Wartatrans.com, JAKARTA – Kebakaran hutan dan lahan di Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Lampung Timur, mencapai 774,14 hektare.
Pemerintah mengerahkan Tim Alfa TNI, drone termal, drone semprot, pompa air dan menyiapkan water bombing agar api tidak meluas ke habitat satwa.

Luas tersebut terdiri dari 673,4 hektare di Resort Kuala Penet dan 100,74 hektare di sekitar Desa Braja Luhur. Kebakaran terpantau Jumat (21/8/2026), dengan ratusan personel gabungan dikerahkan.
Di Way Kambas, yang dipertaruhkan bukan semata tutupan lahan, melainkan habitat lima mamalia besar Sumatera, termasuk gajah dan badak, di kawasan konservasi seluas 125.621 hektare.
Karena titik api sulit dijangkau, pemerintah tidak cukup mengandalkan pasukan darat. Tim Alfa, drone termal, drone semprot, pompa air hingga dukungan udara disiapkan mencegah api masuk ke habitat satwa.
Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal mengatakan pemerintah terus memantau kondisi kawasan dan satwa.
“Kita terus bersatu padu menanggulangi kebakaran ini, yang paling penting sekarang adalah memastikan api tidak meluas dan kondisi segera terkendali,” kata Mirza, Senin (24/8/2026).
Operasi diawali pemetaan titik panas. Drone termal mencari bara agar personel dapat diarahkan ke lokasi yang berpotensi kembali terbakar.
Pangdam XXI/Radin Inten Mayjen TNI Kristomei Sianturi mengatakan Selasa (25/8/2026), “Tadi sudah kita adakan surveillance dulu, pengamatan menggunakan termal, di mana kira-kira titik-titik api yang masih mungkin menjadi bara dan menimbulkan kebakaran.”
Setelah titik panas teridentifikasi, 40 personel Tim Alfa diterjunkan dengan penerjun payung, sementara 15 lainnya diturunkan menggunakan helikopter.
Dukungan teknologi diperluas melalui drone semprot. Kristomei mengatakan, “Sore ini juga kita datangkan drone semprot dengan kapasitas 16 liter, 30 liter, dan 100 liter,” untuk menjangkau titik sulit.
Water bombing disiapkan sebagai opsi pemadaman udara.
Presiden Prabowo Subianto juga memperkenalkan inovasi bahan pemadam berbasis tepung ubi atau singkong. Dalam rapat penanganan karhutla di Palembang, Senin (24/8/2026), Prabowo menyebutnya “ubi bombing”.
“Menarik sekali. Bahan bakunya dari ubi, dari singkong. Coba diproduksi dalam skala besar,” kata Prabowo.
Namun, ubi bombing belum digunakan di Way Kambas. Inovasi tersebut masih didorong untuk dikembangkan dan diuji dalam skala lebih besar.
Operasi Way Kambas mengandalkan kombinasi deteksi dan pemadaman. Drone mencari bara, Tim Alfa masuk ke medan sulit, drone semprot menangani titik tertentu, pompa air mendukung pemadaman darat, sementara water bombing disiapkan dari udara.
Pendekatan ini penting karena kebakaran kawasan konservasi meningkatkan risiko terhadap habitat satwa dan pemulihan ekosistem.
Keberhasilan operasi bukan hanya luas api yang padam. Titik panas harus tidak kembali menyala dan api tidak bergerak menuju habitat satwa.
Way Kambas memperlihatkan penanganan karhutla membutuhkan data, personel, teknologi dan kapasitas pemadaman untuk menahan api sebelum kerusakan ekologis membesar. (Artha Tidar)































