Wartatrans.com, JAKARTA — Apresiasi Ketua Umum Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB), H. Beky Mardani, terhadap karya Chairil Gibran Ramadhan (CGR) kembali mengangkat pertanyaan lama: kapan Jakarta memberikan pengakuan kepada sastrawan yang selama puluhan tahun konsisten membawa Betawi ke panggung sastra nasional?
Beky, yang telah mengenal CGR sejak 2010 dan pernah berada dalam tim penyusunan Profil Database Orang Betawi, pada September ini secara terbuka mengapresiasi karya-karya CGR, termasuk Stamboel: Journal of Betawi Socio-Cultural Studies yang digagas dan dipimpinnya.

CGR dikenal melalui karya cerpen, puisi, esai dan catatan budaya yang menjadikan Betawi, Batavia, dan Jakarta sebagai basis kreativitasnya. Sejak Sebelas Colen di Malam Lebaran terbit pada 2008, kiprahnya mendapat perhatian sejumlah media dan tokoh sastra nasional.
Ia juga pernah menjadi redaktur sastra Majalah Horison setelah 15 cerpennya dimuat pada 2011–2015. Pada 12 November 2025, Pusat Studi Betawi UHAMKA memberikan PSB UHAMKA Awards kepada CGR sebagai satu-satunya penerima.
Namun, penghargaan serupa dari Pemprov DKI Jakarta belum pernah diterimanya.
Padahal, pada 2024 Kepala Dinas Kebudayaan DKI Jakarta Iwan Henry Wardhana pernah menyebut CGR sebagai “Pang hiji-hijina”, atau satu-satunya, sastrawan Betawi.
Kini apresiasi dari pimpinan LKB membuka kemungkinan baru. Apakah ini menjadi awal jalan CGR menuju Anugerah Budaya Pemprov DKI Jakarta?
Jika LKB memang memiliki peran penting dalam pengusulan penghargaan tersebut, publik tentu menunggu apakah apresiasi Beky Mardani akan berlanjut menjadi langkah konkret.
Sebab persoalannya bukan sekadar penghargaan kepada seorang sastrawan. Ini tentang bagaimana Jakarta menghargai orang yang selama puluhan tahun merawat ingatan, identitas, sejarah, dan kebudayaan Betawi melalui sastra.
Pertanyaan Ahmad Syubbanuddin Alwy bertahun-tahun lalu pun masih relevan: mengapa karya seorang sastrawan Betawi yang bergema secara nasional belum juga dilirik oleh Pemprov DKI Jakarta?*** (Septi)


























