Wartatrans.com, JAKARTA – PT Ultrajaya Milk Industry & Trading Company Tbk menyiapkan akuisisi 100% PT Frisian Flag Indonesia (FFI) senilai sekitar Rp14,57 triliun.
Transaksi ini tidak sekadar memperluas bisnis Ultrajaya, tetapi juga berpotensi mengubah peta industri susu nasional dan posisi dua merek besar di pasar.
Frisian Flag memiliki sejarah panjang di Indonesia.
Produk dengan merek Frische Vlag mulai diimpor dari Belanda pada 1922. Produksi lokal kemudian berkembang, dengan produk Frisian Flag Indonesia mulai diproduksi di pabrik Pasar Rebo pada 1979.
FFI kini menjadi bagian dari FrieslandCampina, perusahaan susu yang berbasis di Belanda.
Dalam transaksi ini, seluruh saham FFI akan diinbrengkan ke Ultrajaya melalui penerbitan maksimal 7,88 miliar saham baru dengan harga Rp2.150 per saham.
Setelah transaksi selesai, FFI menjadi anak usaha yang 100% dimiliki Ultrajaya.
Posisi FrieslandCampina juga berubah secara signifikan.
FrieslandCampina International Holding B.V. akan memperoleh saham baru Ultrajaya sebagai bagian dari transaksi. Jika seluruh pemegang saham publik menggunakan haknya, kepemilikannya diproyeksikan mencapai 28,95%.
Jika publik tidak berpartisipasi, kepemilikannya dapat mencapai 30,81%, sehingga FrieslandCampina diproyeksikan menjadi pemegang saham pengendali Ultrajaya setelah transaksi efektif.
Dalam keterbukaan informasi Jumat (18/9/2026), manajemen Ultrajaya menyatakan pengambilalihan tersebut diharapkan memperkuat bisnis perseroan.
“Pengambilalihan ini diharapkan dapat memperluas portofolio produk olahan susu dan produk minuman siap konsumsi non-susu milik perseroan.”
FrieslandCampina menyatakan FFI akan menjadi bagian dari Ultrajaya Group, tetapi FFI dan Ultrajaya tetap menjalankan bisnis secara terpisah dengan merek, portofolio produk, dan organisasi masing-masing.
Berdasarkan data Marketac periode Januari hingga Maret 2026, Ultra Milk menguasai 31,1% pangsa pasar susu UHT, sedangkan Frisian Flag mencapai 8,7%.
Bagi konsumen, perubahan skala bisnis ini dapat membuka ruang bagi pengembangan produk dan distribusi yang lebih luas. Namun, perkembangan harga, promosi, kualitas, dan persaingan antarmerek tetap menjadi aspek yang perlu dicermati.
Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Indonesia Nafan Aji Gusta, Ahad (20/9/2026), mengatakan ekspansi tersebut perlu diikuti peningkatan efisiensi.
“Pertumbuhan volume harus diimbangi peningkatan efisiensi agar economies of scale tercermin pada margin.”
Di sisi hulu, perubahan skala bisnis dapat berpengaruh pada pengadaan bahan baku dan hubungan dengan peternak serta koperasi susu.
Perubahan pengendalian juga membawa konsekuensi bagi struktur kepemilikan ULTJ, termasuk kewajiban tender offer sesuai ketentuan pasar modal.
Transaksi masih menunggu persetujuan RUPSLB pada 27 Oktober 2026 serta pemenuhan persyaratan regulator. (Artha Tidar)



























