Dhuafa, dengan Olivia Zalianty dipercaya sebagai produser sekaligus sutradara.
Bukan sekadar pertunjukan hiburan, pementasan ini membawa misi sosial. Seluruh hasil penjualan tiket didonasikan untuk mendukung kegiatan sosial bagi seniman senior dan kaum dhuafa melalui program Social Funds.
Olivia mengatakan, penggunaan ejaan lama pada kata “Meradjoet” dan “Sendja” memiliki makna khusus. “Meradjoet” menggambarkan upaya menyambungkan kembali benang-benang pemikiran yang mungkin telah terpisah. Sementara “Sendja” dimaknai sebagai fase penghujung kehidupan sekaligus jembatan menuju hari yang baru.
“Merajut Sendja bukan tentang berakhirnya sebuah zaman, melainkan tentang merajut kembali warisan sebuah generasi agar tetap hidup dalam perjalanan Republik,” ujar Olivia.

Menurut dia, pertunjukan tersebut merupakan panggilan untuk menghidupkan kembali nilai-nilai perjuangan para pendiri bangsa dan para seniman agar tetap relevan bagi generasi sekarang dan masa depan.
Sejarah Dihidupkan di Atas Panggung
“Meradjoet Sendja” dikemas dalam empat babak yang mengajak penonton menelusuri berbagai gagasan dan peristiwa penting dalam perjalanan sejarah Indonesia.
Sejumlah kisah yang diangkat antara lain dialog Soekarno-Hatta dalam “Fajar Nusantara”, masa pembuangan yang melahirkan perenungan tentang Pancasila, monolog keberanian Siti Soendari, hingga “Pertemuan Satu Malam”, yang menghadirkan dialog imajiner antara Soekarno dan Tan Malaka.
Pementasan ini melibatkan aktor dan penyanyi dari berbagai generasi. Arswendy Bening Swara memerankan Bung Karno, Tanta Ginting sebagai Tan Malaka, Lutfi Ardiansyah sebagai Sutan Sjahrir, dan Edopaha sebagai Muhammad Hatta.
Panggung juga dimeriahkan penampilan Isyana Sarasvati, Fryda Lucyana, Dira Sugandi, Jane Callista, Shanna Shannon, dan Ridho Rokhanah.
Nuansa kebangsaan semakin kuat pada bagian finale melalui lagu “Pancasila” yang melibatkan sekitar 200 anggota paduan suara dan 500 pelajar.
Kehadiran ratusan pelajar tersebut menjadi simbol estafet nilai-nilai kebangsaan dari generasi terdahulu kepada generasi muda.
Arswendy Bening Swara mengatakan, memerankan Bung Karno bukan sekadar menghadirkan kemiripan fisik, melainkan menyampaikan gagasan dan pemikiran tokoh proklamator tersebut.
“Sebetulnya kita tidak mementaskan fisiognomi Sukarno, tapi kita mementaskan pemikiran. Pertemuan antara Tan Malaka dan Sukarno ini jarang diketahui orang dan masih menjadi tanda tanya besar. Ini adalah pengingat bahwa kita tidak boleh melupakan sejarah,” kata Arswendy, yang juga merupakan Dewan Pertimbangan PARFI ’56.
PARFI ’56 Dorong Seniman Terus Berkarya
“Meradjoet Sendja” sekaligus memperkuat kiprah Keana Production dalam menghadirkan karya yang mengangkat sejarah, kepahlawanan, dan nasionalisme.
Rumah produksi yang didirikan Marcella Zalianty tersebut sebelumnya telah memproduksi sejumlah pertunjukan bertema kepahlawanan, di antaranya teater Malahayati, Kongres Perempuan, serta Monoplay Melati Pertiwi yang mengangkat kisah sejumlah pahlawan perempuan Indonesia.

Marcella Zalianty, yang juga menjabat Ketua Umum PARFI ’56 sekaligus Produser Eksekutif “Meradjoet Sendja”, mengatakan pementasan tersebut sejalan dengan semangat Bakti Seniman Nusantara.
“PARFI ’56 hadir bukan hanya sebagai pendukung, tetapi sebagai penggerak utama untuk memastikan bahwa seniman dan pekerja film, baik yang senior maupun yang muda, memiliki ruang untuk berkarya dan dihormati,” ujar Marcella.
Menurutnya, semangat kebangsaan harus menjadi ruang bersama bagi seluruh pelaku seni dan perfilman Indonesia.
Seni sebagai Jalan Pemberdayaan
Kolaborasi PARFI ’56 dan Dompet Dhuafa telah berlangsung sejak penandatanganan Nota Kesepahaman pada Desember 2024.
Dewan Pembina Yayasan Dompet Dhuafa Republika, Yudi Latif PhD, melihat kolaborasi tersebut sebagai pertemuan antara gerakan pemberdayaan dan kekuatan kebudayaan.
“Gerakan-gerakan pemberdayaan Dompet Dhuafa ke depan akan lebih diperkuat dengan pendekatan-pendekatan kultural. Pendekatan kultural atas kemanusiaan akan lebih tersentuh dengan daya estetik, dengan daya yang kreatif, yang lebih menggugah martabat kemanusiaan,” tutur Yudi.
Yudi juga turut memberikan supervisi terhadap naskah “Meradjoet Sendja”.
Pertunjukan tersebut mendapat dukungan dari Kementerian Kebudayaan RI. Perpaduan sejarah, musik, seni pertunjukan, dan aksi sosial diharapkan menjadikan “Meradjoet Sendja” lebih dari sekadar pementasan.
Panggung tersebut sekaligus menjadi ruang refleksi tentang perjalanan bangsa, penghormatan terhadap para pendahulu, serta ajakan untuk meneruskan nilai-nilai kebangsaan melalui karya dan kepedulian sosial.
Dengan demikian, cinta kepada Indonesia tidak berhenti pada kata-kata, tetapi diwujudkan melalui seni, ingatan sejarah, pemberdayaan, dan keberpihakan kepada sesama.*** (Byl)






























