Wartatrans.com, JAKARTA – Timnas Indonesia menjuarai FIFA ASEAN Cup 2026 setelah mengalahkan Thailand 4-2 melalui adu penalti, usai bermain 2-2 selama 120 menit di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senin (5/10/2026).
Gelar perdana turnamen itu sekaligus mengakhiri penantian Indonesia selama 35 tahun untuk meraih gelar kompetisi resmi senior.
Gelar tersebut tidak lahir hanya dari drama penalti. Indonesia menguasai 64 persen bola dan melepaskan 25 tembakan, sembilan di antaranya tepat sasaran. Thailand hanya mencatat 36 persen penguasaan bola, 12 tembakan, dan empat tembakan tepat sasaran.
Dominasi itu menunjukkan perubahan pola permainan Indonesia ketika menghadapi Thailand. Skuad Garuda lebih berani menguasai bola dan membangun serangan, sementara Thailand lebih banyak menunggu lalu mengandalkan transisi.
Namun, keunggulan statistik belum sepenuhnya berbanding lurus dengan hasil selama pertandingan.
Indonesia sempat unggul melalui Dean James pada menit ke-84, tetapi Iklas Sanron menyamakan skor tiga menit kemudian. Thailand bahkan berbalik unggul melalui Peeradol Chamratsamee pada menit ke-111, sebelum Elkan Baggott menyamakan kedudukan pada menit ke-116.
Kiper Emil Audero kemudian menjadi penentu. Setelah empat eksekutor Indonesia, Kevin Diks, Dean James, Elkan Baggott, dan Shayne Pattynama, berhasil menjalankan tugas, Audero menggagalkan tendangan Nattapong Sayriya.
“Ini malam yang sangat spesial bagi kami karena berhasil menciptakan sejarah,” ujar Emil dalam sesi flash interview seusai laga.
Ia menilai tim memiliki karakter kuat dan menekankan pentingnya tidak menyerah.
Pelatih John Herdman menilai keberhasilan tersebut tidak terlepas dari kebersamaan pemain dan dukungan suporter.
“Saya bangga kepada para suporter yang tetap bersama kami sampai tendangan penalti terakhir dan Emil Audero melakukan penyelamatan,” ujar Herdman.
Perjuangan hingga menit terakhir itu juga mendapat apresiasi dari Presiden Prabowo Subianto.
“Mereka tidak menyerah sampai detik-detik terakhir,” kata Prabowo.
Mengenai bonus, ia menyerahkan pengaturannya kepada Ketua Umum PSSI Erick Thohir.
Erick kemudian memastikan apresiasi tambahan dari Presiden.
“Nanti saja, yang pasti Pak Presiden nambahin kok,” ujar Erick seusai final.
Ia juga menegaskan gelar ini harus menjadi pelajaran untuk menghadapi tantangan yang lebih tinggi.
FIFA mencatat Indonesia sebagai juara perdana, setelah final berlangsung dramatis dan ditentukan dari titik putih.
Bagi PSSI, capaian ini sekaligus menaikkan ekspektasi publik: keberhasilan regional kini perlu diterjemahkan menjadi performa konsisten dan daya saing yang lebih tinggi di level Asia.
Nilai komersial dari gelar ini belum bisa dihitung hanya dari hadiah juara. FIFA belum mencantumkan nominal prize money secara resmi, sehingga angka US$650 ribu yang beredar belum layak diperlakukan sebagai angka final.
Namun, gelar ini memberi PSSI modal reputasi yang dapat dikonversi menjadi nilai ekonomi melalui sponsor, hak siar, penjualan tiket, merchandise, serta agenda pertandingan timnas berikutnya.
Tantangannya kini adalah bagaimana PSSI mempertahankan momentum tersebut dan mengubah prestasi regional menjadi daya tarik komersial yang lebih kuat di level Asia. (Artha Tidar)



























