Menu

Mode Gelap
Menhub Dudy Kumpulkan Jajaran Ditjen Hubla: Tidak Ada Kompromi untuk Keselamatan Pelayaran! Laba Bersih PJM Grup Melonjak Hampir Dua kali Lipat, Tumbuh 99,43% Sepanjang Januari-Agustus 2026 Gandeng Boeing, AirNav Siapkan Solusi untuk Bandara Tanpa Taxiway Paralel Klub Super League Mulai Bangun Loyalitas, Tawarkan Beli Tiket 17 Laga Sekali Bayar Ketua LKB Pertanyakan Penghargaan Pemerintah Terhadap Karya Sastra Betawi Presiden ke 6 SBY Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya lewat Lukisan dan Pameran Tunggal

BANDARA

Gandeng Boeing, AirNav Siapkan Solusi untuk Bandara Tanpa Taxiway Paralel

badge-check


 AirNav dan Boeing Perbesar

AirNav dan Boeing

Wartatrans.com, TANGERANG – Menggandeng Boeing Company, AirNav Indonesia berupaya wujudkan solusi menyelesaikan kepadatan pergerakan pesawat di Bandara I Gusti Ngurah Rai, Bali, di mana tanpa taxiway paralel.

Bila berhasil, ke depan juga akan diimplementasikan pada bandara lain di Indonesia yang belum memiliki taxiway paralel.

Deputi Bidang Peningkatan Nilai dan Daya Saing Usaha Kementerian BUMN Endra Gunawan menyampaikan, kapasitas pergerakan pesawat dapat dioptimalkan tanpa selalu bergantung pada pembangunan infrastruktur baru.

“Ini nantinya akan menjadi wadah transfer knowledge, jadi nanti untuk di bandara-bandara lain diharapkan teman-teman AirNav sendiri sudah bisa mendesain nanti ke depan,” jelas Endra di Tangerang, Selasa (15/9/2026).

Usai teken LoI, selanjutnya, kolaborasi AirNav dan Boeing akan difokuskan pada kajian untuk meningkatkan efisiensi pergerakan pesawat di Bandara I Gusti Ngurah Rai.

Salah satu persoalan yang menjadi perhatian adalah belum tersedianya taxiway paralel yang membuat pergerakan pesawat di area darat lebih kompleks.

Direktur Utama AirNav Indonesia Capt. Avirianto Suratno menyatakan, kondisi tersebut membuat pesawat yang baru mendarat dan pesawat yang akan melakukan pushback harus berbagi ruang pergerakan yang sama.

Tentu saja kondisi itu berpotensi menimbulkan konflik dan memperpanjang waktu pesawat berada di darat.

“Bali tidak punya parallel taxiway. Jadi pesawat yang baru landing masuk ke apron, kemudian yang mau pushback juga menggunakan area yang sama. Ini yang menimbulkan konflik dan congestion,” tutur Avirianto.

Teknologi dan pemodelan yang dikembangkan bersama Boeing, nantinya diharapkan dapat membantu mencari pola pergerakan yang lebih efisien, baik untuk pesawat yang mendarat maupun yang akan berangkat.

Pihaknya tak hanya melihat kondisi operasi saat ini, tetapi juga berbagai opsi yang memungkinkan pergerakan pesawat lebih efisien.

Selanjutnya, setiap opsi akan diuji melalui pemodelan dan simulasi sehingga rekomendasi yang dihasilkan memiliki dasar analisis yang kuat.

Direktur Operasi AirNav Indonesia Setio Anggoro memaparkan, kajian tersebut tidak hanya melihat pergerakan pesawat di darat, tetapi juga pengaturan di ruang udara.

Tim akan terlebih dahulu membuat model kondisi operasi saat ini sebagai baseline, kemudian menyusun sejumlah alternatif untuk dibandingkan dari sisi efisiensi.

“Pertama kita bangun baseline kondisi yang sekarang, kemudian kita desain alternatifnya. Nanti dibandingkan, mana yang lebih baik dari kondisi sekarang, termasuk dari sisi efisiensi bahan bakar dan pengurangan emisi CO2,” kata Setio.

Salah satu kemungkinan yang dikaji adalah bagaimana mempercepat waktu pesawat keluar dari runway menuju apron maupun sebaliknya. Penggunaan taxiway yang lebih efektif, prosedur pergerakan pesawat, sequencing, hingga koordinasi antaroperator akan dimasukkan ke dalam pemodelan.

Setio menambahkan, pengurangan waktu taxi maupun waktu tunggu pesawat dapat memberikan dampak langsung terhadap efisiensi operasional.

Semakin cepat pesawat bergerak menuju posisi berikutnya, semakin kecil pula potensi penggunaan bahan bakar akibat menunggu atau berputar lebih lama.

Avirianto menyebut pergerakan pesawat di Bali saat ini berada di kisaran 33 movement per jam.

Melalui optimalisasi operasi, AirNav berharap angka tersebut masih dapat ditingkatkan, bahkan berpotensi mendekati 40 movement per jam.

Namun, angka tersebut masih merupakan kemungkinan hasil peningkatan dan bukan target final sebelum simulasi selesai.

“Supaya 33 tadi bisa menjadi mungkin 34, 40 gitu kan ya. Dengan waktu yang relatif lebih singkat,” imbuhnya. (omy)

Baca Lainnya

Laba Bersih PJM Grup Melonjak Hampir Dua kali Lipat, Tumbuh 99,43% Sepanjang Januari-Agustus 2026

16 September 2026 - 08:21 WIB

Garuda Daya Pratama Sejahtera Bidik Layanan di Jet Pribadi untuk Perluas Bisnis

15 September 2026 - 19:14 WIB

Sepekan Jelang Airport Emergency Exercise, Begini Persiapan Bandara Ngurah Rai

15 September 2026 - 18:50 WIB

Teken LoI dengan Boeing, AirNav Optimalkan Layanan di Bandara Ngurah Rai

15 September 2026 - 12:24 WIB

Kolaborasi PTP Nonpetikemas dan UNIBA Madura Dorong Industrialisasi Kawasan

15 September 2026 - 11:19 WIB

Scoot Hadirkan Promo “Ke Mana Saja”, Tiket Spesial untuk Liburan hingga Juni 2027

15 September 2026 - 09:47 WIB

IPC TPK Cetak Kinerja Positif Hingga Agustus 2026, Catat Pertumbuhan Volume Petikemas 8,37 Persen

14 September 2026 - 21:55 WIB

Prabowo Perkuat Arah Baru Ekonomi, Disiplin Fiskal dan Ketahanan Energi Jadi Prioritas Pasca Pergantian Menkeu

14 September 2026 - 20:49 WIB

Indonesia Tuan Rumah FIFA ASEAN Cup, EMTEK Siapkan Produk Pertandingan Kualitas 4K

14 September 2026 - 16:54 WIB

Dari Modal ke Kemandirian, Lima Tahun Holding Ultra Mikro Dorong Jutaan Nasabah Naik Kelas

13 September 2026 - 23:35 WIB

Trending di EKOBIS