Wartatrans.com, JAKARTA — Ikatan Keluarga Nagan Raya (IKNR) Jakarta kembali menggelar perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW di Asrama Haji Jakarta, Selasa, 25 Agustus 2026. Perayaan Maulid yang bertepatan dengan 12 Rabiul Awal 1448 Hijriah itu berlangsung dalam suasana penuh kekeluargaan dan silaturahmi warga Nagan Raya di perantauan.
Salah satu yang menjadi perhatian dalam perayaan Maulid IKNR adalah sajian Idang Meulapeh, hidangan khas masyarakat Nagan Raya yang secara turun-temurun menjadi bagian penting dalam tradisi kenduri Maulid.

Tradisi menyajikan Idang Meulapeh dalam perayaan Maulid telah dilakukan masyarakat IKNR di Jakarta sejak 1990. Tradisi tersebut kemudian mencatat sejarah ketika Idang Meulapeh masyarakat Nagan Raya meraih pengakuan Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai hidangan terbesar di dunia.
Rekor tersebut dicatat pada perayaan Maulid yang digelar 3 Januari 2015 di Anjungan Aceh, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta. Sertifikat MURI ketika itu diserahkan langsung oleh Ketua MURI Indonesia, Jaya Suprana.
Idang Meulapeh yang disajikan IKNR menjadi hidangan yang paling menarik perhatian. Hidangan berlapis tersebut terdiri atas berbagai jenis makanan dalam jumlah besar, sebagai simbol kebersamaan dan kegotongroyongan masyarakat Nagan Raya.
Untuk mencatatkan rekor tersebut, Idang Meulapeh berisi 1.100 butir telur asin, 74 kilogram daging sapi, 100 kilogram aneka buah, 337 buah bu kulah atau nasi yang dibungkus daun pisang, 54 ekor ayam, 244 potong ikan kering, 26 kilogram lobster, 72 kilogram ikan basah, serta 100 cucuk tebu.
Penyajiannya menghabiskan biaya sekitar Rp60 juta.
Jaya Suprana ketika itu bahkan mengaku kagum melihat Idang Meulapeh. Menurut dia, hidangan tersebut bukan sekadar layak dicatat sebagai rekor Indonesia, tetapi memiliki ukuran dan keunikan yang membuatnya pantas disebut sebagai rekor dunia.
“Kami tolak untuk rekor Indonesia, karena idang meulapeh merupakan hidangan terbesar dunia dan pantas dicatatkan sebagai rekor dunia,” kata Jaya Suprana waktu itu.
Tradisi tersebut terus dipertahankan IKNR Jakarta hingga kini. Idang Meulapeh tidak hanya dipandang sebagai sajian dalam kenduri, tetapi juga menjadi ruang untuk merawat identitas, tradisi dan kebersamaan masyarakat Nagan Raya di Jakarta.
Maulid sebagai Ruang Silaturahmi
Ketua Panitia Maulid IKNR 2026, Zaenuddin Musih, dalam laporannya mengatakan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW merupakan kegiatan rutin yang dilaksanakan IKNR setiap tahun.
Ia berharap seluruh rangkaian kegiatan tersebut menjadi ibadah sekaligus mempererat hubungan antarwarga Nagan Raya di Jakarta.
Zaenuddin menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah memberikan dukungan sehingga pelaksanaan Maulid tahun ini berjalan sukses. Total biaya penyelenggaraan peringatan Maulid IKNR 2026 mencapai lebih dari Rp609 juta.
Ketua Umum IKNR Jakarta, H. Muhammad Isa, menyampaikan terima kasih dan penghargaan kepada seluruh warga Nagan Raya, para mukim serta ibu-ibu PKK yang selama ini memberikan dukungan terhadap organisasi IKNR Jakarta.
Menurutnya, kegiatan Maulid bukan semata-mata agenda keagamaan, tetapi juga menjadi forum silaturahmi masyarakat Nagan Raya di Jakarta.
“Yang sudah lama tidak bertemu, bisa tiba-tiba bersua dengan hadir di acara ini. Hidup di tengah perantauan kita butuh saling memperkuat silaturahmi,” kata M. Isa.
Kepala Badan Penghubung Pemerintah Aceh (BPPA) Jakarta, Said Marzuki, menyampaikan salam dari Gubernur dan Wakil Gubernur Aceh kepada seluruh warga IKNR. Ia sekaligus menyampaikan permohonan maaf karena tidak dapat hadir langsung lantaran harus kembali ke Banda Aceh dengan penerbangan pagi.

Muslim Armas: Makmurkan Masjid IKNR
Ketua PP Taman Iskandar Muda Jakarta, Ir. Muslim Armas, atas nama pimpinan pusat Taman Iskandar Muda, menyampaikan ucapan selamat kepada IKNR yang menyelenggarakan Maulid Nabi Muhammad SAW 12 Rabiul Awal 1448 H.
Muslim Armas mengatakan masyarakat Aceh memiliki tradisi Maulid yang panjang. Perayaan Maulid di Aceh dapat berlangsung lebih dari tiga bulan karena banyaknya masyarakat dan organisasi Aceh yang menyelenggarakannya.
“Kalau saya tidak bisa memenuhi seluruh undangan Maulid karena kegiatan Maulid begitu banyak dan karenanya kita berbagi dengan pengurus Taman Iskandar Muda lainnya,” ujarnya.
Ia juga memberikan apresiasi tinggi kepada IKNR yang telah berhasil membangun masjid di kawasan Cilangkap, Jakarta Timur.
“Mari kita memakmurkan masjid tersebut yang telah dibangun susah payah oleh IKNR,” kata Muslim Armas.
Selain itu, ia mengapresiasi kepedulian IKNR terhadap masyarakat Aceh, termasuk keterlibatan organisasi tersebut dalam membantu korban banjir di Aceh.
“Terima kasih atas kerja keras pengurus IKNR,” katanya.
Wakil Bupati: Jaga Kekompakan
Wakil Bupati Nagan Raya, Raja Sayang, yang hadir dalam kegiatan tersebut, menyampaikan apresiasi terhadap kekompakan masyarakat Nagan Raya di Jakarta.
Menurutnya, kegiatan seperti Maulid menjadi momentum untuk memperkuat ukhuwah dan persatuan warga Nagan Raya.
“Kegiatan ini memperkuat ukhuwah, bersatu. Kita sangat bangga melihat masyarakat Nagan bersatu di Jakarta ini. Mari kita jaga terus kekompakan,” katanya.
Sementara itu, tausiah Maulid disampaikan Tgk. Habibie An Nawawi. Penceramah asal Aceh Barat tersebut mengingatkan bahwa Islam menjadi ikatan persaudaraan yang menyatukan umat, melampaui asal daerah, status sosial maupun latar belakang ekonomi.
“Yang mempersaudarakan kita adalah Islam. Semua mukmin itu bersaudara dari manapun asalnya. Yang paling mulia adalah yang paling takwa. Kalau mulia karena harta, hilang harta hilang mulia,” kata Tgk. Habibie.
Perayaan Maulid IKNR 2026 pun menjadi pertemuan antara tradisi, agama dan persaudaraan. Di tengah kehidupan masyarakat Aceh di perantauan, Idang Meulapeh kembali hadir bukan sekadar sebagai hidangan, tetapi sebagai simbol bahwa tradisi dapat menjadi cara untuk menjaga ingatan, identitas dan persaudaraan Nagan Raya dari generasi ke generasi.*** (Fikar W Eda)


























