Wartatrans.com, JAKARTA – Pemerintah menargetkan kontribusi industri olahraga Indonesia menembus di atas Rp40 triliun, sementara potensi investasi sektor olahraga nasional diproyeksikan mencapai sekitar Rp8.000 triliun.
Namun, Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir mengakui pemerintah masih mengumpulkan data investasi dan dampak ekonomi olahraga dalam satu basis data.

Erick menyampaikan target tersebut saat Indonesia Sports Summit 2026 di Jakarta, Jumat (11/9/2026).
“Sudah pasti di atas Rp40 triliun, asal semua pihak mau membuka data, meng-comply menjadi satu database yang sama,” ujar Erick.
Dia mendorong platform Sport in Indonesia menjadi agregator berbagai aktivitas olahraga, mulai dari informasi event, tiket, infrastruktur hingga kebutuhan wisatawan.
Platform tersebut menyediakan fitur Host an Event dan Start Inquiry untuk mempertemukan penyelenggara dengan kebutuhan investasi.
Menurutnya, olahraga harus diposisikan sebagai investasi dan sumber pendapatan, bukan sekadar biaya.
Pemerintah juga menargetkan penyederhanaan perizinan event melalui mekanisme yang lebih terintegrasi agar penyelenggara tidak terbebani proses birokrasi.
Dorongan tersebut sekaligus menunjukkan persoalan yang masih dihadapi industri olahraga nasional: besarnya aktivitas olahraga belum otomatis menghasilkan ukuran ekonomi yang solid.
Kemenpora dalam laporan kinerja 2025 mencatat indikator PDB industri olahraga sebesar Rp39,5 triliun dan menargetkan kisaran Rp39 triliun-Rp41 triliun pada 2026.
Kemenpora juga masih perlu menyusun metode penghitungan PDB industri olahraga yang baku bersama Badan Pusat Statistik (BPS).
Sementara ekonom Universitas Paramadina Wijayanto Samirin menilai kontribusi industri olahraga Indonesia masih di bawah 0,2 persen PDB, jauh dibandingkan Inggris dan Amerika Serikat.
Ia juga mengingatkan potensi investasi Rp8.000 triliun perlu dihitung secara mendalam dan kemungkinan nilainya jauh lebih rendah, Senin (31/8/2026).
Jika skala pasar tersebut masih perlu diverifikasi, tantangan berikutnya adalah bagaimana potensi yang ada benar-benar diterjemahkan menjadi nilai ekonomi bagi industri olahraga nasional.
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet kemudian menilai tantangannya bukan sekadar memperbesar aktivitas olahraga, tetapi mengubah keunggulan pasar menjadi industri dengan pendapatan berkelanjutan. “Persoalannya adalah bagaimana keunggulan tersebut diubah menjadi industri yang menghasilkan pendapatan secara berkelanjutan,” ujar Yusuf. (Artha Tidar)
































