Wartatrans.com, JAKARTA – PT Liga Utama Indonesia (PT LUI) resmi menjadi operator Championship dengan 20 klub peserta masuk dalam struktur pemegang saham.
Perubahan ini membuka ruang bisnis baru bagi kompetisi kasta kedua yang musim 2025/2026 mencatat 874.801 penonton dari 273 pertandingan.

Jumlah tersebut tumbuh sekitar 24,5 persen dari musim sebelumnya yang mencapai 702.516 penonton.
Basis audiens itu menjadi aset komersial yang dapat dikembangkan melalui sponsorship, hak media, tiket, merchandise, iklan stadion dan aktivasi digital.
General Manager I.League Budiman Dalimunthe mengatakan pengelolaan Championship diarahkan semakin mandiri setelah RUPS dan RUPSLB PT LUI di Jakarta, Senin (24/8/2026).
“Perlahan tapi pasti kan nanti jadi lebih mandiri, lebih mandiri entitas bisnisnya terpisah agar lebih jelas juga nanti kan,” kata Budiman.
PT LUI memiliki 50 persen saham pada PT Liga Indonesia Baru (LIB), sedangkan 50 persen lainnya dibagi rata kepada 20 klub Championship.
Dengan skema itu, klub tidak hanya menjadi peserta, tetapi juga memiliki kepentingan ekonomi dalam operator.
Musim 2026/2027 dijadwalkan berlangsung 11 September 2026 hingga 9 Mei 2027. Kompetisi diikuti 20 klub dalam dua grup dengan format triple round-robin, dengan PSIS Semarang vs PSPS Pekanbaru sebagai laga pembuka di Stadion Jatidiri.
Sebanyak 273 pertandingan menjadi inventori komersial yang dapat dijual melalui sponsorship, hak media, iklan stadion, tiket, merchandise dan aktivasi suporter.
Namun, nilai bisnis PT LUI belum dapat dihitung karena nilai kontrak sponsorship, media rights, revenue sharing dan laba perusahaan belum dipublikasikan.
Potensi ekonomi pertandingan juga mencakup sektor di luar operator. Kajian LPEM FEB UI pada 2023 memperkirakan simulasi FIFA Matchday Indonesia vs Argentina menghasilkan stimulus ekonomi Rp548,04 miliar dan tambahan output ekonomi Rp965 miliar, dari antara lain tiket, merchandise, transportasi, akomodasi, makanan-minuman, sponsor dan iklan.
Angka itu bukan proyeksi nilai bisnis Championship, tetapi menunjukkan bagaimana pertandingan sepak bola dapat menggerakkan transaksi ekonomi di berbagai sektor. Tantangan PT LUI adalah menangkap sebagian nilai tersebut menjadi pendapatan berulang bagi operator dan klub pemegang saham.
Sebagai pembanding, BRI Research Institute pada 2024 memperkirakan penyelenggaraan BRI Liga 1 berpotensi menciptakan perputaran uang Rp10,42 triliun.
Angka tersebut merupakan dampak ekonomi keseluruhan, bukan pendapatan operator.
Pemisahan operator Liga 2 telah digagas sejak 2023. Kini, PT LUI menghadapi pekerjaan berikutnya, mengubah basis penonton, inventori pertandingan dan kepemilikan klub menjadi model bisnis yang lebih mandiri dan bernilai. (Artha Tidar)






























