Wartatrans.com, JAKARTA – TNI Angkatan Laut mengerahkan tiga kapal perang untuk memperkuat pencarian delapan orang yang berada dalam speedboat yang hilang kontak di perairan Selat Sunda, termasuk lima jurnalis yang hendak meliput aktivitas Gunung Anak Krakatau.
Operasi diperluas setelah pencarian hari pertama belum menemukan keberadaan speedboat yang berangkat dari Dermaga Pagedongan, Carita, Pandeglang.

Tiga kapal yang dikerahkan adalah KRI Leuser-924, KRI Kerambit-627, dan KRI Lepu-861. TNI AL menyatakan pengerahan tersebut dilakukan untuk memperkuat operasi pencarian sekaligus memperluas area penyisiran di sekitar perairan Selat Sunda.
Delapan orang dalam speedboat itu terdiri atas lima jurnalis dan tiga orang kru.
Mereka berangkat untuk meliput aktivitas Gunung Anak Krakatau, sehingga pencarian mencakup seluruh orang di dalam kapal yang hingga kini belum ditemukan.
Perluasan area pencarian mengikuti hasil pemetaan operasi SAR. Kepala Seksi Operasi Basarnas Banten Riski Dwi mengatakan pencarian mengarah ke barat daya Gunung Anak Krakatau dan menyebut cakupan pencarian mencapai 271 nautical mile (NM).
“Untuk pencarian kita perluas, karena hasil Map SAR kita itu mengarah ke barat daya dari Gunung Anak Krakatau, sehingga untuk total luas pencarian kita 271 NM,” ujar Riski, Rabu (9/9/2026).
Operasi hari kedua juga dibagi menjadi empat Search and Rescue Unit (SRU) untuk menjangkau radius yang lebih luas.
Deputi Operasi Basarnas Edy Prakoso mengatakan penyisiran dioptimalkan dengan pembagian kekuatan tersebut, sementara unsur dari Basarnas Lampung mengerahkan dua rigid inflatable boat (RIB) untuk memperkuat pencarian.
Kompleksitas operasi bertambah karena pencarian berlangsung di sekitar Gunung Anak Krakatau yang masih mengalami erupsi.
Dari KRI Lepu, tim pemantau melihat awan erupsi dan abu vulkanik pada Rabu siang, meski abu yang terlihat masih tipis.
Kondisi laut juga menjadi faktor yang memengaruhi pencarian. Sebelumnya, Kapolda Banten Irjen Pol Hengki menyampaikan, operasi sempat dihentikan sementara karena cuaca dan gelombang membahayakan personel.
Speedboat tersebut berangkat pada Senin (7/9/2026) sekitar pukul 14.00 WIB. Kontak terakhir salah satu jurnalis dengan wartawan di Lampung tercatat sekitar pukul 14.42 WIB, sementara pencarian kini mencakup wilayah yang lebih luas dari titik awal.
Pengerahan tiga KRI memperbesar kapasitas penyisiran laut ketika operasi memasuki wilayah pencarian yang luas dan menghadapi kondisi alam yang dinamis.
Perluasan area juga meningkatkan kebutuhan personel, bahan bakar, peralatan pencarian dan dukungan logistik selama operasi berlangsung.
Koordinasi antara unsur TNI AL, Basarnas, aparat keamanan dan pihak terkait menjadi penting untuk memastikan penyisiran dapat dilakukan secara efektif dengan tetap memperhatikan keselamatan personel SAR. (Artha Tidar)
































