Menu

Mode Gelap
Ramaikan GBK, Penonton Pertandingan Persija-Persib Tembus 58.961 Aceh Coffee Day Rayakan Dua Tahun Hari Kopi Aceh Dihelat 15 September 2026 Bidik Ekosistem Umrah Terintegrasi, JARDY Travel Gandeng BPRS Harum Hikmahnugraha Gubernur Jateng Ahmad Luthfi Buka Akses Masyarakat Saksikan Langsung MTQ Nasional XXXI di Semarang KAI Daop 4 Semarang Siap Layani Mobilitas Masyarakat pada MTQ Nasional XXXI, Penumpang Melonjak Naik KAI Daop 1 Jakarta Gunakan 6,5 Juta Liter B50, Operasional KA Tetap Lancar

OLAH RAGA

I.League Berlakukan 3.000 Menit Bermain Jadi Insentif Finansial Bagi Pesepakbola Muda

badge-check


 I.League Berlakukan 3.000 Menit Bermain Jadi Insentif Finansial Bagi Pesepakbola Muda Perbesar

Wartatrans.com, JAKARTA — I.League mengubah kewajiban memainkan pemain U-23 menjadi skema insentif berbasis menit bermain. Mulai Super League 2026/2027, klub yang memberi kesempatan kepada pemain muda akan memperoleh insentif finansial, dengan nilai yang semakin besar untuk pemain berusia lebih muda.

Direktur Utama I.League Ferry Paulus mengatakan perubahan tersebut mempertimbangkan benchmark klub luar negeri. Pergeseran usia pemain elite menjadi salah satu alasan I.League mengubah pendekatan dari kewajiban menjadi insentif.

“Karena memang kalau kita melihat benchmark dari klub-klub di luar, sekarang golden age-nya sudah betul-betul bergeser. Kita lihat yang namanya Donny Tri Pamungkas masih muda ya, 20 tahun, tapi Lamine Yamal lebih muda. Nah kita kepengin punya Lamine-Lamine yang lain juga sehingga kita memberikan insentif yang betul-betul ekstra,” kata Ferry dalam RUPS I.League di Jakarta, Rabu (26/8/2026).

Benchmark Inggris menunjukkan insentif pemain muda bukan konsep baru. Pada 2016, English Football League (EFL) meluncurkan EFL Futures dengan dana £2,25 juta selama tiga musim bagi klub yang memberi kesempatan kepada pemain muda Inggris.

Di Eropa, Union of European Clubs (UEC) mengusulkan Player Development Reward (PDR), mekanisme penghargaan finansial yang mengaitkan distribusi dana dengan kontribusi klub terhadap pengembangan pemain. PDR merupakan proposal UEC, bukan program UEFA.

Di Indonesia, Direktur Kompetisi I.League Asep Saputra menyebut sekitar 3.000 menit sebagai contoh batas dalam formula insentif. “Setelah melewati minimal memainkan, katakanlah 3.000 menit, maka akan ada insentif dalam bentuk kontribusi finansial kepada klub-klub yang memang memberikan kepercayaan kepada para pemain muda tersebut,” kata Asep pada Juni 2026.

Sebelumnya, klub wajib memainkan sedikitnya satu pemain U-23 sebagai starter selama minimal 45 menit. Mulai musim 2026/2027, kewajiban tersebut dihapus dan diganti mekanisme insentif berdasarkan akumulasi menit bermain.

Ferry mengatakan nilai insentif tidak seragam. Semakin muda pemain yang memperoleh kesempatan bermain, semakin besar insentif yang disiapkan I.League.

Perubahan itu menjadikan menit bermain sebagai variabel ekonomi dalam kompetisi profesional. Namun, akumulasi menit tidak otomatis menunjukkan kualitas perkembangan pemain.

Garuda International Cup (GIC) 2026 menjadi konteks lain dalam kebutuhan memperbanyak kompetisi pemain muda. Turnamen usia muda internasional itu diikuti 72 tim dari 13 negara dan berlangsung di Sentul, Jawa Barat.

Mantan pelatih Timnas U-20 Indonesia Indra Sjafri, yang menjadi Technical Advisor GIC 2026, menekankan pentingnya proses pembinaan. “Sejatinya sepak bola itu butuh proses. Tidak bisa instan. GIC menjadi salah satu rangkaian dalam proses tersebut. Menempa pemain muda Indonesia melalui kompetisi bertaraf internasional,” kata Indra di Sentul, Jawa Barat, Kamis (20/8/2026).

Pelatih Timnas Indonesia U-19 Nova Arianto juga mengingatkan pentingnya kompetisi khusus bagi pemain muda setelah kewajiban U-23 dihapus. “Dan saya harapkan juga ada kompetisi yang khusus bagi usia muda agar mereka bisa terus bermain di kompetisi pastinya,” kata Nova di Yogyakarta, Selasa (19/5/2026).

Karena itu, sekitar 3.000 menit seharusnya dipandang sebagai parameter insentif, bukan ukuran akhir pembinaan. Ukuran sebenarnya adalah apakah kesempatan bermain tersebut menghasilkan pemain yang mampu naik level dan bersaing untuk Timnas U-17, U-20, U-23 hingga senior.

Jika insentif mendorong klub memberi pemain muda kesempatan karena kualitas sekaligus manfaat ekonomi, kebijakan ini dapat memperkuat jalur pembinaan. Sebaliknya, jika menit hanya dikejar demi insentif, angka tersebut berisiko menjadi target administratif tanpa dampak berarti bagi Timnas.*** (Artha Tidar)

Baca Lainnya

Ramaikan GBK, Penonton Pertandingan Persija-Persib Tembus 58.961

13 September 2026 - 05:06 WIB

Potensi Rp8.000 Triliun Industri Olahraga dan Tantangan Monetisasi

11 September 2026 - 21:36 WIB

Persija-Persib Siap Laga di GBK Jakarta Besok

11 September 2026 - 05:30 WIB

Indonesia Bungkam Juara Bertahan di Piala Asia U-20, 3 Kali Pemuncak dan Lolos

6 September 2026 - 22:20 WIB

Abu Gunung Anak Krakatau Berdampak Tanding Sepak Bola, Klub Ubah Rute Pulang Persija dan Persebaya

6 September 2026 - 17:04 WIB

Akurasi Wasit 92 Persen, 3 Elite AFC Jadi Modal Musim Baru Super League 2026/2027

4 September 2026 - 15:22 WIB

Timnas U-20 Puncaki Grup H, Laga Australia Jadi Penentu Tradisi Lolos

4 September 2026 - 05:09 WIB

Indonesia Target 4 Emas di Asian Games 2026

3 September 2026 - 05:15 WIB

Industri Olahraga Global US$521 Miliar, Seberapa Besar RI Menangkapnya?

31 Agustus 2026 - 14:35 WIB

Hadapi Manila Digger, Persib Pangkas Waktu Perjalanan dari Bandara Husein

31 Agustus 2026 - 09:16 WIB

Trending di BANDARA