Menu ✖

Mode Gelap
Walikota Semarang Sikapi Protes Padat dan Ribetnya Kegiatan PKK  Polri, BNN, dan Bea Cukai Bongkar Jaringan Narkoba Lintas Negara di Aceh dan Sumut KAI Tata Akses Karet-Sudirman Baru, Fasilitas Pendukung Ditargetkan Rampung Akhir Tahun Ibas Dorong Penguatan Tata Kelola Museum dan Galeri Seni Indonesia HUT Ke-4 MentariTV Hadirkan Pesta Carnival, Keluarga Leslar hingga Bintang D’Academy 7 Siap Meriahkan Panggung Chairil Gibran Ramadhan Perjuangkan Film Biografi Ismail Marzuki

JALUR

Subsidi TransJakarta dan MRT Diusulkan Tambah Rp934 Miliar

badge-check


 Armada TransJakarta Perbesar

Armada TransJakarta

Wartatrans.com, JAKARTA – Dinas Perhubungan DKI Jakarta mengusulkan tambahan subsidi Rp934 miliar untuk layanan TransJakarta dan Moda Raya Terpadu (MRT) Jakarta.

Kepala Dishub DKI Jakarta Budi Awaluddin menyampaikan usulan tersebut dalam rapat bersama Komisi B DPRD DKI Jakarta saat membahas Raperda Perubahan APBD 2026, Rabu (9/9/2026).

Dalam rapat tersebut, dia menjelaskan anggaran belanja subsidi Dishub DKI Jakarta dalam penetapan APBD 2026 sebesar Rp4,621 triliun.

“Tambahan Rp934 miliar diusulkan untuk memenuhi kebutuhan subsidi layanan TransJakarta dan MRT Jakarta dalam perubahan APBD 2026,” ujarnya.

Besarnya kebutuhan tersebut menunjukkan transportasi publik Jakarta masih bergantung pada dukungan fiskal pemerintah daerah.

Perluasan operasi, armada, integrasi antarmoda, dan pengembangan layanan turut meningkatkan kebutuhan pembiayaan.

Kondisi itu juga tercermin dari penjelasan Direktur Utama PT Transportasi Jakarta Welfizon Yuza dalam rapat kerja bersama Komisi B DPRD DKI Jakarta, pekan lalu.

Welfizon menjelaskan bahwa layanan transportasi laut TransJakarta menuju Kepulauan Seribu membutuhkan dukungan Public Service Obligation (PSO) agar tetap dapat menyediakan layanan dengan tarif yang terjangkau.

Sekretaris Jenderal Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Aditya Dwi Laksana sebelumnya mengingatkan agar TransJakarta tidak hanya menggantungkan operasional pada subsidi pemerintah. Ia mendorong penguatan pendapatan non-tiket melalui penyewaan ruang, periklanan, hak penggunaan nama, kerja sama penyelenggaraan acara, dan jasa properti lainnya.

Karena itu, pembahasan tambahan subsidi Rp934 miliar perlu dikaitkan dengan indikator kinerja, seperti biaya per penumpang, produktivitas armada, efisiensi operasional, dan kontribusi pendapatan non-tiket.

Ukuran tersebut penting agar tambahan anggaran tidak berhenti pada pemenuhan kebutuhan operasional, tetapi juga menghasilkan manfaat layanan yang terukur.

Bagi Jakarta, tantangannya adalah menjaga transportasi publik tetap terjangkau sekaligus mengendalikan pertumbuhan kebutuhan subsidi.

Keputusan dalam perubahan APBD 2026 akan menjadi salah satu penentu arah pembiayaan transportasi publik Jakarta ke depan. (Artha Tidar)

 

Baca Lainnya

KAI Tata Akses Karet-Sudirman Baru, Fasilitas Pendukung Ditargetkan Rampung Akhir Tahun

24 Oktober 2026 - 19:51 WIB

KAI Services Gandeng Clothes for Charity Perpanjang Masa Guna Produk Tekstil

24 Oktober 2026 - 10:39 WIB

CSR Bank BJB Biayai 3 Halte Transjakarta di Jatiasih

23 Oktober 2026 - 07:45 WIB

DAMRI Uji Coba Bus Listrik di Kota Serang, Dukung Transportasi Publik Berkelanjutan

23 Oktober 2026 - 05:01 WIB

KAI Services Latih Frontliner Tangani Kebakaran hingga Evakuasi Korban

22 Oktober 2026 - 19:28 WIB

Whoosh Dukung Sport Tourism, Permudah Pelari Bandung ke Jakarta

22 Oktober 2026 - 11:54 WIB

KAI Angkut 50,75 Juta Ton Barang hingga September 2026, Angkutan Nonbatu Bara Tumbuh

22 Oktober 2026 - 10:05 WIB

Hemat Biaya hingga Tekan Polusi, Commuter Line Jabodetabek Layani 349 Juta Pengguna

22 Oktober 2026 - 09:26 WIB

Menembus Bukit Sejak Zaman Kolonial, Ini 10 Terowongan Kereta Api Tertua

22 Oktober 2026 - 07:46 WIB

Hingga September, Penumpang Transjakarta-MRT-LRT Jakarta Tembus 368,4 Juta

22 Oktober 2026 - 07:39 WIB

Trending di JALUR