Wartatrans.com, JAKARTA — Semangat kebangsaan dan persatuan menjadi benang merah dalam kegiatan Silaturahmi Kebangsaan Menyongsong 5 Abad Jakarta dan 81 Tahun HUT Kemerdekaan Republik Indonesia, yang digelar di Gedung MH Thamrin, Balai Kota Jakarta, Senin (10/8/2026).
Kegiatan yang diselenggarakan Dinas Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) DKI Jakarta tersebut mempertemukan berbagai unsur masyarakat dalam suasana silaturahmi dan refleksi kebangsaan menjelang momentum 17 Agustus sekaligus menyongsong perjalanan panjang Jakarta menuju usia lima abad.

Acara dibuka oleh Asisten Pemerintahan Sekretariat Daerah (Setda) DKI Jakarta. Hadir pula Direktur Ekososbud Kementerian Dalam Negeri, Bisri, S.Sos., M.Si., bersama sejumlah unsur pemerintahan dan elemen masyarakat.
Momentum tersebut tidak hanya menjadi ruang pertemuan antarpemangku kepentingan, tetapi juga menjadi kesempatan untuk memperkuat kesadaran bahwa Jakarta memiliki posisi strategis sebagai ruang perjumpaan berbagai latar belakang masyarakat Indonesia.
Jakarta sendiri akan memasuki usia 500 tahun pada 2027, dihitung dari tahun 1527 yang secara historis dikaitkan dengan berdirinya Jayakarta. Momentum lima abad tersebut menjadi kesempatan untuk melihat kembali perjalanan Jakarta sekaligus merumuskan arah kota di masa mendatang setelah tidak lagi berstatus sebagai ibu kota negara.
Di tengah perubahan tersebut, semangat kebangsaan menjadi salah satu fondasi penting dalam menjaga Jakarta sebagai kota yang terbuka, majemuk dan menjadi ruang bertemunya berbagai kebudayaan Nusantara.
Puisi Fikar W Eda: Suara Gayo di Tengah Jakarta
Salah satu bagian yang memberikan warna budaya dalam kegiatan tersebut adalah pembacaan puisi oleh Fikar W Eda, penyair asal Gayo, Aceh.
Kehadiran Fikar membawa perspektif kebudayaan daerah ke tengah forum kebangsaan di Jakarta. Puisi menjadi medium untuk menyampaikan gagasan tentang Indonesia dari sudut pandang kebudayaan, sejarah, kemanusiaan dan keberagaman.
Fikar W Eda dikenal sebagai penyair yang banyak mengangkat tanah kelahiran, tradisi, masyarakat dan pengalaman sosial dalam karya-karyanya. Tradisi sastra Gayo menjadi salah satu sumber ekspresi dalam perjalanan kepenyairannya.
Pembacaan puisi tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa silaturahmi kebangsaan tidak semata-mata dibangun melalui forum formal dan pidato, tetapi juga melalui kebudayaan.
Jakarta, sebagai kota yang dihuni masyarakat dari berbagai daerah, menjadi ruang penting bagi perjumpaan identitas kebudayaan Nusantara. Kehadiran penyair dari Gayo dalam kegiatan tersebut menjadi simbol bahwa kebangsaan Indonesia tumbuh dari keberagaman daerah yang saling bertemu.
Menuju 81 Tahun Indonesia Merdeka
Kegiatan ini juga berlangsung hanya beberapa hari menjelang peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 2026.
Momentum tersebut menjadi ruang refleksi terhadap perjalanan bangsa selama lebih dari delapan dekade. Persatuan, toleransi, gotong royong dan penghargaan terhadap keberagaman menjadi nilai yang terus relevan dalam menghadapi perubahan zaman.
Sementara bagi Jakarta, perjalanan menuju lima abad menjadi tantangan sekaligus peluang. Setelah lebih dari empat abad berkembang sebagai pusat perdagangan, pemerintahan, kebudayaan dan perjumpaan masyarakat Nusantara, Jakarta kini memasuki fase baru sebagai kota global dan pusat perekonomian nasional.
Silaturahmi Kebangsaan yang digelar Kesbangpol DKI Jakarta menjadi salah satu ruang untuk memperkuat komunikasi antara pemerintah dan masyarakat, sekaligus merawat kesadaran bahwa pembangunan kota tidak hanya berbicara mengenai infrastruktur dan ekonomi, tetapi juga menyangkut karakter, kebudayaan dan persatuan warganya.
Dari Gedung MH Thamrin, semangat menyongsong lima abad Jakarta dan 81 tahun Indonesia merdeka dipertemukan dalam satu pesan: Jakarta boleh berubah wajah, tetapi semangat kebangsaan dan keberagaman yang membentuk Indonesia harus tetap menjadi fondasinya.*** (Septiadi)


























