Menu

Mode Gelap
Semarak Kemerdekaan, Warga Griya Serpong Adu Kekompakan di Masak Gesss Episode 324 “Meradjoet Sendja” Hadirkan Orkestrasi Kebangsaan, Satukan Seni, Sejarah dan Kepedulian Sosial Pemprov Jateng Antisipasi Banyak Warganya Yang Ingin Menggeruduk Gedung DPR RI Haji Fikri Serap Aspirasi Warga Ciomas, Soroti Banjir, Longsor, dan Kerusakan Infrastruktur KAI Services Perkuat Kemitraan Strategis melalui Mitra Gathering 2026 7Dunia Seandainya Engkau Tahu Single Raih Ratusan Ribu Views YouTube, Kini Tembus Puluhan Ribu Stream Spotify

SENI BUDAYA

“Meradjoet Sendja” Hadirkan Orkestrasi Kebangsaan, Satukan Seni, Sejarah dan Kepedulian Sosial

badge-check


 “Meradjoet Sendja” Hadirkan Orkestrasi Kebangsaan, Satukan Seni, Sejarah dan Kepedulian Sosial Perbesar

Wartatrans.com, JAKARTA — Semangat mencintai Indonesia diwujudkan melalui panggung seni dalam pertunjukan “Meradjoet Sendja – Persembahan Cinta Untuk Republik” yang digelar di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ), Rabu (26/8/2026).

Pertunjukan tersebut menjadi bagian dari program Bakti Seniman Nusantara – Social Funds of Art & Culture, yang memadukan seni pertunjukan, sejarah, musik, serta kepedulian sosial dalam satu panggung.

“Meradjoet Sendja” merupakan kolaborasi Persatuan Artis Film Indonesia (PARFI ’56), Keana Production, dan Dompet Dhuafa, dengan Olivia Zalianty dipercaya sebagai produser sekaligus sutradara.

Bukan sekadar pertunjukan hiburan, pementasan ini membawa misi sosial. Seluruh hasil penjualan tiket didonasikan untuk mendukung kegiatan sosial bagi seniman senior dan kaum dhuafa melalui program Social Funds.

Olivia mengatakan, penggunaan ejaan lama pada kata “Meradjoet” dan “Sendja” memiliki makna khusus. “Meradjoet” menggambarkan upaya menyambungkan kembali benang-benang pemikiran yang mungkin telah terpisah. Sementara “Sendja” dimaknai sebagai fase penghujung kehidupan sekaligus jembatan menuju hari yang baru.

“Merajut Sendja bukan tentang berakhirnya sebuah zaman, melainkan tentang merajut kembali warisan sebuah generasi agar tetap hidup dalam perjalanan Republik,” ujar Olivia.

Menurut dia, pertunjukan tersebut merupakan panggilan untuk menghidupkan kembali nilai-nilai perjuangan para pendiri bangsa dan para seniman agar tetap relevan bagi generasi sekarang dan masa depan.

Sejarah Dihidupkan di Atas Panggung

“Meradjoet Sendja” dikemas dalam empat babak yang mengajak penonton menelusuri berbagai gagasan dan peristiwa penting dalam perjalanan sejarah Indonesia.

Sejumlah kisah yang diangkat antara lain dialog Soekarno-Hatta dalam “Fajar Nusantara”, masa pembuangan yang melahirkan perenungan tentang Pancasila, monolog keberanian Siti Soendari, hingga “Pertemuan Satu Malam”, yang menghadirkan dialog imajiner antara Soekarno dan Tan Malaka.

Pementasan ini melibatkan aktor dan penyanyi dari berbagai generasi. Arswendy Bening Swara memerankan Bung Karno, Tanta Ginting sebagai Tan Malaka, Lutfi Ardiansyah sebagai Sutan Sjahrir, dan Edopaha sebagai Muhammad Hatta.

Panggung juga dimeriahkan penampilan Isyana Sarasvati, Fryda Lucyana, Dira Sugandi, Jane Callista, Shanna Shannon, dan Ridho Rokhanah.

Nuansa kebangsaan semakin kuat pada bagian finale melalui lagu “Pancasila” yang melibatkan sekitar 200 anggota paduan suara dan 500 pelajar.

Kehadiran ratusan pelajar tersebut menjadi simbol estafet nilai-nilai kebangsaan dari generasi terdahulu kepada generasi muda.

Arswendy Bening Swara mengatakan, memerankan Bung Karno bukan sekadar menghadirkan kemiripan fisik, melainkan menyampaikan gagasan dan pemikiran tokoh proklamator tersebut.

“Sebetulnya kita tidak mementaskan fisiognomi Sukarno, tapi kita mementaskan pemikiran. Pertemuan antara Tan Malaka dan Sukarno ini jarang diketahui orang dan masih menjadi tanda tanya besar. Ini adalah pengingat bahwa kita tidak boleh melupakan sejarah,” kata Arswendy, yang juga merupakan Dewan Pertimbangan PARFI ’56.

PARFI ’56 Dorong Seniman Terus Berkarya

“Meradjoet Sendja” sekaligus memperkuat kiprah Keana Production dalam menghadirkan karya yang mengangkat sejarah, kepahlawanan, dan nasionalisme.

Rumah produksi yang didirikan Marcella Zalianty tersebut sebelumnya telah memproduksi sejumlah pertunjukan bertema kepahlawanan, di antaranya teater Malahayati, Kongres Perempuan, serta Monoplay Melati Pertiwi yang mengangkat kisah sejumlah pahlawan perempuan Indonesia.

Marcella Zalianty, yang juga menjabat Ketua Umum PARFI ’56 sekaligus Produser Eksekutif “Meradjoet Sendja”, mengatakan pementasan tersebut sejalan dengan semangat Bakti Seniman Nusantara.

“PARFI ’56 hadir bukan hanya sebagai pendukung, tetapi sebagai penggerak utama untuk memastikan bahwa seniman dan pekerja film, baik yang senior maupun yang muda, memiliki ruang untuk berkarya dan dihormati,” ujar Marcella.

Menurutnya, semangat kebangsaan harus menjadi ruang bersama bagi seluruh pelaku seni dan perfilman Indonesia.

Seni sebagai Jalan Pemberdayaan

Kolaborasi PARFI ’56 dan Dompet Dhuafa telah berlangsung sejak penandatanganan Nota Kesepahaman pada Desember 2024.

Dewan Pembina Yayasan Dompet Dhuafa Republika, Yudi Latif PhD, melihat kolaborasi tersebut sebagai pertemuan antara gerakan pemberdayaan dan kekuatan kebudayaan.

“Gerakan-gerakan pemberdayaan Dompet Dhuafa ke depan akan lebih diperkuat dengan pendekatan-pendekatan kultural. Pendekatan kultural atas kemanusiaan akan lebih tersentuh dengan daya estetik, dengan daya yang kreatif, yang lebih menggugah martabat kemanusiaan,” tutur Yudi.

Yudi juga turut memberikan supervisi terhadap naskah “Meradjoet Sendja”.

Pertunjukan tersebut mendapat dukungan dari Kementerian Kebudayaan RI. Perpaduan sejarah, musik, seni pertunjukan, dan aksi sosial diharapkan menjadikan “Meradjoet Sendja” lebih dari sekadar pementasan.

Panggung tersebut sekaligus menjadi ruang refleksi tentang perjalanan bangsa, penghormatan terhadap para pendahulu, serta ajakan untuk meneruskan nilai-nilai kebangsaan melalui karya dan kepedulian sosial.

Dengan demikian, cinta kepada Indonesia tidak berhenti pada kata-kata, tetapi diwujudkan melalui seni, ingatan sejarah, pemberdayaan, dan keberpihakan kepada sesama.*** (Byl)

Baca Lainnya

7Dunia Seandainya Engkau Tahu Single Raih Ratusan Ribu Views YouTube, Kini Tembus Puluhan Ribu Stream Spotify

26 Agustus 2026 - 13:48 WIB

Lewat Panggung Seni, Guruh Sukarno Putra Ajak Masyarakat Peduli Anak Penyintas Kanker

25 Agustus 2026 - 13:31 WIB

Sandrinna Michelle Ungkap Serunya Bangun Chemistry di Sinetron *Seindah Masa Remaja

24 Agustus 2026 - 10:55 WIB

FIFGROUP Salurkan 1.200 Paket Sembako bagi Masyarakat Terdampak Gempa NTT

23 Agustus 2026 - 16:38 WIB

Guruh Sukarno Putra Galang Dana untuk Anak Penyintas Kanker Lewat “Untuk Indonesia”

22 Agustus 2026 - 08:36 WIB

Naga Kemuliaan di Tangan Tanah: Yoyo dan Rika Hidupkan Filosofi Borobudur melalui Lukisan Gerabah

21 Agustus 2026 - 21:32 WIB

Bumi Atsanti, Ruang Harmoni dan Kearifan Lokal Tumbuh di Tengah Sawah Borobudur

21 Agustus 2026 - 21:27 WIB

Ketua BFLF Dampingi Putri Pariwisata Aceh 2026 Raih Dukungan Forkopimda Lhokseumawe

21 Agustus 2026 - 16:02 WIB

SBY Art Community Menggelar Pameran Lukisan, Dibuka Gubernur Pramono Anung

20 Agustus 2026 - 07:25 WIB

Perayaan Hari Didong Didorong Miliki Landasan Perda

19 Agustus 2026 - 13:17 WIB

Trending di RAGAM