Menu

Mode Gelap
ABS Kembali Dikukuhkan Sebagai Orang Nomor 1 di -DPC PPP Kota Langsa Suroto Ketua RW 06 Cengbar Jakbar, Si “Ketua RW Viral” yang Peduli Warga 24 Jam dan Siap Jalani Program Gubernur DKI Afternoon Coffee KSOP Muara Angke, Bahas Manifest, Kespel, dan Kesiapsiagaan Darurat Ultrajaya dan Frisian Flag Bersatu, Peta Susu RI Berubah Jakarta-New York: Diplomasi Kota, Transportasi, dan Rp5,2 Triliun Akses Utama Pemkab Fakfak Ditutup Tanpa Alasan Jelas, Pelayanan Publik Dipertanyakan

OLAH RAGA

Aston Villa Menang 3-1 Kalahkan Indonesia All Star di GBK

badge-check


 Aston Villa Menang 3-1 Kalahkan Indonesia All Star di GBK Perbesar

Wartatrans.com, JAKARTA – Aston Villa mengalahkan Indonesia All Stars dengan skor 3-1 dalam laga tur pramusim di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Jakarta, Sabtu (1/8/2026).

Tiga gol klub Premier League tersebut dicetak Emiliano Buendia, Ross Barkley, dan Brian Madjo, sedangkan gol balasan Indonesia All Stars dibuat Arkhan Kaka.

Di balik hasil pertandingan, kunjungan Aston Villa menjadi bagian dari strategi bisnis klub Inggris itu memperluas pasar Asia.

Laga pramusim kini tidak hanya menjadi persiapan teknis menuju musim baru, tetapi juga sarana membangun basis penggemar, menarik sponsor, dan meningkatkan nilai komersial klub.

Setelah dari Jakarta, rangkaian pramusim Aston Villa berlanjut ke Thailand menghadapi BG Pathum United pada Selasa (4/8/2026), kemudian melawan Bayern Muenchen tiga hari berikutnya.

Villa juga dijadwalkan menghadapi Paris Saint-Germain dalam Piala Super Eropa pada 13 Agustus sebelum menutup persiapan melawan Borussia Moenchengladbach pada 15 Agustus.

Dari sisi skala bisnis, Aston Villa datang ke Indonesia sebagai klub yang sedang memperkuat nilai mereknya. Laporan keuangan musim 2024/2025 mencatat pendapatan Villa sekitar £378,1 juta atau sekitar Rp9,1 triliun dengan asumsi kurs Rp24.000 per pound.

Sementara itu, Chelsea memiliki kapasitas komersial lebih besar. Klub London tersebut mencatat pendapatan sekitar £490,9 juta atau sekitar Rp11,8 triliun pada musim yang sama.

Selisih hampir Rp2,7 triliun menunjukkan perbedaan kekuatan merek dan kemampuan monetisasi kedua klub di pasar global.

Head of Marketing Communication Sound Rhythm Ahmad Satrio sebelumnya mengatakan dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (22/6/2026),

kedatangan Aston Villa merupakan bagian dari upaya klub memperkenalkan mereknya kepada pasar Indonesia.

“Pre-season tour ini adalah sebuah rangkaian yang membuat Aston Villa untuk mencoba memberikan market-market yang baru ke Indonesia,” ujar Satrio.

Menurutnya, antusiasme suporter Indonesia menjadi salah satu alasan Villa melihat peluang pasar.

Klub menilai atmosfer penggemar sepak bola Tanah Air memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi hubungan komersial jangka panjang.

Animo tersebut juga terlihat di ruang digital. Dalam siaran langsung pertandingan melalui kanal YouTube Rans Entertainment, Sabtu (1/8/2026), Gading Marten menyebut jumlah penonton live streaming laga Aston Villa vs Indonesia All Stars mencapai sekitar 1 juta penonton.

Angka tersebut menjadi indikator besarnya perhatian publik terhadap klub Premier League di Indonesia.

Meski merupakan pernyataan saat siaran langsung dan bukan laporan resmi analitik platform, perhatian digital memiliki nilai ekonomi bagi sponsor, media, dan klub.

Nilai ekonomi tur klub Eropa terbentuk dari berbagai lapisan, mulai dari tiket pertandingan, sponsor, aktivasi merek, merchandise, hingga sektor pendukung seperti hotel, restoran, dan transportasi.

Sebelumnya, Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Pemberdayaan Ekonomi Daerah Kukrit Suryo Wicaksono mengatakan dalam keterangan Kadin, Kamis (16/7/2026), ajang olahraga internasional dapat menjadi penggerak ekonomi lintas sektor.

“Piala Dunia 2026 menjadi contoh bagaimana sebuah ajang olahraga internasional mampu menggerakkan aktivitas ekonomi lintas sektor,” ujar Kukrit.

Pandangan tersebut relevan dengan tur klub Premier League di Indonesia. Nilai ekonomi pertandingan tidak hanya berasal dari tiket, tetapi juga dari sponsorship, penyiaran, merchandise, aktivitas penggemar, serta sektor usaha pendukung.

Indonesia memiliki modal pasar dengan populasi lebih dari 280 juta jiwa dan basis penggemar sepak bola yang besar.

Tantangannya adalah mengubah perhatian publik menjadi ekosistem bisnis olahraga yang memberi nilai tambah bagi industri lokal.

Pada akhirnya, laga 90 menit di GBK hanya menjadi awal. Nilai terbesar akan ditentukan oleh kemampuan Indonesia mengubah antusiasme penggemar menjadi bagian dari rantai bisnis sepak bola global. (Artha Tidar)

 

Baca Lainnya

5 Pemain Persija Wakil Terbanyak dalam Skuad Timnas di FIFA ASEAN 2026

19 September 2026 - 06:42 WIB

Hosting Fee MotoGP Mandalika 2026 Senilai Rp265,8 Miliar

17 September 2026 - 08:22 WIB

Klub Super League Mulai Bangun Loyalitas, Tawarkan Beli Tiket 17 Laga Sekali Bayar

16 September 2026 - 06:31 WIB

EMTEK Media Kuasai Hak Siar Eksklusif FIFA ASEAN Cup 2026, Semua Laga Timnas Indonesia Tayang di 4 Platform

15 September 2026 - 11:27 WIB

Indonesia Tuan Rumah FIFA ASEAN Cup, EMTEK Siapkan Produk Pertandingan Kualitas 4K

14 September 2026 - 16:54 WIB

Ramaikan GBK, Penonton Pertandingan Persija-Persib Tembus 58.961

13 September 2026 - 05:06 WIB

Potensi Rp8.000 Triliun Industri Olahraga dan Tantangan Monetisasi

11 September 2026 - 21:36 WIB

Persija-Persib Siap Laga di GBK Jakarta Besok

11 September 2026 - 05:30 WIB

Indonesia Bungkam Juara Bertahan di Piala Asia U-20, 3 Kali Pemuncak dan Lolos

6 September 2026 - 22:20 WIB

Abu Gunung Anak Krakatau Berdampak Tanding Sepak Bola, Klub Ubah Rute Pulang Persija dan Persebaya

6 September 2026 - 17:04 WIB

Trending di ANJUNGAN