Menu

Mode Gelap
Subsidi BBM Bocor, Ekonomi Rakyat Boncos Tionghoa Indonesia dan Buku: Merawat Jejak Sejarah, Sastra, dan Budaya Idang Meulapeh Warnai Maulid Nabi di Jakarta, Tradisi Nagan yang Pernah Raih Rekor Dunia Haji Fikri: Pengawasan Pemerintahan Adalah Kewajiban Wakil Rakyat, Pejabat Diminta Jangan Korupsi FIFGROUP Perluas Manfaat Kampung Sehat melalui Sanitasi Layak dan Pencegahan Stunting KPK Ungkap Fakta Baru Kasus Unsoed, Ali Rokhman Ditunjuk Jadi Plt Rektor

RAGAM

Tionghoa Indonesia dan Buku: Merawat Jejak Sejarah, Sastra, dan Budaya

badge-check


 Tionghoa Indonesia dan Buku: Merawat Jejak Sejarah, Sastra, dan Budaya Perbesar

Wartatrans.com, JAKARTA — Sejarah Indonesia tidak hanya dibangun melalui catatan politik dan pemerintahan, tetapi juga melalui karya-karya intelektual yang merekam kehidupan masyarakat dari berbagai latar budaya. Salah satu kekayaan tersebut hadir melalui karya para penulis Tionghoa Peranakan Indonesia yang secara konsisten menulis tentang sejarah, sastra, kebudayaan, serta dinamika sosial masyarakat Tionghoa di Nusantara.

Dalam sebuah tulisan berjudul “Tionghoa Indonesia dan Buku Jejak Sosial Politiknya”, Chairil Gibran Ramadhan menyoroti pentingnya karya-karya tersebut sebagai bagian dari khazanah intelektual Indonesia.

Ia menyebut sejumlah nama yang telah memberikan kontribusi penting, antara lain Liem Thian Joe, Nio Joe Lan, Lie Kim Hok, Kwee Tek Hoay, Ong Hok Ham, Mona Lohanda, Myra Sidharta, Melly G. Tan, Wilson Tjandinegara, Leo Suryadinata, Prof. Dr. Melani Budianta, David Kwa, dan sejumlah penulis lainnya.

Menurut Chairil, kehadiran para penulis tersebut memperkaya cara masyarakat Indonesia memahami sejarah dan kebudayaan. Karya mereka tidak semata-mata berbicara mengenai komunitas Tionghoa Peranakan, tetapi juga menjadi bagian dari mozaik besar perjalanan Indonesia.

“Para peminat sejarah, sastra, dan budaya, para perawat sejarah, sastra, dan budaya, dan para penggerak dunia intelektual di Indonesia, sudah selayaknya bersyukur atas hadirnya” para penulis tersebut, tulis Chairil.

Penerbit sebagai Penjaga Ingatan

Kontribusi terhadap penguatan literasi sejarah dan budaya juga tidak terlepas dari peran penerbit. Chairil menyebut sejumlah penerbit yang selama bertahun-tahun memberi ruang bagi karya-karya sejarah, sastra, dan kebudayaan, di antaranya Kompas, Gramedia, Yayasan Obor Indonesia, Djambatan, Grafiti Press, Komunitas Bambu, Padasan, serta penerbit lainnya.

Menurut dia, penerbitan buku memiliki arti penting karena memungkinkan gagasan dan pengalaman manusia terdokumentasi secara lebih panjang. Buku menjadi ruang pertemuan antara penulis, pembaca, peneliti, dan generasi berikutnya.

Melalui penerbitan dan penyebarluasan buku, berbagai pengalaman sejarah yang sebelumnya mungkin hanya hidup dalam ingatan masyarakat dapat diolah menjadi pengetahuan yang dapat dipelajari secara lebih luas.

Gagasan tersebut sejalan dengan ungkapan Latin scripta manent, verba volant – yang tertulis akan tetap tinggal, sementara yang terucap akan berlalu.

Bagi Chairil, buku dengan demikian bukan sekadar benda atau produk penerbitan. Buku merupakan salah satu bentuk investasi kebudayaan dan intelektual yang dapat meninggalkan jejak lintas generasi.

Identitas dan Keindonesiaan

Karya-karya tentang Tionghoa Peranakan juga memperlihatkan bahwa identitas budaya merupakan bagian penting dari perjalanan bangsa Indonesia. Sejarah Tionghoa di Nusantara telah berlangsung panjang dan berkelindan dengan perkembangan kota, perdagangan, pendidikan, kesenian, pers, sastra, serta kehidupan sosial masyarakat.

Karena itu, dokumentasi mengenai pengalaman Tionghoa Indonesia penting ditempatkan dalam kerangka sejarah Indonesia secara keseluruhan.

Penulisan mengenai identitas Tionghoa tidak harus dipandang sebagai upaya memisahkan diri dari identitas kebangsaan. Sebaliknya, semakin banyak pengalaman kelompok masyarakat yang terdokumentasi, semakin lengkap pula gambaran mengenai Indonesia sebagai bangsa yang memiliki keragaman sejarah dan kebudayaan.

Dalam konteks tersebut, buku dapat menjadi jembatan dialog antargenerasi dan antarkelompok masyarakat.

Membaca sebagai Investasi Kebudayaan

Chairil juga mengajak masyarakat untuk memberikan perhatian lebih besar terhadap buku dan karya intelektual. Dukungan terhadap buku, menurutnya, merupakan salah satu cara sederhana untuk menjaga keberlangsungan tradisi berpikir, menulis, membaca, dan mendokumentasikan sejarah.

Kehadiran sebuah buku memungkinkan gagasan seorang penulis menjangkau pembaca yang jauh lebih luas, bahkan melampaui zaman ketika buku itu diterbitkan.

Semangat tersebut pada akhirnya bukan hanya mengenai bagaimana masyarakat mengenal sejarah Tionghoa Peranakan, tetapi juga bagaimana bangsa Indonesia merawat seluruh jejak kebudayaannya.

Sebab, setiap komunitas memiliki pengalaman yang ikut membentuk perjalanan Indonesia. Ketika pengalaman itu ditulis, diterbitkan, dibaca, dan dikaji, maka lahirlah warisan pengetahuan yang dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.

Chairil menutup refleksinya dengan sebuah pesan tentang pentingnya memberi ruang bagi buku dan pengetahuan: manusia tidak hanya membutuhkan pemenuhan kebutuhan jasmani, tetapi juga membutuhkan pengetahuan untuk memperkaya pikiran dan jiwa.

Dalam perspektif itu, buku menjadi salah satu bentuk investasi paling panjang bagi kehidupan kebudayaan. Ia mungkin lahir dari tangan seorang penulis, diterbitkan oleh sebuah penerbit, dan dibaca oleh sejumlah orang pada suatu masa, tetapi gagasannya dapat terus hidup jauh setelah penulis dan pembacanya berganti generasi.

Dengan demikian, merawat buku berarti merawat ingatan. Membaca sejarah berarti memahami perjalanan bangsa. Dan memberi ruang bagi karya-karya kebudayaan berarti ikut menjaga kekayaan intelektual Indonesia agar tetap hidup dan berkembang.*** (Dulloh)

Baca Lainnya

Idang Meulapeh Warnai Maulid Nabi di Jakarta, Tradisi Nagan yang Pernah Raih Rekor Dunia

25 Agustus 2026 - 19:18 WIB

Haji Fikri: Pengawasan Pemerintahan Adalah Kewajiban Wakil Rakyat, Pejabat Diminta Jangan Korupsi

25 Agustus 2026 - 18:58 WIB

FIFGROUP Perluas Manfaat Kampung Sehat melalui Sanitasi Layak dan Pencegahan Stunting

25 Agustus 2026 - 16:00 WIB

KPK Ungkap Fakta Baru Kasus Unsoed, Ali Rokhman Ditunjuk Jadi Plt Rektor

25 Agustus 2026 - 15:23 WIB

Menjaga Warisan Luhur: Peringatan Maulid Nabi Besar SAW di Masjid Istiqamah Desa Simpang Kelaping Sarat Adat dan Budaya

25 Agustus 2026 - 14:52 WIB

Maulid di Simpang Kelaping Jadi Momentum Menghidupkan Masjid dan Memperkuat Kebersamaan Warga

25 Agustus 2026 - 12:28 WIB

Santunan KEMALA Berbuah Inspirasi, Anak Yatim Mitra Istiqomah Tunjukkan Hafalan dan Karakter

25 Agustus 2026 - 12:18 WIB

Masyarakat Reubee Antusias Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H

25 Agustus 2026 - 09:14 WIB

Isnaeni Anggap Ngeles Alasan Kepolisian Blokir Rekening Koordinator AMPB

25 Agustus 2026 - 08:34 WIB

Commuter Run 2026 Berhadiah Umrah, KAI Commuter Siapkan Doorprize untuk 2.500 Pelari

24 Agustus 2026 - 19:48 WIB

Trending di OLAH RAGA