Wartatrans.com, JAWA TENGAH — Di kemerdekaan ke 81 Indonesia, jagat dunia maya dihebohkan kejadian nyata pemblokiran rekening milik Koordinator Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB).Supriyono alias Botok, Jumat (21/08/2026). Ternyata warga negara Indonesia tidak benar – benar merdeka.
Bank Mandiri menyatakan pemblokiran rekening nasabahnya tersebut merupakan tindak lanjut permintaan aparat penegak hukum dan dilakukan sesuai prosedur serta ketentuan yang berlaku. Pertanyaannya adalah aparat penegak hukum yang mana ?

Kepala Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) Ivan Yustiavandana menyatakan jajarannya tidak mengajukan pemblokiran rekening tersebut. Ivan mengatakan dirinya telah mengecek dan menyebut kemungkinan permintaan berasal dari penyidik.
Pengakuan lanjutan datang dari Kepolisian. Polda Metro Jaya mengungkap alasannya meminta penundaan transaksi pada rekening bank milik seorang warga Pati, Senin (24/08/2026).
Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Budi Hermanto mengatakan seharusnya penggalangan dana mengacu Pasal 237 UU Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (P2SK).
“Di pasal ini menyebut bahwa penghimpunan dana harus menggunakan izin terkait badan usaha, bukan dilakukan oleh perorangan,” kata Budi.
Untuk itu, penyidik mendalami aliran dana yang masuk ke rekening tersebut. Jumlah terakhirnya adalah 80,9 juta rupiah. Dalam penyelidikannya, Polisi bekerja sama dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Kementerian Sosial.
Budi juga mengatakan narasi pemblokiran tidak benar. Permintaan yang dilakukan bank adalah penundaan transaksi.
Keterangan Polda Metro Jaya mendapat tanggapan negatif dari sebagian besar masyarakat Pati dan sekitarnya. Ini diutarakan dalam sebuah pernyataan sikap bersama. Salah seorang peserta adalah Isnaeni, warga Juwana ini mengecam tindakan pemblokiran dana giat penyampaian aspirasi ke DPR RI.
“Alasan yang disampaikan Kepolisian sangat ngeles dan mengada ada. Mereka sepertinya takut atau menghalangi adanya RUU Perampasan Aset dan hukuman mati untuk koruptor. Tahu sendirilah, kelakuan mereka selama ini seperti apa,” kata Isnaeni.***
(Slamet Widodo)


























