Menu

Mode Gelap
Jelang MotoGP Mandalika 2026: Ada 27 Penerbangan Tambahan ke Lombok Gempa di Kepulauan Seribu, BMKG: Guncangan Jauh Hingga Ratusan KM Menunggu Penerbangan Sambil Menikmati Kopi Sanger, Kolaborasi Pelita Air dan Port & Co Hadirkan Pengalaman Berbeda Gempa M6,5 Guncang Laut Jawa, Getaran Dirasakan di Jakarta hingga Jawa Tengah KRL Terdampak Gempa, KAI Commuter Lakukan Pemeriksaan Jalur Sabtu Pagi Kasus Dugaan Keracunan Menu MBG di Pati Ditetapkan Sebagai Kejadian Luar Biasa, Korban Bertambah Banyak

RAGAM

Akal Sehat dan Pohon Ilmu

badge-check


 Akal Sehat dan Pohon Ilmu Perbesar

Oleh: Males Sutiasumarga

Wartatrans.com, JAKARTA — Istilah “akal sehat”, belakangan ini, sering muncul di media massa dan menjadi populer di kalangan orang-orang tertentu. Istilah tersebut bukanlah sebuah istilah yang baru, sudah dipergunakan sejak dulu, menjadi viral, setelah sering diucapkan oleh seorang pengamat politik pada beberapa acara debat di televisi. Ia selalu mengatakan kata “tidak punya akal sehat” kepada lawan diskusinya, ketika ide, kebijakan atau pemikirannya tidak sejalan atau berseberangan dengannya, sehingga orang seringkali menjulukinya sebagai “rajanya akal sehat”.

Selain istilah “akal sehat”, kata yang sering muncul dalam arena perdebatan itu adalah kata “dungu”, sebuah kata yang dulu selalu dihindari untuk digunakan, kecuali dalam keadaan terpaksa, karena dianggap kasar dan tidak sesuai dengan kepribadian masyarakat, kini sudah berubah, menjadi sebuah kata yang menarik perhatian dan lebih sering digunakan, bukan hanya di warung-warung kopi di pinggir jalan kelas menengah ke bawah, tapi juga di forum-forum terhormat kelas atas.

Lalu, apakah sebenarnya yang dimaksud dengan istilah “akal sehat” dan “dungu” yang sekarang sedang viral itu? Apakah maknanya masih sama dengan yang beredar di masyarakat pada umumnya? Atau mempunyai makna yang lain? Dalam kamus disebutkan bahwa yang dimaksud dengan “Akal sehat” itu adalah pikiran yang baik dan normal; setara dengan istilah “common sense” dalam bahasa Inggris, yaitu persepsi atau pemikiran yang wajar yang umumnya dirasakan oleh semua orang; penilaian yang masuk akal dan praktis mengenai masalah sehari-hari atau kemampuan dasar untuk melihat, memahami, dan menilai dengan cara yang umumnya dimiliki oleh hampir semua orang; dan kemampuan seseorang untuk membedakan antara yang benar dan yang salah, yang baik dan yang buruk, serta kemampuan untuk memilih tindakan yang tepat. Sedangkan kata “dungu” artinya adalah sangat tumpul otaknya; tidak cerdas; bebal; bodoh
Namun, pada forum debat seperti di atas, pengertian “akal sehat” tampaknya tidak cukup didefinisikan seperti itu. Orang yang sudah berusaha menggunakan“akal sehat”, seringkali masih dianggap “dungu” oleh yang lainnya, entah apa penyebabnya, padahal orang yang diundang dalam forum debat tersebut adalah orang-orang pilihan yang sudah tidak diragukan lagi pendidikan dan pengalamannya, ada juru bicara pemerintah, para pakar dalam bidang tertentu, para pejabat publik, pembuat kebijakan, anggota kabinet, pimpinan organisasi, politisi, anggota dewan, pengamat dan lain-lain.

Seperti halnya yang terjadi pada suatu waktu, ada seorang guru besar dalam bidang tertentu yang waktu itu juga menjabat sebagai petinggi di pemerintahan marah-marah disebut dengan kata “dungu” oleh narasumber lain yang mengklaim dirinya sebagai orang yang ber”akal sehat”, dan guru besar itu pun membalas cacian tersebut dengan mengatakan bahwa teori yang digunakan oleh orang yang ber”akal sehat” itu telah usang. Pada acara debat yang lain, ada juga seorang sarjana, sukarelawan pendukung mati-matian sang penguasa pada saat itu, yang hampir menggunakan kekerasan fisiknya untuk menghadapi orang yang dianggap ber”akal sehat”itu, karena disebut “dungu”. Kemudian, ada lagi seorang pengacara kondang bergelar doktor yang kiprahnya sudah go international yang ramai berpolemik di media sosial dengan orang yang dianggap ber”akal sehat” itu, ia hanya mengatakan bahwa lawan polemiknya itu hanya tahu tentang teori, tidak punya prestasi. Demikian beberapa cerita yang menggambarkan tentang gaduhnya istilah “akal sehat” dan “dungu” dan masih banyak lagi cerita yang lainnya. Lalu, apakah sebenarnya yang sedang terjadi?

Dari Akar ke Daun

Kalau kita ibaratkan ilmu itu seperti pohon, maka narasumber yang hadir pada acara debat itu, dapat dibagi ke dalam tiga kelompok, yaitu orang yang mendalami ilmu hanya di akarnya, orang yang belajar ilmu mulai dari akar, batang, dahan sampai ke daunnya, dan orang yang belajar ilmu hanya di batang, dahan, atau daunnya. Orang yang belajar di akar, meskipun tidak mempunyai ijazah atau hanya bergelar S1, pasti akan merasa lebih “pintar” daripada orang yang belajar hanya di batang, dahan atau daun, meskipun bergelar S3 atau bahkan guru besar, karena akar merupakan pangkal dari semua bagian pohon. Tanpa akar, tidak mungkin batang, dahan dan daun bisa hidup. Orang yang belajar di akar, akan tahu sedikit banyaknya tentang apa yang akan dipelajari di daun, batang atau dahan, meskipun secara garis besarnya saja, karena dari akarlah, batang, dahan dan daun bisa tumbuh, sementara orang yang langsung belajar hanya di batang, dahan, atau daun, tanpa melalui akar, belum tentu bisa mengetahui apa yang terjadi pada akar.

Demikian juga yang terjadi di forum perdebatan tersebut. Ada narasumber yang hanya belajar di akarnya. Orang inilah yang sering mengklaim dirinya sebagai orang yang punya “akal sehat”, karena dia merasa lebih tahu soal filosofi, pokok atau asal-usul dari ilmu yang nanti akan dipelajari oleh orang yang belajar langsung di batang, dahan atau daunnya. Sementara itu, ada juga narasumber yang memperoleh ilmunya langsung dari batang, dahan atau daunnya, tanpa mempelajari secara serius dari akarnya. Tapi, orang ini juga tidak mau disebut “dungu”, karena ia merasa sudah paham betul dengan ilmu yang dipelajarinya hingga ia bisa mencapai hirarki dan gelar akademik yang paling tinggi.

Orang yang belajar tentang akar ilmu hukum, akan merasa lebih ber”akal sehat” daripada sarjana hukum yang belajar hukum hanya di batang, dahan atau daunnya. Karena itu, setiap kali beradu argumen dalam sebuah perdebatan, orang yang belajar di akar selalu berada di atas angin, sehingga dengan seenaknya, ia dapat merendahkan lawan diskusinya, dengan sebutan “dungu”. Orang yang belajar di akar rumpun sosial humaniora, akan banyak tahu tentang asal-usul atau pokok dari ilmu yang ada di daun ekonomi, daun hukum, daun psikologi, daun budaya dan daun sosial politik, sehingga ketika berdebat tentang ilmu-ilmu tersebut, ia selalu bisa mengatasinya.

Sebaliknya, orang yang hanya belajar di daun ilmu sosial dan politik, misalnya, akan kalah ketika berdiskusi tentang hal yang berada di luar keilmuannya, meskipun berada dalam satu rumpun. Karena itulah orang yang belajar dari akar selalu merasa bahwa dirinyalah yang berhak menyandang menjadi orang yang ber”akal sehat”. Karena itu, jika mau dianggap sebagai orang yang ber”akal sehat”, dan tidak mau disebut “dungu”, maka belajarnya mulai dari akar, batang, dahan sampai ke daunnya secara serius, baik secara mandiri maupun melalui institusi-institusi pendidikan, jangan hanya belajar di akar, batang, dahan atau di daunnya.

Tampaknya, institusi pendidikan perlu juga mengambil peran dalam peristiwa seperti ini, dengan cara membuat lebih banyak matakuliah rumpun ilmu sosial humaniora di akarnya, agar mahasiswa mempunyai bekal yang memadai ketika masuk ke daun-daunnya.***

(Penulis adalah Guru Besar FIB-UI dan kontributor akademisi Wartatrans.com)

Baca Lainnya

Kasus Dugaan Keracunan Menu MBG di Pati Ditetapkan Sebagai Kejadian Luar Biasa, Korban Bertambah Banyak

11 September 2026 - 22:51 WIB

Bansos Digital Jangkau 50 Juta Warga

11 September 2026 - 21:31 WIB

Poestaka Betawi Dihidupkan Kembali, Upaya Menyelamatkan Jejak Literasi Betawi

11 September 2026 - 20:30 WIB

Kemarau 2026, Sejumlah Sungai Indonesia Menyusut Ekstrem hingga Dasarnya Terbuka

11 September 2026 - 20:20 WIB

SM Sekper PTP Nonpetikemas Sabet Penghargaan Rising Women Communications Leaders PRIWOLA 2026

11 September 2026 - 19:40 WIB

FIFASTRA Raih Indonesia Most Reputable Companies Award 2026

11 September 2026 - 18:31 WIB

Wartatrans.com Perkuat Jejaring Akademisi, Lima Akademisi Bergabung sebagai Kontributor

11 September 2026 - 18:19 WIB

Perkuat Konektivitas, DAMRI Hubungkan BIJB Kertajati dengan Bandung dan Indramayu

11 September 2026 - 18:18 WIB

Tangani Luka Lebih Tepat, PUSAKA RSUD Cibinong Andalkan Dokter Spesialis Bedah

11 September 2026 - 18:11 WIB

IPCM Ajak Generasi Muda Melek Investasi, Wujudkan Generasi Cerdas Finansial

11 September 2026 - 18:10 WIB

Trending di ANJUNGAN