Wartatrans.com, JAKARTA – Sedikitnya 12 dari 23 pemain yang ditetapkan pelatih Timnas U-20 Indonesia Nova Arianto untuk Kualifikasi Piala Asia U-20 2027 memiliki rekam jejak di kompetisi Elite Pro Academy (EPA) yang dapat diverifikasi.
Lebih dari separuh skuad itu menunjukkan bahwa kompetisi usia muda masih menjadi salah satu jalur menuju tim nasional.

Namun, jalur tersebut tidak berhenti di kompetisi junior. Di antara 23 pemain yang dipanggil Nova, Arkhan Kaka sudah memiliki dua caps bersama Timnas Indonesia senior.
Penyerang Garudayaksa FC itu menjalani debut senior saat Indonesia menghadapi Myanmar pada Piala AFF 2024 dan kembali tampil melawan Filipina.
Skuad yang diumumkan Sabtu (29/8/2026) itu akan menghadapi Malaysia, Laos, dan Australia di Grup H. Kualifikasi berlangsung 31 Agustus hingga 6 September 2026 di Laos.
Nova juga menyertakan tiga pemain yang berkarier di klub luar negeri, Welber Jardim, Amar Brkic, dan Eizar Jacob. Sebelum kualifikasi, Garuda Muda menjalani pemusatan latihan di Thailand serta pertandingan uji coba.
“Secara fokus kami adalah melihat perkembangan pemain selama ini baik dari sisi fisik, taktik dan mental dan saya senang semua pemain berprogres dengan baik,” kata Nova Arianto, pelatih Timnas U-20 Indonesia, Selasa (25/8/2026).
Rekam jejak EPA terlihat pula pada Er Deva Aulia Egon. Kiper yang kini memperkuat Kendal Tornado itu sebelumnya tampil bersama tim muda Persis Solo dan meraih penghargaan Kiper Terbaik EPA Super League U-20 2025/2026.
Ia kemudian masuk dalam 23 pemain yang dipanggil Nova.
Sejumlah pemain lain juga tercatat memiliki pengalaman di kompetisi EPA sebelum masuk skuad Nova.
Fakta tersebut menunjukkan kompetisi usia muda dapat menjadi bagian dari jalur pembentukan pemain, tetapi keberhasilannya tidak cukup diukur dari prestasi di kelompok umur.
Persija Jakarta U-20 menjadi juara EPA Super League U-20 2025/2026 setelah mengalahkan Malut United U-20 1-0 pada final di Bekasi, Minggu (17/5/2026). Setelah kompetisi junior selesai, tantangan berikutnya adalah memastikan pemain memperoleh kesempatan bermain di level senior.
Di sinilah persoalan transisi muncul. Pemain dapat berkembang dalam kompetisi kelompok usia, tetapi belum tentu mendapat kepercayaan ketika masuk tim senior yang memiliki tuntutan hasil.
I.League mencoba mendorong perubahan melalui skema insentif pemain muda pada Super League 2026/2027. Akumulasi 3.000 menit menjadi salah satu dasar pemberian insentif kepada klub yang memberikan kesempatan bermain kepada pemain muda.
“Kita sudah ada formulanya, setelah melewati minimal memainkan katakanlah 3.000 menit, maka akan ada insentif dalam bentuk kontribusi finansial kepada klub-klub yang memang memberikan kepercayaan kepada para pemain muda tersebut,” kata Asep Saputra, Direktur Kompetisi I.League, dalam League Talk di Jakarta, Jumat (19/6/2026).
Skema itu membuat menit bermain menjadi jembatan setelah kompetisi junior. Namun, 3.000 menit bukan tujuan akhir. Nilainya baru terlihat jika kesempatan tersebut menghasilkan pemain yang mampu berkembang di sepak bola senior.
Ukuran berikutnya adalah Asia. Indonesia pernah menjadi juara bersama pada 1961 dan dua kali menjadi runner-up, pada 1967 dan 1970. Indonesia belum kembali ke final Piala Asia U-20 sejak 1970.
Karena itu, tiga laga di Grup H bukan sekadar perebutan tiket ke putaran final 2027.
Laga tersebut menjadi ujian apakah kompetisi usia muda, pengalaman senior seperti yang dimiliki Arkhan Kaka, dan kesempatan bermain di level profesional mulai menghasilkan pemain yang siap bersaing di Asia. (Artha Tidar)
































