Wartatrans.com, JAKARTA – Sejumlah klub BRI Super League 2026/27 mulai mengubah cara menjual tiket, dari transaksi per pertandingan menjadi akses sepanjang musim.
Persib Bandung, PSIM Yogyakarta dan Borneo FC Samarinda menawarkan paket 17 laga kandang sekaligus, sementara Persija Jakarta memperlihatkan besarnya skala permintaan tiket untuk pertandingan besar.

Hingga dua pekan pertama, BRI Super League 2026/27 mencatat 177.724 penonton. Basis penonton tersebut menjadi pasar penting ketika klub mencari cara agar ketertarikan terhadap pertandingan tidak berhenti setelah satu laga.
Menjelang laga, Ketua Panpel Persija Albin Laurent mengatakan, pihaknya menyiapkan 60.000 tiket, termasuk undangan dan tiket komplemen.
“Rencananya kita akan lepas 60.000. Enam puluh ribu tiket sudah termasuk undangan dan komplemen,” kata Albin, Senin (7/9/2026).
Laga Persija vs Persib di SUGBK pada Sabtu (12/9/2026) kemudian dihadiri 58.961 penonton, menurut data resmi I.League.
Besarnya angka tersebut menunjukkan permintaan terhadap pertandingan besar sekaligus skala pasar yang dapat dikelola klub.
Pengelolaan tiket tidak semata menyangkut harga dan jumlah penjualan, tetapi juga akses, keamanan dan karakter basis suporter.
“Dengan Full Season Pass, mereka tidak perlu lagi membeli tiket satu per satu untuk setiap pertandingan kandang,” kata Direktur Utama Borneo FC Samarinda Ponaryo Astaman, Kamis (3/9/2026).
Borneo mengaitkan Full Season Pass dengan Borneo ID Membership dan sejumlah benefit bagi pemegangnya.
Persib menawarkan Season Pass Rp2 juta untuk 17 laga kandang di tribun Timur, Utara dan Selatan. Sedangkan, PSIM menetapkan tiket terusan Rp925 ribu untuk Utara-Selatan, Rp1,5 juta untuk Timur dan Rp2,35 juta untuk VIP.
Direktur Utama PSIM Yuliana Tasno mengatakan kebijakan tersebut berkaitan dengan penguatan sisi komersial klub.
“Sekarang, karena kami juga memperkuat tim komersial, tidak hanya fokus pada skuad utama, kami merealisasikan aspirasi dari para suporter,” kata Yuliana, dikutip I.League, Selasa (1/9/2026).
Di sisi lain, Madura United memilih pendekatan berbeda dengan menurunkan harga tiket ekonomi dari Rp50 ribu menjadi Rp30 ribu untuk musim 2026/27.
Kebijakan tersebut diarahkan untuk memperluas akses suporter, sehingga strategi klub tidak hanya bertumpu pada paket tiket sepanjang musim.
PSIM tidak menetapkan target angka penjualan khusus. Fokus awalnya mengakomodasi aspirasi suporter, sementara penguatan tim komersial membuka ruang agar produk tiket berkembang menjadi bagian dari bisnis klub.
Benchmark ASEAN menunjukkan tingkat kematangan yang berbeda. Di Malaysia, Johor Darul Ta’zim mengubah Season Pass menjadi JDT Membership dengan 10 paket, mulai RM345 hingga RM9.750, serta benefit yang mencakup pertandingan, merchandise, makanan dan minuman hingga aktivitas nonsepak bola.
Di Thailand, Port FC menawarkan membership 2026/27 seharga 2.000 baht yang mencakup laga kandang Thai League dan piala, Shopee Cup, diskon jersey serta berbagai benefit mitra.
Sementara di Singapura, Lion City Sailors menggunakan membership yang dapat diperoleh secara gratis, dengan satu tiket kandang domestik gratis untuk laga pertama dan diskon 50 persen untuk pertandingan berikutnya.
Model tersebut menunjukkan tiket mulai ditempatkan sebagai pintu masuk menuju hubungan yang lebih panjang dengan suporter. Indonesia masih berada pada tahap awal, dengan tantangan mengubah pembeli tiket menjadi member dan pelanggan merchandise, sponsor serta aktivitas komersial klub secara berkelanjutan. (Artha Tidar)
































