Wartatrans.com, JAKARTA – Rekor Timnas Indonesia sepanjang 2026 terlihat positif di atas kertas, tetapi grafik permainannya belum stabil. Garuda mampu menang telak di FIFA Series dan FIFA Matchday, lalu membuka ASEAN Hyundai Cup dengan kemenangan 5-1.
Namun performa merosot saat tekanan meningkat hingga gagal menembus semifinal. PSSI dituntut membedah permasalahannya, bukan sekadar meminta maaf.

Pada FIFA Series Maret, Indonesia menang 4-0 atas Saint Kitts and Nevis, tetapi tiga hari kemudian kalah 0-1 dari Bulgaria.
Pada FIFA Matchday Juni, Garuda bangkit dengan dua kemenangan beruntun: 3-0 atas Oman dan 1-0 atas Mozambik.
Di ASEAN Hyundai Cup, Indonesia menang 5-1 atas Kamboja, tetapi gagal menjaga konsistensi. Setelah menghadapi Timor-Leste dan Vietnam, Indonesia ditahan Singapura 1-1 di Stadion Jalan Besar, Jumat (7/8), sehingga tersingkir.
Secara keseluruhan, Indonesia mencatat lima kemenangan, satu imbang, dan dua kekalahan dalam delapan laga senior pada 2026 hingga Singapura.
Rekor itu positif, tetapi memperlihatkan perbedaan performa ketika lawan dan konteks berubah.
Sekretaris Jenderal PSSI Yunus Nusi mengatakan, federasi memahami kekecewaan publik dan meminta maaf atas kegagalan tersebut.
“Terkait hasil di Piala AFF ini, PSSI memohon maaf yang sebesar-besarnya kepada seluruh masyarakat sepak bola Indonesia karena belum bisa memberikan hasil yang memuaskan secara sempurna,” ujar Yunus di Jakarta, Ahad (9/8/2026).
Dia memastikan evaluasi dilakukan bersama Ketua Umum PSSI, BTN, Exco, dan pelatih. Juga meminta suporter tidak menghujat pemain.
“Silakan mengkritisi PSSI atau Ketua Umum, kami menerima. Namun, yang terpenting adalah jangan menghujat pemain dan pelatih. Mereka adalah aset kita di masa depan,” katanya.
Faktor diaspora menjadi bagian evaluasi. ASEAN Hyundai Cup bukan agenda FIFA sehingga klub Eropa tidak wajib melepas pemain.
Herdman akhirnya lebih banyak mengandalkan pemain domestik dan Asia Tenggara. Perubahan komposisi memengaruhi kedalaman skuad.
Namun, pengamat sepak bola Anton Sanjoyo menilai, kegagalan ini harus menjadi bahan pembangunan skuad menuju Piala Asia 2027.
Dia menyoroti kualitas pemain pelapis yang belum cukup kuat, termasuk ketika Indonesia kesulitan membongkar pertahanan Singapura.
“Sejak John Herdman menangani tim pada Januari 2026, saya selalu menekankan bahwa tolak ukur utama adalah Piala Asia, bukan Piala AFF,” kata Anton, Sabtu (8/8).
Karena itu, evaluasi PSSI tidak cukup menjadikan absennya diaspora sebagai alasan. Federasi perlu mengukur kedalaman pemain domestik, integrasi diaspora, konsistensi taktik Herdman, serta kemampuan tim mempertahankan permainan ketika menghadapi lawan dengan level berbeda.
Kegagalan di ASEAN Hyundai Cup menjadi ujian penting: apakah Timnas sudah memiliki sistem yang cukup kuat untuk tetap kompetitif ketika komposisi pemain berubah, atau masih terlalu bergantung pada kualitas individu tertentu. (Artha Tidar)
































