Wartatrans.com, JAKARTA – MRT Jakarta melayani 46.449.629 pelanggan sepanjang 2025, atau rata-rata 127.259 pelanggan per hari.
Pada Januari 2026, pergerakan naik menjadi 135.332 pelanggan per hari, sementara target 2026 mencapai 50 juta pelanggan atau sekitar 137 ribu per hari.

Pertumbuhan itu membuat stasiun MRT berkembang dari sekadar titik naik-turun penumpang menjadi simpul aktivitas ekonomi. Konsep transit oriented development (TOD) mendorong kawasan sekitar stasiun terintegrasi dengan hunian, perkantoran, ritel dan ruang publik.
Di Bundaran HI, PT MRT Jakarta melalui anak usahanya, PT Integrasi Transit Jakarta (ITJ), membangun extended concourse seluas 4.439 meter persegi senilai Rp148,2 miliar.
Progresnya mencapai 24 persen pada Agustus 2026 dan ditargetkan selesai Juni 2027, menghubungkan MRT dengan Plaza Indonesia, Grand Hyatt, Wisma Nusantara, Pullman serta halte Transjakarta.
Direktur Utama PT ITJ Ferdiansyah Roestam mengatakan proyek tersebut bagian dari pengembangan kawasan jangka panjang.
“Targetnya ini menjadi hadiah lima abad Jakarta dan akan diresmikan saat perayaan HUT Jakarta,” kata Ferdiansyah di Jakarta, Selasa (25/8/2026).
Sebelumnya, Wali Kota Jakarta Selatan Syafrin Liputo mengatakan, pengembangan Park and Ride Lebak Bulus diarahkan untuk mengintegrasikan fungsi transportasi dengan kawasan sekitarnya.
“Setiap pengembangan di kawasan atau di area ini terintegrasi secara utuh dengan lingkungan. Jadi tidak hanya dilihat dari fungsi transportasi, tetapi bagaimana fungsi transportasi terintegrasi dengan kawasan, sehingga mobilitas masyarakat seluruhnya mulus (seamless) pergerakannya,” kata Syafrin.
Dia bilang, perencanaan selanjutnya difinalisasi MRT sebelum dilakukan penjajakan investor.
“Setelah ini perencanaan difinalisasi oleh rekan-rekan MRT, kemudian akan dilakukan market sounding untuk mencari investor yang akan masuk melakukan pembangunan,” ujarnya.
Dari sisi pasar, konsultan properti Cushman & Wakefield mencatat tingkat okupansi ritel Jakarta mencapai 78,4 persen pada akhir 2025.
Angka itu meningkat 0,9 persen secara tahunan dan 1,4 persen dibanding kuartal sebelumnya, didorong ekspansi tenant dan masuknya merek baru.
Artinya, aktivitas komersial di Jakarta masih memiliki ruang tumbuh. Dalam konteks TOD, penguatan akses transportasi dapat memperbesar arus orang sekaligus daya tarik kawasan bagi pelaku usaha dan pengembang.
Pengamat transportasi Universitas Soegijapranata Djoko Setijowarno menilai Lebak Bulus berpotensi menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru.
“Reorientasi fungsi lahan, bangunan tua atau pusat perbelanjaan konvensional di sekitarnya terdorong untuk melakukan repositioning dan revitalisasi fungsi menjadi kawasan pemanfaatan campuran,” kata Djoko, Jumat (31/7/2026).
Dengan 46,4 juta pelanggan setahun, keberhasilan TOD bukan sekadar jumlah penumpang. Ukurannya adalah waktu perjalanan yang dipangkas, aktivitas ekonomi yang tercipta dan pertumbuhan kawasan tanpa kembali menambah ketergantungan pada kendaraan pribadi. (Artha Tidar)
































