Wartatrans.com, JAKARTA — Musim kemarau 2026 mulai memperlihatkan dampak serius terhadap sumber daya air di sejumlah wilayah Indonesia. Sejumlah sungai mengalami penurunan debit dan muka air secara drastis. Di beberapa lokasi, bagian dasar sungai bahkan mulai terbuka dan berubah menjadi hamparan lumpur maupun pasir.
Data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan sekitar 81,1 persen wilayah Indonesia atau 567 Zona Musim (ZOM) masih berada dalam periode musim kemarau. Memasuki September, curah hujan di sebagian besar wilayah diprakirakan masih berada pada kategori rendah hingga menengah, sekitar 0–150 milimeter per dasarian. Curah hujan di bawah 50 milimeter per dasarian masih mendominasi sebagian besar Jawa, Bali-Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, Maluku dan sebagian Papua.

Kondisi tersebut mulai terlihat nyata pada sejumlah sungai utama maupun sungai lokal.
Sungai Silugonggo Mengering
Di Kabupaten Pati, Jawa Tengah, Sungai Silugonggo mengalami penyusutan hingga sejumlah bagian alurnya mengering. Kondisi tersebut menarik perhatian warga dan pencari ikan dari luar daerah karena ikan sapu-sapu dan biota air lainnya terjebak pada bagian sungai yang masih menyisakan genangan.
Sejumlah pemberitaan lokal menyebut kekeringan Sungai Silugonggo telah berlangsung selama beberapa pekan. Kondisi kemarau diperparah dengan persoalan pada Bendung Karet Jakenan yang menyebabkan kemampuan menahan air menjadi terganggu.
Keringnya sungai juga berdampak terhadap aktivitas masyarakat yang sebelumnya memanfaatkan aliran tersebut, termasuk kegiatan wisata perahu dan perikanan.
Mahakam Mulai Dangkal, Distribusi BBM Terganggu
Di Kalimantan Timur, Sungai Mahakam juga mengalami penurunan muka air akibat kemarau panjang.
Dampaknya tidak sekadar persoalan lingkungan. Sungai Mahakam merupakan salah satu jalur transportasi penting bagi masyarakat di wilayah pedalaman Kalimantan Timur.
Kepala Balai Wilayah Sungai (BWS) IV Samarinda, Andri Rachmanto Wibowo, menyebut penurunan muka air berdampak langsung terhadap transportasi air yang digunakan untuk mengangkut penumpang, bahan pangan hingga BBM.
Kondisi tersebut bahkan mulai menghambat distribusi BBM dan bahan kebutuhan pokok menuju Kabupaten Mahakam Ulu.
Penurunan debit juga menyebabkan sejumlah bagian alur sungai menjadi dangkal dan muncul hamparan pasir yang sebelumnya berada di bawah permukaan air.
Sungai Barito Menyusut
Fenomena serupa terjadi di Sungai Barito, Kalimantan Tengah. Debit sungai dilaporkan menyusut drastis selama musim kemarau. Sejumlah bagian alur sungai mengalami pendangkalan sehingga kondisi pelayaran sungai ikut terganggu.
Bagi Kalimantan, kondisi ini memiliki konsekuensi ekonomi karena sungai menjadi salah satu infrastruktur transportasi penting untuk mengangkut berbagai komoditas, termasuk hasil tambang.
Bali Catat Penurunan Muka Air hingga 98 Persen
Data Balai Wilayah Sungai (BWS) Bali-Penida menunjukkan tekanan terhadap sungai di Bali bahkan tercatat dalam angka yang sangat signifikan.
Tukad Yeh Mawa di Tabanan mengalami penurunan tinggi muka air hingga 98 persen, dari rata-rata 0,409 meter pada musim hujan menjadi hanya 0,008 meter pada musim kemarau.
Penurunan juga terjadi di sejumlah sungai lainnya:
Tukad Yeh Embang, Jembrana: turun 72 persen.
Tukad Yeh Sumbul, Jembrana: turun 63 persen.
Tukad Badung Hulu, Badung: turun 58 persen.
Tukad Yeh Otan, Tabanan: turun 41 persen.
Tukad Petanu Hulu, Gianyar: turun 37 persen.
Tukad Oos, Gianyar: turun 36 persen.
Tukad Balian, Tabanan: turun 33 persen.
Data tersebut menunjukkan bahwa persoalan bukan sekadar sungai kecil yang kehilangan air, tetapi telah menyentuh sejumlah aliran yang berperan penting bagi kebutuhan irigasi dan ketersediaan air masyarakat.
Bukan Laut yang Mengering
Fenomena ini juga memunculkan pertanyaan mengenai kondisi laut. Namun, berdasarkan data yang tersedia, belum ada bukti kredibel bahwa laut Indonesia mengering.
Yang terjadi adalah penurunan debit sungai, penyusutan badan sungai, pendangkalan alur dan pada wilayah pesisir dapat terjadi perubahan muka air akibat kombinasi pasang surut serta kondisi hidrologis.
Dengan demikian, istilah yang lebih tepat secara jurnalistik adalah sungai mengering atau menyusut, bukan laut mengering.
BMKG: 81 Persen Wilayah Masih Kemarau
BMKG sebelumnya memprediksi puncak musim kemarau 2026 berlangsung pada Juli–September. Pada September, sebanyak 169 ZOM atau sekitar 25,41 persen luas daratan Indonesia diperkirakan memasuki puncak musim kemarau.
Perkembangan terbaru BMKG menunjukkan kondisi kering masih dominan. Pada periode 11–17 September 2026, curah hujan rendah kurang dari 50 milimeter per dasarian masih diprakirakan mendominasi sebagian besar Sumatera bagian selatan, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Maluku dan sebagian besar Papua.
Suhu udara juga cukup tinggi. Pada 1–9 September 2026, sejumlah wilayah mencatat suhu maksimum antara 37–38,6 derajat Celsius, dengan suhu tertinggi 38,6 derajat Celsius tercatat di Stasiun Meteorologi Tebelian, Sintang, Kalimantan Barat.
BMKG mengingatkan masyarakat untuk menghemat penggunaan air dan meningkatkan kewaspadaan terhadap kekeringan serta kebakaran hutan dan lahan.
Ancaman Tidak Hanya Kekurangan Air
Menyusutnya sungai membawa konsekuensi berlapis. Selain mengancam ketersediaan air baku, kondisi tersebut dapat mengganggu irigasi pertanian, perikanan, transportasi sungai dan distribusi bahan kebutuhan pokok.
Di wilayah seperti Kalimantan, penurunan muka air sungai juga berpotensi mengganggu jalur logistik. Sementara di Jawa dan Bali, berkurangnya debit sungai dapat meningkatkan tekanan terhadap sektor pertanian dan kebutuhan air masyarakat.
Situasi ini menunjukkan bahwa musim kemarau 2026 bukan sekadar persoalan cuaca panas. Ketika sungai mulai kehilangan air, dampaknya bergerak dari persoalan ekologis menjadi persoalan sosial dan ekonomi.
Sejumlah sungai memang belum dapat disebut kering total, tetapi penurunan muka air hingga puluhan persen—bahkan mencapai 98 persen di Tukad Yeh Mawa—menjadi sinyal kuat bahwa pengelolaan cadangan air harus dilakukan lebih serius.
Indonesia kini menghadapi paradoks musim kemarau: di satu wilayah sungai menyusut hingga dasar terlihat, sementara di wilayah lain hujan lebat masih dapat terjadi dalam waktu singkat. BMKG mencatat hujan lebat hingga sangat lebat pada 7–9 September masih terjadi di Sumatera Utara, Sumatera Barat, Aceh, Sulawesi Tengah dan Kalimantan Utara.
Artinya, persoalan Indonesia bukan semata-mata kekurangan air, melainkan bagaimana air yang tersedia dikelola dan disimpan ketika hujan datang, untuk menghadapi periode kering yang semakin panjang.*** (Jasa)


























