Menu ✖

Mode Gelap
Cari Inspirasi Liburan Akhir Pekan? Ini 10 Stasiun KAI dengan Pertumbuhan Pelanggan Tertinggi KAI Commuter Batalkan 7 Perjalanan KRL Bogor pada Senin 19 Oktober Aplikasi All Indonesia Kini Terhubung ke Whoosh AHY Run Jawa Tengah 2026 dapat Apresiasi Baik dari Menko IPK, Gubernur Jateng, dan Masyarakat Pengawasan Kendaraan ODOL di Pelabuhan Tanjung Perak Diperkuat Anggota DPRD Jawa Barat Prihatin atas Karhutla di Sejumlah Wilayah Indonesia

OLAH RAGA

I.League Berlakukan 3.000 Menit Bermain Jadi Insentif Finansial Bagi Pesepakbola Muda

badge-check


 I.League Berlakukan 3.000 Menit Bermain Jadi Insentif Finansial Bagi Pesepakbola Muda Perbesar

Wartatrans.com, JAKARTA — I.League mengubah kewajiban memainkan pemain U-23 menjadi skema insentif berbasis menit bermain. Mulai Super League 2026/2027, klub yang memberi kesempatan kepada pemain muda akan memperoleh insentif finansial, dengan nilai yang semakin besar untuk pemain berusia lebih muda.

Direktur Utama I.League Ferry Paulus mengatakan perubahan tersebut mempertimbangkan benchmark klub luar negeri. Pergeseran usia pemain elite menjadi salah satu alasan I.League mengubah pendekatan dari kewajiban menjadi insentif.

“Karena memang kalau kita melihat benchmark dari klub-klub di luar, sekarang golden age-nya sudah betul-betul bergeser. Kita lihat yang namanya Donny Tri Pamungkas masih muda ya, 20 tahun, tapi Lamine Yamal lebih muda. Nah kita kepengin punya Lamine-Lamine yang lain juga sehingga kita memberikan insentif yang betul-betul ekstra,” kata Ferry dalam RUPS I.League di Jakarta, Rabu (26/8/2026).

Benchmark Inggris menunjukkan insentif pemain muda bukan konsep baru. Pada 2016, English Football League (EFL) meluncurkan EFL Futures dengan dana £2,25 juta selama tiga musim bagi klub yang memberi kesempatan kepada pemain muda Inggris.

Di Eropa, Union of European Clubs (UEC) mengusulkan Player Development Reward (PDR), mekanisme penghargaan finansial yang mengaitkan distribusi dana dengan kontribusi klub terhadap pengembangan pemain. PDR merupakan proposal UEC, bukan program UEFA.

Di Indonesia, Direktur Kompetisi I.League Asep Saputra menyebut sekitar 3.000 menit sebagai contoh batas dalam formula insentif. “Setelah melewati minimal memainkan, katakanlah 3.000 menit, maka akan ada insentif dalam bentuk kontribusi finansial kepada klub-klub yang memang memberikan kepercayaan kepada para pemain muda tersebut,” kata Asep pada Juni 2026.

Sebelumnya, klub wajib memainkan sedikitnya satu pemain U-23 sebagai starter selama minimal 45 menit. Mulai musim 2026/2027, kewajiban tersebut dihapus dan diganti mekanisme insentif berdasarkan akumulasi menit bermain.

Ferry mengatakan nilai insentif tidak seragam. Semakin muda pemain yang memperoleh kesempatan bermain, semakin besar insentif yang disiapkan I.League.

Perubahan itu menjadikan menit bermain sebagai variabel ekonomi dalam kompetisi profesional. Namun, akumulasi menit tidak otomatis menunjukkan kualitas perkembangan pemain.

Garuda International Cup (GIC) 2026 menjadi konteks lain dalam kebutuhan memperbanyak kompetisi pemain muda. Turnamen usia muda internasional itu diikuti 72 tim dari 13 negara dan berlangsung di Sentul, Jawa Barat.

Mantan pelatih Timnas U-20 Indonesia Indra Sjafri, yang menjadi Technical Advisor GIC 2026, menekankan pentingnya proses pembinaan. “Sejatinya sepak bola itu butuh proses. Tidak bisa instan. GIC menjadi salah satu rangkaian dalam proses tersebut. Menempa pemain muda Indonesia melalui kompetisi bertaraf internasional,” kata Indra di Sentul, Jawa Barat, Kamis (20/8/2026).

Pelatih Timnas Indonesia U-19 Nova Arianto juga mengingatkan pentingnya kompetisi khusus bagi pemain muda setelah kewajiban U-23 dihapus. “Dan saya harapkan juga ada kompetisi yang khusus bagi usia muda agar mereka bisa terus bermain di kompetisi pastinya,” kata Nova di Yogyakarta, Selasa (19/5/2026).

Karena itu, sekitar 3.000 menit seharusnya dipandang sebagai parameter insentif, bukan ukuran akhir pembinaan. Ukuran sebenarnya adalah apakah kesempatan bermain tersebut menghasilkan pemain yang mampu naik level dan bersaing untuk Timnas U-17, U-20, U-23 hingga senior.

Jika insentif mendorong klub memberi pemain muda kesempatan karena kualitas sekaligus manfaat ekonomi, kebijakan ini dapat memperkuat jalur pembinaan. Sebaliknya, jika menit hanya dikejar demi insentif, angka tersebut berisiko menjadi target administratif tanpa dampak berarti bagi Timnas.*** (Artha Tidar)

Baca Lainnya

AHY Run Jawa Tengah 2026 dapat Apresiasi Baik dari Menko IPK, Gubernur Jateng, dan Masyarakat

18 Oktober 2026 - 18:13 WIB

Pimpin PABERSI Sulteng, Farid Podungge Bidik Prestasi Atlet di PON 2028

17 Oktober 2026 - 20:13 WIB

26 UMKM Binaan PLN UID Jakarta Raup Rp200 Juta Selama FIFA ASEAN Cup

7 Oktober 2026 - 17:19 WIB

Suasana Tegang Menyelimuti Nobar Final FIFA ASEAN Cup 2026 di Kantor Gubernur Jateng

6 Oktober 2026 - 09:31 WIB

Timnas Juara FIFA ASEAN Cup, Presiden Siapkan Bonus Ekstra

6 Oktober 2026 - 07:54 WIB

AFC Dorong Asian Nations League, Beban Biaya Perjalanan jadi Sorotan

5 Oktober 2026 - 16:22 WIB

Indonesia 9-2 Bangladesh, FIFA ASEAN Cup Turut Dorong Ekonomi Bandung

2 Oktober 2026 - 18:55 WIB

Peluncuran Buku Dampak MotoGP Mandalika, InJourney: Tegaskan Peran Sport Tourism sebagai Penggerak Ekonomi

1 Oktober 2026 - 08:21 WIB

BNI Apresiasi Pembinaan PBSI, Bulu Tangkis Sumbang 6 Medali di Asian Games 2026

30 September 2026 - 10:44 WIB

Indonesia-Malaysia Imbang 0-0 di Laga Kedua Grup A FIFA ASEAN Cup 2026

29 September 2026 - 07:21 WIB

Trending di OLAH RAGA