Wartatrans.com, JAKARTA – Dua matra TNI menempatkan kapal berkemampuan medis di Nusa Tenggara Timur (NTT), untuk memperkuat penanganan gempa M7,7.
KRI dr. Soeharso-990 milik TNI Angkatan Laut bersandar di Reo, Manggarai, sedangkan Kapal Angkatan Darat Republik Indonesia (ADRI) 92 milik TNI Angkatan Darat juga tiba di pelabuhan yang sama membawa layanan kesehatan dan bantuan kemanusiaan.

KRI dr. Soeharso tiba di Reo pada Jumat (21/8/2026). Hingga Sabtu (22/8), kapal tersebut telah melayani 21 pasien, mencakup operasi patah tulang, penanganan luka robek, rawat jalan dan tiga pasien rawat inap.
“Hingga Sabtu (22/8), KRI dr. Soeharso telah melayani 21 pasien. Rinciannya meliputi tindakan operasi patah tulang, penanganan luka robek, pelayanan rawat jalan, serta tiga pasien yang menjalani rawat inap,” kata Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan, Ahad (23/8/2026).
KRI dr. Soeharso merupakan kapal bantu rumah sakit TNI AL sepanjang sekitar 122 meter. Kapal dilengkapi IGD, ruang intensif, ruang operasi, poliklinik, laboratorium, apotek dan ruang perawatan.
Kemampuan itu terlihat ketika Letkol Laut (K) dr. Pieter Giarso, Sp.OT., dokter spesialis ortopedi TNI AL, melakukan operasi terhadap Arnol Dus, 68 tahun, korban yang mengalami patah tulang bahu kiri dan panggul setelah tertimpa dinding rumah. Operasi berlangsung Sabtu (22/8), mulai pukul 08.00 WIT dan berjalan lancar.
Sementara itu, ADRI-92 tiba di Reo pada Minggu (23/8). Kapal multifungsi TNI AD tersebut berukuran sekitar 65 meter dengan lebar 14 meter dan dilengkapi heli deck. Dalam misi NTT, kapal membawa sekitar 70 ton logistik, dua ambulans, lima truk, tandon air, genset, tenda dan velbed, sekaligus fasilitas pelayanan kesehatan.
Dantim Kesehatan TNI AD dr. Arie Kurniawan, Sp.OT., mengatakan tim medis yang disiagakan di kapal terdiri atas delapan personel.
“Tim kami terdiri dari delapan personel, satu dokter spesialis ortopedi, satu dokter umum dari RSPAD, dan enam perawat. Kami siap memberikan pelayanan kesehatan selama masa tanggap darurat,” ujarnya.
Pangkoarmada II Laksda TNI I G. P. Alit Jaya mengatakan kesiapan KRI dr. Soeharso diarahkan untuk mendukung misi kemanusiaan.
“Kesiapan KRI dr. Soeharso-990 diharapkan mampu memberikan dukungan secara optimal selama pelaksanaan misi kemanusiaan serta mempercepat penanganan masyarakat yang membutuhkan,” ujarnya saat persiapan keberangkatan di Surabaya, Selasa (18/8/2026).
Dua kapal tersebut memiliki konfigurasi berbeda, tetapi menjalankan fungsi yang beririsan, mendekatkan layanan medis dan bantuan dasar kepada korban ketika fasilitas kesehatan darat terdampak.
Bagi wilayah kepulauan seperti NTT, jalur laut menjadi salah satu cara membawa tenaga medis, fasilitas tindakan dan logistik mendekati wilayah terdampak.
Namun, kemampuan kapal tetap membutuhkan jejaring darat, terutama ambulans, jalur evakuasi, komunikasi dan sistem rujukan agar layanan medis dapat menjangkau korban secara lebih luas. (Artha Tidar)
































