Wartatrans.com, JAKARTA – Kekalahan telak 0-3 dari Vietnam di Stadion Pakansari Senin (3/8/2026), kembali menempatkan Tim Nasional Indonesia dalam posisi kritis menjelang laga pamungkas fase grup Piala AFF 2026.
Situasi tersebut menguji kemampuan Skuad Garuda menjaga mental sekaligus memperbaiki aspek teknis sebelum pertandingan penentu.

Hingga matchday ketiga Grup A, Indonesia berada di peringkat ketiga dengan koleksi enam poin dan selisih gol +4.
Posisi tersebut berada di bawah Vietnam dan Singapura yang sama-sama mengoleksi tujuh poin. Singapura memiliki selisih gol +3, sedangkan Indonesia +4, sehingga persaingan menuju semifinal masih sangat ketat.
Ancaman Indonesia bukan hanya berasal dari klasemen, tetapi juga rekam jejak pertemuan dengan Singapura. Dalam sejarah Piala AFF, Singapura beberapa kali menjadi lawan yang menyulitkan Garuda, termasuk saat menghentikan Indonesia pada final saat event masih berlabel Piala Tiger, yakni 2004, dan Piala AFF 2012.
Namun, sejarah Piala AFF juga mencatat kemampuan Indonesia bangkit ketika berada dalam tekanan.
Sejak era Piala Tiger 2000, Skuad Garuda beberapa kali menunjukkan respons positif dalam pertandingan yang menentukan.
Pada Piala Tiger 2000, Indonesia mengalahkan Myanmar 5-0 dalam fase grup sebelum melaju hingga final.
Empat tahun kemudian, pada Piala Tiger 2004, Indonesia kembali mencatat kemenangan besar dengan mengalahkan Laos 8-0 dan melanjutkan perjalanan hingga partai puncak.
Karakter menghadapi tekanan kembali terlihat pada Piala AFF 2016. Indonesia mampu membalikkan keadaan saat menghadapi Singapura dalam laga penentuan grup.
Sempat tertinggal 0-1, Garuda mencetak dua gol balasan dan menang 2-1 untuk memastikan tiket semifinal.
Pola kebangkitan juga muncul pada Piala AFF 2020 ketika Indonesia menghadapi Malaysia dalam laga penting fase grup.
Sempat tertinggal lebih dulu, Garuda merespons dengan empat gol balasan dan menang 4-1 untuk memastikan posisi juara Grup B.
Pelatih Timnas Indonesia John Herdman menilai perbaikan organisasi permainan menjadi fokus utama setelah kekalahan dari Vietnam.
Kerapatan formasi menjadi aspek yang harus diperbaiki agar keseimbangan tim tetap terjaga.
“Saya rasa bagi kami, kami harus tetap menjaga kerapatan formasi. Baik saat kami menyerang maupun bertahan, formasi harus tetap rapat,” ungkap John Herdman dalam konferensi pers usai laga melawan Vietnam di Stadion Pakansari, Bogor, Jawa Barat, Senin (3/8/2026).
Pada laga terakhir Grup A melawan Singapura di Stadion Jalan Besar, pada Jumat (7/8/2026), Indonesia membutuhkan kemenangan untuk menjaga peluang lolos ke semifinal.
Pertandingan tersebut menjadi ujian resiliensi Skuad Garuda, apakah mampu mengulang karakter bangkit dalam sejarah Piala AFF atau kembali menghadapi kesulitan saat berhadapan dengan Singapura. (Artha Tidar)
































