Menu ✖

Mode Gelap
The Morbius Rilis Single Ketiga 2026, “Semu” Angkat Kisah Pengkhianatan Komitmen Pegiat Sosial Lhokseumawe Mutia Sari Terima Penghargaan Kehormatan dari Ketua FPTI Kota Batam Mantap, InJourney Airports Sabet Anugerah Reksa Bandha 2026 Hadir di Interferry Conference 2026, ASDP Beberkan Transformasi Penyeberangan Indonesia  AirNav Bersama FAA ATO Bahas Modernisasi Pengelolaan Lalu Lintas Udara Partai Demokrat Mengecam Penyadapan Ilegal Terhadap Presiden Prabowo

BANDARA

Gandeng Boeing, AirNav Siapkan Solusi untuk Bandara Tanpa Taxiway Paralel

badge-check


 AirNav dan Boeing Perbesar

AirNav dan Boeing

Wartatrans.com, TANGERANG – Menggandeng Boeing Company, AirNav Indonesia berupaya wujudkan solusi menyelesaikan kepadatan pergerakan pesawat di Bandara I Gusti Ngurah Rai, Bali, di mana tanpa taxiway paralel.

Bila berhasil, ke depan juga akan diimplementasikan pada bandara lain di Indonesia yang belum memiliki taxiway paralel.

Deputi Bidang Peningkatan Nilai dan Daya Saing Usaha Kementerian BUMN Endra Gunawan menyampaikan, kapasitas pergerakan pesawat dapat dioptimalkan tanpa selalu bergantung pada pembangunan infrastruktur baru.

“Ini nantinya akan menjadi wadah transfer knowledge, jadi nanti untuk di bandara-bandara lain diharapkan teman-teman AirNav sendiri sudah bisa mendesain nanti ke depan,” jelas Endra di Tangerang, Selasa (15/9/2026).

Usai teken LoI, selanjutnya, kolaborasi AirNav dan Boeing akan difokuskan pada kajian untuk meningkatkan efisiensi pergerakan pesawat di Bandara I Gusti Ngurah Rai.

Salah satu persoalan yang menjadi perhatian adalah belum tersedianya taxiway paralel yang membuat pergerakan pesawat di area darat lebih kompleks.

Direktur Utama AirNav Indonesia Capt. Avirianto Suratno menyatakan, kondisi tersebut membuat pesawat yang baru mendarat dan pesawat yang akan melakukan pushback harus berbagi ruang pergerakan yang sama.

Tentu saja kondisi itu berpotensi menimbulkan konflik dan memperpanjang waktu pesawat berada di darat.

“Bali tidak punya parallel taxiway. Jadi pesawat yang baru landing masuk ke apron, kemudian yang mau pushback juga menggunakan area yang sama. Ini yang menimbulkan konflik dan congestion,” tutur Avirianto.

Teknologi dan pemodelan yang dikembangkan bersama Boeing, nantinya diharapkan dapat membantu mencari pola pergerakan yang lebih efisien, baik untuk pesawat yang mendarat maupun yang akan berangkat.

Pihaknya tak hanya melihat kondisi operasi saat ini, tetapi juga berbagai opsi yang memungkinkan pergerakan pesawat lebih efisien.

Selanjutnya, setiap opsi akan diuji melalui pemodelan dan simulasi sehingga rekomendasi yang dihasilkan memiliki dasar analisis yang kuat.

Direktur Operasi AirNav Indonesia Setio Anggoro memaparkan, kajian tersebut tidak hanya melihat pergerakan pesawat di darat, tetapi juga pengaturan di ruang udara.

Tim akan terlebih dahulu membuat model kondisi operasi saat ini sebagai baseline, kemudian menyusun sejumlah alternatif untuk dibandingkan dari sisi efisiensi.

“Pertama kita bangun baseline kondisi yang sekarang, kemudian kita desain alternatifnya. Nanti dibandingkan, mana yang lebih baik dari kondisi sekarang, termasuk dari sisi efisiensi bahan bakar dan pengurangan emisi CO2,” kata Setio.

Salah satu kemungkinan yang dikaji adalah bagaimana mempercepat waktu pesawat keluar dari runway menuju apron maupun sebaliknya. Penggunaan taxiway yang lebih efektif, prosedur pergerakan pesawat, sequencing, hingga koordinasi antaroperator akan dimasukkan ke dalam pemodelan.

Setio menambahkan, pengurangan waktu taxi maupun waktu tunggu pesawat dapat memberikan dampak langsung terhadap efisiensi operasional.

Semakin cepat pesawat bergerak menuju posisi berikutnya, semakin kecil pula potensi penggunaan bahan bakar akibat menunggu atau berputar lebih lama.

Avirianto menyebut pergerakan pesawat di Bali saat ini berada di kisaran 33 movement per jam.

Melalui optimalisasi operasi, AirNav berharap angka tersebut masih dapat ditingkatkan, bahkan berpotensi mendekati 40 movement per jam.

Namun, angka tersebut masih merupakan kemungkinan hasil peningkatan dan bukan target final sebelum simulasi selesai.

“Supaya 33 tadi bisa menjadi mungkin 34, 40 gitu kan ya. Dengan waktu yang relatif lebih singkat,” imbuhnya. (omy)

Baca Lainnya

Mantap, InJourney Airports Sabet Anugerah Reksa Bandha 2026

5 November 2026 - 18:41 WIB

Hadir di Interferry Conference 2026, ASDP Beberkan Transformasi Penyeberangan Indonesia 

5 November 2026 - 16:56 WIB

AirNav Bersama FAA ATO Bahas Modernisasi Pengelolaan Lalu Lintas Udara

5 November 2026 - 16:41 WIB

Tim AirNav Indonesia bersama Tim FAA ATO

Perkuat Rantai Pasokan Beras, PELNI Resmikan Program Desa Mandiri di Klaten

5 November 2026 - 15:34 WIB

Kemenhub Sampaikan Duka Cita Kecelakaan Helikopter Water Bombing di Kuala Pembuang Kalteng

5 November 2026 - 11:48 WIB

Borong Empat Penghargaan, Terminal Teluk Lamong Perkuat Komitmen terhadap Tanggung Jawab Sosial

4 November 2026 - 20:23 WIB

IPCC Tegaskan Komitmen Jaga Kinerja dan Perkuat Kepercayaan Investor Menuju 2027

4 November 2026 - 19:13 WIB

Siapkan Dashboard ACS, Pelindo Permudah Transaksi Kepelabuhanan

4 November 2026 - 15:33 WIB

ASDP Perkuat Safety Meeting dan Kesiapsiagaan Awak Kapal

4 November 2026 - 11:34 WIB

KMP Hafamati HF Resmi Beroperasi, Perkuat Akses Transportasi Masyarakat Nias Selatan

4 November 2026 - 06:13 WIB

Trending di ANJUNGAN