Wartatrans.com, JAKARTA – Kebakaran Hutan dan lahan (Karhutla) masih ditangani di sejumlah wilayah ketika pemulihan gempa magnitudo 7,7 Flores belum selesai.
BNPB pada 24 Agustus 2026 melaporkan kebakaran lahan di Nabire, Papua Tengah, mencapai sekitar 396,13 hektare pada periode 18 Juli hingga 23 Agustus, sementara 84 kepala keluarga atau 237 penyintas gempa Flores mulai kembali ke rumah.

Kondisi tersebut menunjukkan penanggulangan bencana membutuhkan lebih dari evakuasi dan pemadaman. Pendataan kerusakan, distribusi logistik, layanan medis, pemulihan infrastruktur hingga rekonstruksi membuat kebutuhan teknologi dan kapasitas industri berlangsung dari sebelum bencana hingga tahap pemulihan.
Arah itu sejalan dengan Rapat Koordinasi Teknis Penanggulangan Bencana 2026 di Bogor pada 10–13 Agustus, yang membahas penyelenggaraan penanggulangan bencana secara menyeluruh dari hulu hingga hilir, mulai dari pengkajian risiko, perencanaan terpadu, pencegahan dan mitigasi hingga kesiapsiagaan serta tanggap darurat.
Dalam konteks tersebut, Asia Disaster Management and Civil Protection Expo & Conference (ADEXCO) 2026 akan digelar pada 9–12 September di JIExpo Kemayoran, Jakarta, sebagai bagian dari Engineering Week Indonesia Energy & Engineering Series 2026. ADEXCO mempertemukan kebutuhan manajemen kebencanaan dan perlindungan sipil dengan teknologi serta solusi industri.
ADEXCO bukan agenda yang baru muncul tahun ini. Pada 2025, pameran tersebut melibatkan lebih dari 600 perusahaan dari 40 negara, menunjukkan perkembangan teknologi kebencanaan dan perlindungan sipil sebagai ekosistem industri lintas negara.
Kebutuhan tersebut sekaligus memperluas ruang kerja penanggulangan bencana, dari penyediaan peralatan hingga data, teknologi, pembiayaan dan tata kelola.
Perubahan itu membuat hubungan antara pemerintah sebagai pengguna kebutuhan kebencanaan dan industri sebagai penyedia solusi menjadi semakin penting.
Deputi Bidang Sistem dan Strategi BNPB Dr. Raditya Jati menempatkan ADEXCO dalam kerangka tersebut.
Dalam konferensi pers ADEXCO, pertengahan Agustus 2026, ia menegaskan ADEXCO bukan sekadar pameran produk dan teknologi kebencanaan, melainkan ruang kolaboratif yang mempertemukan unsur pentaheliks.
“ADEXCO 2026 bukan sekadar pameran, melainkan ruang untuk mempertemukan pemerintah, dunia usaha, akademisi, teknologi, dan masyarakat. Bencana semakin membutuhkan ekosistem industri yang tidak hanya menyediakan peralatan fisik, tetapi juga data, teknologi, inovasi pembiayaan, hingga tata kelola yang dapat diterapkan secara nyata dari hulu ke hilir,” ujar Raditya.
Dari sisi industri, perkembangan itu tercermin dari skala platform yang menaungi ADEXCO. IEE Series 2026 menargetkan lebih dari 2.000 perusahaan dan 75.000 trade attendees dari 39 negara atau wilayah.
Hanung Hanindito, Deputy Event Director Pamerindo Indonesia, mengatakan ruang pertemuan antara pelaku industri, penyedia teknologi dan pemangku kepentingan semakin diperlukan.
Dalam Media Briefing IEE Series 2026, pertengahan Agustus 2026 dia menyampaikan beberapa hal.
“Dengan 2.000+ perusahaan peserta dan target lebih dari 75.000 trade attendees, kami melihat kebutuhan yang semakin besar terhadap ruang yang dapat mempertemukan pelaku industri, penyedia teknologi, dan berbagai pemangku kepentingan untuk bertukar pengetahuan dalam dunia industri, melihat perkembangan solusi terbaru, serta membangun peluang bisnis dan kolaborasi,” urainya.
Angka peserta tersebut bukan nilai transaksi ADEXCO maupun IEE Series.
Namun, skala perusahaan dan trade attendees menunjukkan semakin luasnya ruang pertemuan antara kebutuhan penanggulangan bencana, teknologi dan industri.
Bagi Indonesia, pergeseran dari sekadar tanggap darurat menuju pendekatan hulu-hilir membuka kebutuhan yang lebih panjang, mulai dari membaca risiko dan mencegah dampak hingga mempercepat respons dan memulihkan aktivitas ekonomi. (Artha Tidar)





























