Wartatrans.com, JAKARTA – Sebanyak 58.961 penonton menyaksikan pertandingan Persija Jakarta melawan Persib Bandung di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Sabtu (12/9/2026).
Persija menang 2-1 melalui gol Alexander Jeremejeff pada menit ke-41 dan Ivan Mamut pada masa tambahan waktu, setelah Persib menyamakan skor lewat Balsa Sekulic.

Laga pekan kedua Super League 2026/2027 itu menjadi pertandingan kandang Persija melawan Persib di Jakarta setelah lebih dari tujuh tahun.
Besarnya animo penonton tersebut berjalan seiring dengan upaya Persija memperkuat sumber pendapatan komersial.
Sehari sebelum laga, Direktur Olahraga Persija Jakarta Bambang Pamungkas menanggapi kerja sama baru klub dengan Hongsam Ball sebagai official energy drink partner.
“Semakin banyak produk yang bisa bekerjasama dengan Persija, itu semakin baik. Artinya, ada daya tarik dari Persija yang kemudian juga menambah kekuatan kami untuk mengarungi kompetisi musim ini dengan lebih baik,” tutur Bambang, Jumat (11/9/2026).
Daya tarik itu penting karena pertandingan dengan puluhan ribu penonton tidak hanya menghasilkan penjualan tiket.
Klub juga memiliki ruang untuk menawarkan eksposur kepada sponsor, merchandise, membership, hospitality serta berbagai aktivitas komersial di sekitar pertandingan.
Namun, tingginya jumlah penonton juga harus dilihat berhadapan dengan biaya penyelenggaraan.
Penjelasan mengenai hal tersebut disampaikan Bambang saat merespons polemik harga tiket acara launching tim Persija 2026/2027 yang dirangkaikan dengan laga uji coba melawan Brisbane Roar di Jakarta International Stadium (JIS), 29 Agustus.
Dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (27/8/2026), Bambang mengatakan, biaya menggelar pertandingan di Jakarta sangat besar.
“Perlu kita pahami bahwa untuk menjalankan pertandingan di Jakarta itu cost-nya cukup besar, sangat besar bahkan. Dan kalau boleh dianalogikan, cost itu mungkin bisa untuk melaksanakan pertandingan-pertandingan home di kota lain mungkin empat atau lima kali,” urainya.
Menurut dia, kontribusi ticketing selama ini sekitar 10-15 persen dari total pengeluaran Persija. Karena itu, pendapatan tiket menjadi salah satu sumber yang ingin dimaksimalkan.
Harga tiket Persija-Persib berada pada rentang Rp150.000 hingga Rp1,5 juta. Dengan 58.961 penonton, nilai bruto penjualan tiket secara teoritis dapat mencapai miliaran rupiah.
Jika rata-rata tiket Rp200.000, nilainya sekitar Rp11,79 miliar. Pada rata-rata Rp300.000, sekitar Rp17,69 miliar.
Angka tersebut hanya simulasi, bukan pendapatan aktual Persija. Komposisi tiket setiap kategori tidak dipublikasikan, sementara pendapatan bruto masih harus dikurangi berbagai biaya pertandingan.
Di level kompetisi, Direktur Komersial I.League Sadikin Aksa melihat daya saing Liga Indonesia sebagai salah satu modal komersial untuk menarik sponsor.
“Di situlah sebenarnya sponsor melihat, ‘Wah, Indonesia ini competitiveness level-nya tinggi’,” kata Sadikin dalam diskusi PSSI Pers, 31 Agustus 2026.
Pernyataan Sadikin memperlihatkan bahwa bagi operator liga, pertandingan dengan perhatian publik tinggi merupakan bagian dari produk yang dapat ditawarkan kepada sponsor.
Nilainya bukan hanya pada jumlah orang di stadion, tetapi juga jangkauan siaran, media sosial dan aktivasi merek.
Dengan demikian, 58.961 penonton bukan sekadar angka attendance. Itu adalah ukuran kuatnya permintaan pasar terhadap produk big match.
Tantangan Persija dan I.League adalah mengubah momentum satu pertandingan menjadi pendapatan berulang. Tiket menjadi pintu masuk, sementara sponsorship, merchandise, membership, hospitality dan bisnis digital menjadi lapisan monetisasi berikutnya.
Big match akhirnya bukan hanya soal hasil di lapangan. Di luar stadion, pertandingan juga menjadi produk ekonomi yang harus mampu menciptakan nilai bagi klub, sponsor, operator liga dan ekosistem usaha di sekitarnya. (Artha Tidar)































