Wartatrans.com, JAKARTA – Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) mendorong pembentukan Nations League Asia yang ditargetkan mulai 2030.
Gagasan kompetisi tersebut telah disampaikan AFC sejak Desember 2025, sementara detail rancangan formatnya baru terungkap pada 4 Oktober 2026 berdasarkan dokumen yang dilihat ESPN.
Dalam rancangan terbaru itu, kompetisi dua tahunan akan mencakup 47 asosiasi anggota AFC dalam tiga tier, masing-masing 18 tim di Tier 1 dan Tier 2 serta 11 tim di Tier 3.
Kompetisi juga dirancang terintegrasi dengan kualifikasi Piala Dunia dan Piala Asia.
Untuk siklus yang terhubung dengan kualifikasi Piala Dunia mulai 2032-33, tim Tier 1 akan memainkan 12 pertandingan, terdiri dari enam laga kandang dan enam tandang.
Format tersebut membuat persoalan perjalanan menjadi salah satu aspek yang perlu diperhitungkan sejak awal.
Rancangan itu muncul ketika beban kalender kembali menjadi sorotan dalam Nations League. CEO Professional Footballers’ Association (PFA) Maheta Molango pada Selasa (29/9/2026) menilai absennya sejumlah pemain Inggris dari Nations League menunjukkan tekanan kalender terhadap pemain elite.
“Dia absen karena menjadi korban kalender, dan saya pikir itu sesuatu yang benar-benar harus membunyikan alarm,” kata Molango mengenai Cole Palmer.
Ia menambahkan, “Tubuh Anda memiliki batas. Anda tidak bisa mengakali biologi.” Pernyataan tersebut disampaikan dalam konteks Nations League Inggris, bukan proposal AFC.
Persoalan tersebut relevan bagi Asia yang memiliki bentang geografis luas. Kapten Jepang Wataru Endo dalam wawancara dengan FIFPRO, Senin (23/2/2026), secara khusus menyoroti tuntutan perjalanan pemain Asia dan Amerika Selatan.
“Khususnya bagi pemain dari Asia atau Amerika Selatan, tuntutan perjalanan sangat tinggi, dan kami perlu mencari cara untuk tetap menjalankan aktivitas bersama tim nasional sambil mengatasi berbagai persoalan lainnya,” kata Endo.
Endo juga mengatakan, jumlah pertandingan meningkat signifikan dari tahun ke tahun sehingga pemain membutuhkan kondisi kerja yang lebih baik.
Menurutnya, serikat pemain memiliki peran penting untuk membantu menangani persoalan perjalanan dan kondisi kerja pemain.
Data FIFPRO memperlihatkan persoalan tersebut bukan sekadar persepsi pemain. Dalam analisis AFC Champions League, rata-rata perjalanan tandang fase grup mencapai 3.670 kilometer, sementara 72 persen pemain yang disurvei merasa berisiko cedera karena jeda pertandingan dan atau kebutuhan perjalanan.
FIFPRO juga mencatat beban perjalanan internasional pemain Asia dan Oseania sebagai bagian dari persoalan workload yang lebih luas. Beban tersebut berkaitan dengan waktu perjalanan, pemulihan, dan tuntutan kalender lintas kompetisi.
Dari sisi AFC, Sekretaris Jenderal AFC Datuk Seri Windsor John pada 21 Desember 2025 mengatakan platform kompetisi yang terstruktur dalam jendela FIFA ditujukan untuk memastikan akses konsisten terhadap pertandingan berkualitas tinggi. Pernyataan itu menjadi bagian dari komunikasi awal AFC mengenai pembentukan Nations League.
Persoalan beban pemain kembali dibahas FIFPRO pada 28 September 2026 melalui Peak Performance & Health Summit di London.
Forum tersebut membahas bagaimana beban fisik dan mental, waktu kerja, serta jadwal kompetisi memengaruhi kesehatan dan performa pemain.
Bagi Indonesia, rancangan Nations League AFC bukan sekadar penambahan kompetisi tim nasional. Jika format 12 pertandingan Tier 1 diterapkan dan perjalanan antarkawasan menjadi agenda rutin, Timnas Indonesia berpotensi menghadapi tambahan beban perjalanan di tengah jadwal kualifikasi dan kompetisi lainnya.
Persoalan itu juga menyentuh pemain yang berkarier di luar negeri. Perjalanan dari Eropa ke Asia untuk membela tim nasional, kemudian kembali ke klub, dapat mempersempit waktu pemulihan dan persiapan pertandingan.
Karena itu, ukuran keberhasilan Nations League AFC bukan hanya seberapa banyak pertandingan berkualitas yang didapat Timnas.
Jarak penerbangan, perbedaan zona waktu, waktu pemulihan, serta koordinasi dengan klub perlu masuk dalam desain kalender agar penambahan pertandingan tidak berubah menjadi tambahan beban fisik dan biaya pengelolaan tim nasional. (Artha Tidar)


























