Menu

Mode Gelap
KKP Tangkap Kapal Pencuri Ikan Filipina, 25 Rumpon Ilegal Ditertibkan di Maluku Utara KAI Commuter Tambah 13 Perjalanan KRL Lintas Bogor, Operasional Kembali Normal InJourney Tegaskan Komitmen Optimalisasi Layanan Kesiapsiagaan di Seluruh Bandara InJourney Airports Penutupan Bandara Wunopito NTT Diperpanjang hingga Besok Pukul 07.00 WITA Cuaca Aceh Tengah Perlu Diwaspadai, Masyarakat Diminta Antisipasi Hujan Lebat TPA Aisyiyah Jayan, Adakan Acara Maulid Nabi, Cahaya Kelahiran Sang Penghulu Semesta

PERON

Rencana MRT Bali bakal jadi ART, Ini Tantangannya

badge-check


 Rencana MRT di Bali Perbesar

Rencana MRT di Bali

Wartatrans.com, DENPASAR – Pemerintah Provinsi Bali mengubah arah pengembangan transportasi massal dengan memilih Autonomous Rail Transit (ART) menggantikan rencana Mass Rapid Transit (MRT).

Pilihan tersebut didorong pertimbangan efisiensi investasi dan kemudahan pembangunan, tetapi kemampuan moda baru itu memenuhi kebutuhan mobilitas Bali masih menjadi tantangan.

Berbeda dengan Pulau Jawa yang memiliki sejarah panjang jaringan kereta api sejak masa kolonial, Bali tidak memiliki sistem kereta penumpang yang berkembang menjadi moda transportasi massal perkotaan.

Kondisi tersebut membuat pemerintah harus mencari teknologi yang sesuai dengan karakter wilayah, kepadatan perjalanan, dan kebutuhan sektor pariwisata.

Gubernur Bali Wayan Koster mengatakan, ART dipilih karena dinilai lebih efisien dibandingkan MRT yang membutuhkan pembangunan infrastruktur rel permanen.

“Karena (ART) jauh lebih efisien dan secara teknologi lebih mudah,” kata Koster, Kamis (6/8/2026).

Perubahan pilihan moda menjadi strategi pemerintah menghadapi tekanan mobilitas akibat pertumbuhan pariwisata dan meningkatnya penggunaan kendaraan pribadi.

Namun, efisiensi biaya pembangunan harus diuji dengan kemampuan layanan dalam mengangkut penumpang secara efektif.

Kepala Dinas Perhubungan Bali I Kadek Mudarta menjelaskan, bila ART berbeda dengan MRT karena menggunakan kendaraan listrik berbasis roda karet tanpa membutuhkan rel baja permanen.

“ART adalah sarana angkutan massal perkotaan bertenaga listrik dan beroda ban karet yang dapat berjalan di atas jalan raya,” ujar Mudarta.

Menurutnya, ART beroperasi dengan dukungan teknologi sensor dan sistem navigasi GPS sehingga kendaraan dapat bergerak mengikuti jalur virtual.

“Moda transportasi ini tidak memerlukan rel baja karena beroperasi dengan bantuan sensor dan sistem navigasi GPS di jalur virtual,” ujarnya.

Secara teknis, MRT dirancang untuk melayani pergerakan penumpang dalam jumlah besar dengan jalur khusus dan kapasitas tinggi.

Sementara ART menawarkan fleksibilitas pembangunan karena tidak membutuhkan konstruksi rel permanen, tetapi kapasitas angkut dan keandalan layanan tetap harus dibuktikan.

Sementara itu, Direktur Utama PT Sarana Bali Dwipa Jaya (SBDJ) Ervan Maksum menyebut, studi kelayakan transportasi Bali sebelumnya membahas sejumlah alternatif moda, termasuk ART, LRT, dan trem.

Pemilihan teknologi, menurut Ervan, harus menyesuaikan kebutuhan trafik penumpang dan nilai investasi.

Studi tersebut menjadi dasar untuk memastikan moda yang dipilih sesuai dengan kebutuhan mobilitas Bali.

“Lubangnya banyak, kami juga enggak mau hanya seremonial. Tapi justru sesuai dengan teknografis sesuai dengan aturan yang berlaku. Kemarin masih banyak miss-nya dan sudah kami rapikan,” ucap Ervan.

Peralihan dari MRT menuju ART menjadi ujian bagi pemerintah Bali dalam menyeimbangkan efisiensi investasi dengan kebutuhan menghadirkan transportasi publik modern.

Keberhasilan ART nantinya tidak hanya ditentukan oleh biaya pembangunan, tetapi juga kemampuan mengurangi kemacetan, meningkatkan konektivitas, dan mendorong masyarakat serta wisatawan, beralih dari kendaraan pribadi. (Artha Tidar)

Baca Lainnya

KAI Commuter Tambah 13 Perjalanan KRL Lintas Bogor, Operasional Kembali Normal

10 September 2026 - 10:29 WIB

Whoosh Tetap Melaju di Tengah Erupsi Anak Krakatau, Ini Langkah Pengamanan KCIC

10 September 2026 - 07:15 WIB

Aktivitas Pelanggan Stasiun Ketapang Tembus 553 Ribu, Naik 8,5 Persen hingga Agustus 2026

10 September 2026 - 06:08 WIB

KAI Services Dukung Penataan Stasiun Bogor, Fokus pada Parkir hingga Keamanan

10 September 2026 - 05:26 WIB

Angkutan Perkebunan KAI Tembus 683.214 Ton, Tumbuh 91,77 Persen hingga Agustus 2026

9 September 2026 - 23:10 WIB

Subsidi TransJakarta dan MRT Diusulkan Tambah Rp934 Miliar

9 September 2026 - 19:08 WIB

Menelusuri Jejak Kereta Api Masa Lalu lewat KAI Explore Kedungjati–Tuntang

9 September 2026 - 13:54 WIB

Pengguna Stasiun Sudirman Baru Naik 300 Persen Usai Pengalihan Layanan dari Stasiun Karet

9 September 2026 - 13:46 WIB

Dinkes Kabupaten Bogor Buka Tiga Posko Kesehatan, Tangani Dampak Asap Kebakaran TPA Galuga

8 September 2026 - 17:49 WIB

KAI Services Perpanjang Kerja Sama dengan Keraton Yogyakarta Kelola Loko Cafe Malioboro

8 September 2026 - 14:45 WIB

Trending di PERON