Wartatrans.com, JAKARTA – Dari Clairefontaine, Prancis, hingga panggung internasional di Kudus, PSSI memperluas ruang tumbuh Timnas Putri kelompok usia melalui pemusatan latihan dan kompetisi menghadapi negara-negara Asia.
Sebanyak 19 pemain Timnas Putri U-17 menjalani pemusatan latihan di Clairefontaine pada 3-9 Mei 2026 melalui kolaborasi PSSI dan Federasi Sepak Bola Prancis (FFF).

Program tersebut memberi pengalaman latihan dan pembentukan aspek teknis, taktik, serta mental di lingkungan sepak bola elite.
Pengalaman itu berlanjut melalui Caffino Srikandi Merdeka Cup 2026 di Supersoccer Arena, Kudus, 14-23 Agustus.
Turnamen ini mempertemukan delapan tim dari tujuh negara Asia, dengan Indonesia menurunkan Garuda Pertiwi dan Putri Nusantara.
Jalur menjadi relevan jika melihat performa kelompok umur Indonesia sejak 2022. Pada kualifikasi AFC U-17 2023, Indonesia menang 14-0 atas Guam dan 3-2 atas Uni Emirat Arab, tetapi kalah 1-5 dari Malaysia.
Di level U-20, Indonesia gagal lolos ke putaran final AFC U-20 Women’s Asian Cup 2024 setelah finis ketiga Grup F pada kualifikasi.
Pada 2024, Indonesia tampil di AFC U-17 Women’s Asian Cup sebagai tuan rumah, tetapi kalah 1-6 dari Filipina, 0-12 dari Korea Selatan, dan 0-9 dari Korea Utara.
Setahun kemudian, Indonesia kembali gagal lolos ke putaran final AFC U-17 Women’s Asian Cup 2026 setelah kalah 0-1 dari Myanmar pada laga penentu kualifikasi.
Di Kudus, Garuda Pertiwi menunjukkan perkembangan berbeda. Tim asuhan Timo Scheunemann menyapu tiga laga fase grup dengan kemenangan 7-0 atas Arab Saudi, 3-0 atas Malaysia, dan 1-0 atas Hong Kong untuk menjadi juara Grup A dan melaju ke semifinal.
Sementara Putri Nusantara ditangani Takumi Taniguchi. Kehadiran dua tim memberi ruang lebih luas bagi pemain muda untuk mendapatkan menit bermain dan menghadapi karakter permainan berbeda.
Menurut Ketua Umum PSSI Erick Thohir, kesempatan bertanding melawan negara-negara Asia sama pentingnya dengan hasil yang diraih di lapangan.
Turnamen menjadi ruang untuk menilai perkembangan pemain secara menyeluruh, mulai dari kemampuan teknis dan pemahaman taktik hingga pola hidup, sikap, mentalitas, dan kesiapan menghadapi tekanan pertandingan.
“Hal ini membuktikan bahwa PSSI terus mendorong pengembangan timnas putri, baik di usia muda dan level timnas tanpa membedakan dengan para pemain putra. Dukungan PSSI hadir dalam bentuk pengalaman nyata di dalam dan luar negeri,” ujar Erick Thohir di Jakarta, Kamis (20/8/2026).
Perwakilan pemain Garuda Pertiwi, Ayla Dva Khala Ahisma, dalam kesempatan yang sama menilai pengalaman di Prancis dan Kudus saling melengkapi.
Pemain jebolan MilkLife Soccer Challenge dan HYDROPLUS Soccer League itu menyebut kesempatan internasional membantu pemain memahami tuntutan sepak bola pada level lebih tinggi.
“Rasanya bangga sekali bisa mendapat kesempatan mewakili Indonesia di turnamen internasional. Setelah berlatih di Clairefontaine, sekarang kami bisa bertanding di Kudus melawan negara-negara Asia. Kami merasakan perhatian PSSI terhadap perkembangan pemain putri semakin besar. Pengalaman ini membuat kami ingin terus belajar, bekerja keras, dan membuktikan bahwa talenta muda Indonesia siap berkembang,” urai Ayla.
Pembinaan tersebut juga terhubung dengan kompetisi usia dini, termasuk MilkLife Soccer Challenge dan HYDROPLUS Soccer League.
Tantangan PSSI berikutnya adalah memastikan pengalaman internasional tidak berhenti pada satu program, tetapi menjadi siklus pembinaan berkelanjutan menuju tim nasional U-17 hingga senior. (Artha Tidar)































