Wartatrans.com, JAKARTA – Sebanyak 60 ribu tiket disiapkan untuk laga Persija Jakarta melawan Persib Bandung di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Sabtu (12/9/2026).
Namun pengamanan pertandingan berisiko tinggi itu tidak berhenti di stadion karena perjalanan puluhan ribu suporter dapat memengaruhi lalu lintas, transportasi, dan aktivitas kota.

Persija kembali menjamu Persib di Jakarta setelah tujuh tahun laga kandang Persija melawan rivalnya tidak digelar di ibu kota.
Direktur Utama I.League Ferry Paulus mengatakan, kepadatan dan kesibukan Jakarta menjadi salah satu pertimbangan pertandingan beberapa kali digelar di luar kota.
“Kami tahu bahwa pertandingan ini sudah cukup lumayan lama tidak ada di Jakarta ya, beberapa kali karena padat dan kesibukannya kota Jakarta sehingga tidak digelar di Jakarta,” ujar Ferry dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (10/9/2026).
Panpel menyiapkan 60 ribu tiket dengan pembelian ditujukan bagi pemegang KTP Jakarta. Suporter Persib juga diminta tidak datang ke Jakarta, sementara penonton yang hadir diarahkan mengikuti ketentuan yang ditetapkan untuk menjaga keamanan pertandingan.
Pengamanan bergerak keluar dari kawasan Senayan. Di Depok, Polres Metro Depok menggelar rapat koordinasi dengan perwakilan The Jakmania pada Kamis (10/9/2026), sementara Polres Metro Bekasi melakukan langkah serupa untuk mengantisipasi mobilitas suporter menuju Jakarta. Polda Jawa Barat juga menyiagakan personel di wilayah perbatasan.
Di Bekasi, sekitar 1.300 anggota The Jakmania direncanakan berangkat menuju SUGBK. Pendataan rombongan dan pemantauan jalur menunjukkan bahwa risiko keamanan mengikuti massa sejak titik keberangkatan, bukan baru muncul ketika suporter tiba di stadion.
Pola ini sejalan dengan prinsip dasar manajemen massa dalam pertandingan berisiko tinggi. Pengamanan idealnya mencakup seluruh siklus perjalanan, mulai dari kedatangan atau ingress, pengelolaan massa selama pertandingan, hingga egress dan penyebaran kembali suporter setelah laga.
Artinya, titik perhatian bukan hanya pintu stadion. Stasiun, halte, terminal, jalur pejalan kaki, perimeter kawasan, akses kendaraan, serta titik perpindahan moda juga perlu masuk dalam peta risiko karena penumpukan massa dapat terjadi sebelum maupun sesudah pertandingan.
Di titik inilah transportasi publik menjadi bagian dari kemampuan kota menjaga mobilitas. Pengalaman Transjakarta saat menghadapi konsentrasi massa menunjukkan bahwa operator harus mampu menyesuaikan layanan ketika kondisi jalan berubah.
Meski konteks demonstrasi memang berbeda dengan pertandingan sepak bola. Namun keduanya memperlihatkan persoalan kota yang sama, yakni konsentrasi massa dapat mengubah lalu lintas, akses transportasi, dan penggunaan ruang publik dalam waktu singkat.
Karena itu, pengamanan Persija-Persib perlu dilihat sebagai bagian dari city security dan mobility management, bukan sekadar keamanan stadion. Kepolisian, pemerintah daerah, operator transportasi, pengelola kawasan, dan penyelenggara perlu bekerja dalam satu kerangka agar perjalanan massa dari titik kedatangan hingga kepulangan tidak menciptakan gangguan berantai terhadap fungsi kota.
Bagi Jakarta, keberhasilan mengelola pertandingan berisiko tinggi bukan hanya soal memastikan penonton aman di dalam GBK.
Kemampuan menjaga transportasi, akses kawasan, aktivitas ekonomi, dan ruang publik tetap berfungsi akan menjadi bagian dari daya saing Jakarta sebagai pusat bisnis, olahraga, hiburan, dan penyelenggaraan event berskala besar. (Artha Tidar)
































