Wartatrans.com, JAKARTA – adidas, merek produk olahraga global asal Jerman, kembali ke pasar sepak bola Indonesia sebagai apparel resmi empat klub peserta BRI Super League 2026/2027 yang dimulai awal September 2026.
Mereka adalah Persija Jakarta, PSIM Yogyakarta, PSM Makassar, dan Bali United.

Kembalinya adidas membuka kembali persaingan bisnis jersey, merchandise, distribusi, dan hubungan langsung dengan basis suporter.
Jejak adidas di sepak bola Indonesia bukan hal baru. Persija memiliki sejarah panjang bersama adidas dan pernah menggunakan apparel tersebut pada era 1970-an hingga awal 1990-an, periode yang beririsan dengan tiga gelar Persija di kompetisi level tertinggi.
Pada awal Liga Indonesia 1994/1995, adidas kembali hadir dengan model berbeda sebagai pemasok perlengkapan klub peserta kompetisi.
Kini modelnya lebih langsung ke klub. Persija menggandeng adidas selama lima tahun untuk apparel dan perlengkapan tim senior serta kelompok usia muda, sekaligus menghadirkan fan jersey.
Peluncuran Persija dan jersey adidas di Jakarta International Stadium (JIS), Sabtu (29/8/2026), menjadi momentum masuknya kerja sama tersebut ke musim baru.
Presiden Persija Mohammad Prapanca mengatakan, agenda itu menjadi bagian dari persiapan klub menghadapi kompetisi.
“Melalui acara ini, kami akan memperkenalkan skuad dan jersey terbaru Persija,” kata Prapanca.
Dari sisi adidas, Senior Manager Brand Activation adidas Indonesia Cinita Dewi Mayakatri mengatakan keputusan menggandeng Persija juga mempertimbangkan identitas dan basis suporter klub.
“Durasinya, kerja sama antara Adidas dan Persija itu 5 tahun. Persija kan dia punya identitas tersendiri, ya kan. Dia punya sejarah yang cukup panjang. Fanbase-nya juga cukup tinggi,” kata Cinita pada 22 Juni.
PSIM memperlihatkan bagaimana apparel dapat menjadi bagian dari strategi identitas klub. Pada Sabtu (29/8), PSIM meluncurkan jersey adidas dengan motif Batik Parang untuk menghadapi BRI Super League 2026/2027.
Direktur Utama PSIM Liana Tasno mengatakan motif tersebut diperjuangkan agar identitas klub tetap terlihat kuat.
“Batik Parang itu memang sangat perlu diimplementasikan di dalam jerseynya PSIM. Maka saya betul-betul nge-fight banget ke Adidas,” ujar Liana.
PSIM mengikat kerja sama dengan adidas selama satu musim dan akan mengevaluasinya sebelum membahas kelanjutan. Jersey berada pada kisaran Rp700.000-Rp800.000.
Di Makassar, PSM juga melanjutkan kerja sama dengan adidas untuk musim 2026/2027.
Direktur Komersial PSM Hafit Timor Mas’ud menyebut, desain baru tetap membawa identitas lokal.
“Masih dengan kapal pinisi, cuma ada surprise di jersey special edition,” ujar Hafit pada Juli 2026.
PSM sebelumnya telah mengembangkan penjualan merchandise melalui official store. Pada pembukaan toko pada September 2025, klub menyediakan jersey player issue seharga Rp1 juta serta berbagai produk pendukung lainnya.
Bali United berada pada segmen harga lebih tinggi. Tiga jersey performance 2026/2027, kandang, tandang, dan ketiga, dipasarkan adidas masing-masing Rp1,1 juta. Kanal resmi adidas juga menampilkan jersey Bali United 2026/2027 sebagai hasil kolaborasi dengan seniman Bali Rakajana.
Bisnis Olahraga
Perbedaan durasi kerja sama, harga, produk, dan distribusi menunjukkan nilai bisnis apparel tidak seragam di setiap klub.
Potensi pasarnya dapat dihitung sebagai simulasi. Dengan basis gabungan pengikut digital empat klub diasumsikan mencapai 7,4 juta, tingkat pembelian 1 persen berarti 74.000 pembeli.
Pada harga rata-rata Rp600.000, nilai penjualan kotor secara teori mencapai Rp44,4 miliar dalam satu musim.
Angka tersebut bukan omzet aktual adidas atau klub. Karena skema pembagian hasil tidak dipublikasikan, bagian yang diterima masing-masing klub juga belum dapat dihitung secara pasti.
Sebagai ilustrasi, transaksi merchandise Rp10 miliar akan menghasilkan Rp500 juta bagi klub dengan porsi 5 persen, Rp1 miliar pada porsi 10 persen, dan Rp1,5 miliar pada porsi 15 persen.
Prosentase tersebut hanya digunakan untuk melihat ruang nilai bisnis, bukan menggambarkan skema bagi hasil dalam kontrak adidas.
Potensi bisnis juga tidak berhenti pada jersey. Apparel latihan, jaket, topi, aksesori, produk anak, dan koleksi khusus dapat memperbesar nilai belanja per suporter sekaligus membuka peluang transaksi berulang sepanjang musim.
Dari sisi klub, Persela Lamongan yamg tampil di liga 2 (championahip) musim ini memberi contoh konkret.
Pada Juli 2026, mereka mulai menempatkan apparel sebagai sumber pendapatan. COO Persela Edy Yunan Achmadi mengatakan, Octagon, merek apparel lokal yang dikembangkan Persela, tidak hanya memenuhi kebutuhan jersey dan perlengkapan tim, tetapi juga diarahkan menjadi model bisnis klub.
“Octagon ini salah satu bisnis Persela. Brand ini bagian dari Persela. Tidak hanya menyuplai kebutuhan jersey dan perlengkapan Persela, tetapi juga menjadi bisnis yang kami kembangkan untuk Persela,” kata Edy.
Perbandingan ini memperlihatkan dua model bisnis apparel di sepak bola Indonesia. Klub dapat membangun merek sendiri seperti Persela melalui Octagon, atau menggandeng merek global seperti adidas untuk memperluas akses pada desain, produksi, distribusi, dan kekuatan merek.
Bagi klub, manfaat ekonomi juga dapat muncul dari penyediaan perlengkapan tim oleh apparel partner.
Sebagian kebutuhan apparel yang ditanggung mitra berpotensi mengurangi beban pengadaan klub, meski nilainya belum dapat dihitung tanpa rincian kontrak.
Perubahan ini memperlihatkan pergeseran posisi adidas dari era Liga Indonesia ke 2026/2027. Jika dahulu adidas banyak berperan sebagai pemasok kompetisi, kini klub menjadi pintu menuju fanbase dan retail menjadi kanal penjualan.
Pada Juni 2026, adidas membuka Home of Football di Pondok Indah Mall 3, Jakarta, sebagai football specialist store pertamanya di Indonesia. Kehadiran kanal khusus tersebut memberi ruang bagi adidas untuk menghubungkan kemitraan klub dengan pasar konsumen sepak bola.
Bagi adidas, empat klub menjadi titik masuk kembali ke ekosistem sepak bola Indonesia. Bagi klub, nilai kerja sama akhirnya tidak hanya ditentukan kontrak apparel, tetapi kemampuan mengubah loyalitas suporter menjadi pembelian jersey dan merchandise secara berulang. (Artha Tidar)































