Wartatrans.com, ACEH TENGAH – Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Kampung Simpang Kelaping, Kecamatan Pegasing, Kabupaten Aceh Tengah, tidak sekadar menjadi agenda keagamaan. Kegiatan yang digelar Badan Kemakmuran Masjid (BKM) Istiqamah bersama masyarakat pada Selasa (25/8/2026) itu menjadi ruang untuk kembali memperkuat hubungan sosial, kepedulian terhadap sesama, sekaligus menghidupkan fungsi masjid di tengah masyarakat.
Sejak kegiatan dimulai, halaman Masjid Istiqamah dipenuhi warga yang datang membawa makanan dan minuman dari rumah masing-masing. Sajian tersebut kemudian dikumpulkan untuk dinikmati bersama sebagai bagian dari tradisi kenduri Maulid yang telah lama hidup di tengah masyarakat Aceh.

Suasana semakin semarak dengan lantunan selawat yang dibacakan secara bersama-sama. Peringatan tersebut juga diisi dengan pemberian santunan kepada anak yatim sebagai wujud kepedulian sosial masyarakat Simpang Kelaping.
Bagi warga, tradisi membawa hidangan dari rumah bukan semata-mata persoalan makanan. Di baliknya terdapat semangat berbagi dan membangun kebersamaan. Masyarakat datang dengan apa yang mereka miliki, kemudian menyatukannya di rumah Allah untuk dinikmati bersama.

Pesan keagamaan dalam peringatan tersebut disampaikan Tgk. Darwis dari Lukup Sabun Timur. Dalam tausiah, ia mengajak masyarakat menjadikan kecintaan kepada Rasulullah SAW bukan hanya sebagai ungkapan dalam perayaan Maulid, tetapi diwujudkan melalui peningkatan kualitas ibadah dan akhlak sehari-hari.
Salah satu pesan yang ditekankan adalah pentingnya menjaga salat lima waktu.
Menurutnya, salat memiliki kedudukan yang sangat penting dalam kehidupan seorang muslim. Karena itu, kondisi apa pun tidak seharusnya menjadi alasan untuk meninggalkan kewajiban tersebut.
Ia juga mengingatkan kembali perjalanan Isra Mi’raj sebagai momentum yang mengandung pesan penting tentang kewajiban salat bagi umat Islam.
Selain persoalan ibadah, Tgk. Darwis mengajak masyarakat memperkuat tradisi menuntut ilmu, baik ilmu yang berkaitan dengan syariat maupun penghayatan spiritual. Menurutnya, pemahaman keagamaan harus berjalan seimbang agar seseorang tidak hanya memahami ajaran Islam secara lahiriah, tetapi juga mampu membentuk ketenangan dan kebersihan batin.
Dalam konteks kehidupan masyarakat, pesan tersebut diterjemahkan melalui ajakan untuk menjaga hati, memperbanyak selawat, memperfasih bacaan Al-Qur’an serta menjauhkan diri dari penyakit hati seperti iri dan dengki.
“Maulid jangan berhenti pada seremonial. Yang lebih penting adalah bagaimana kecintaan kepada Rasulullah SAW membentuk perilaku kita dalam kehidupan sehari-hari,” menjadi semangat yang tercermin dalam rangkaian kegiatan tersebut.
Masjid sebagai Pusat Kebersamaan
Peringatan Maulid di Masjid Istiqamah juga memperlihatkan bagaimana keberadaan masjid dapat menjadi titik temu berbagai unsur masyarakat.
BKM Istiqamah tidak hanya menjalankan fungsi pengelolaan kegiatan ibadah, tetapi berupaya menempatkan masjid sebagai ruang yang mempertemukan warga dalam berbagai kegiatan sosial dan keagamaan.
Kehadiran masyarakat dalam jumlah besar menunjukkan bahwa kemakmuran masjid tidak semata-mata diukur dari kondisi fisik bangunan. Ukuran yang lebih penting adalah sejauh mana masyarakat merasa memiliki, datang, beribadah, bersilaturahmi dan melakukan berbagai kegiatan positif di dalamnya.
Dari perspektif itu, Maulid Nabi menjadi momentum untuk menghidupkan kembali semangat tersebut.

Tradisi kenduri, santunan anak yatim, pembacaan selawat dan tausiah berpadu dalam satu kegiatan. Masjid menjadi ruang ibadah sekaligus ruang sosial tempat masyarakat membangun kepedulian dan memperkuat persaudaraan.
Bagi Kampung Simpang Kelaping, kegiatan tersebut sekaligus menjadi pesan bahwa kekuatan masyarakat tumbuh dari kebersamaan.
Ketika warga bersedia menyumbangkan makanan, waktu dan tenaga untuk kegiatan bersama, hubungan sosial akan semakin kuat. Ketika masjid ramai oleh kegiatan keagamaan, ruang perjumpaan masyarakat pun semakin terbuka.
Karena itu, kemakmuran Masjid Istiqamah diharapkan tidak hanya terlihat ketika peringatan Maulid digelar. Semangat tersebut diharapkan terus berlanjut dalam salat berjemaah, pengajian, kegiatan sosial, kepedulian terhadap anak yatim serta berbagai aktivitas yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Simpang Kelaping akhirnya tidak berhenti sebagai sebuah perayaan tahunan. Ia menjadi pengingat bahwa masjid, masyarakat dan tradisi gotong royong memiliki hubungan yang erat.
Masjid yang hidup akan melahirkan interaksi sosial yang sehat. Masyarakat yang kompak akan membuat masjid semakin makmur. Dari sanalah diharapkan tumbuh suasana kampung yang lebih religius, peduli dan penuh keberkahan.*** (Jasa)


























