Wartatrans.com, BENER MERIAH — Sanggar Pegayon berencana mengangkat motif Pepir Gayo atau Tulak Angin sebagai salah satu motif ukiran yang akan dikembangkan di kawasan Kem, Desa Seni Antara, yang berada di kawasan perbatasan Kabupaten Bener Meriah dan Aceh Utara.
Motif tersebut akan menjadi bagian dari upaya memperkuat identitas budaya Gayo sekaligus memperkenalkan kekayaan seni tradisi masyarakat yang hidup di kawasan tersebut.
Tokoh Sanggar Pegayon, Tengku Ceh Azzam Musara, mengatakan Sanggar Pegayon saat ini juga tengah membangun sebuah pondok pesantren di Dusun Buntul Sara Ine, kawasan tapal batas yang menurut masyarakat masih memiliki persoalan mengenai batas administrasi antara Kabupaten Bener Meriah dan Aceh Utara.
“Kami berharap pemerintah provinsi dapat dengan segera menyelesaikan daerah yang masih menjadi persoalan batas tersebut, agar masyarakat lebih jelas untuk berdomisili dan mendapatkan kepastian wilayah administrasinya,” kata Azam Musara.
Forum Budaya Gayo Kem–Seni Antara
Menurut Azam, masyarakat Desa Seni Antara saat ini juga telah membentuk Forum Budaya Gayo Kem–Seni Antara.
Forum tersebut diharapkan menjadi wadah sekaligus payung bagi sanggar-sanggar seni yang berada di bawah kawasan Desa Seni Antara.
“Forum Budaya Gayo Kem–Seni Antara ini menjadi payung dan penaung bagi sanggar-sanggar yang ada di bawah Desa Seni Antara,” ujarnya.
Selain membangun wadah kebudayaan, masyarakat juga berencana menggelar Festival Seni Antara secara rutin setiap tahun.
Festival tersebut nantinya akan diisi dengan berbagai kegiatan, mulai dari pagelaran kesenian dan kebudayaan, pameran maupun penjualan hasil bumi masyarakat, serta kegiatan lain yang berkaitan dengan potensi seni, budaya dan ekonomi masyarakat setempat.
Azam berharap keberadaan forum dan festival tersebut dapat menjadi langkah awal untuk mengembangkan Desa Seni Antara sebagai kawasan yang memiliki karakter seni, adat dan pariwisata.

“Semoga Desa Seni Antara ke depannya dapat menjadi desa seni, sekaligus desa adat dan desa pariwisata,” harapnya.
Pertemuan Budaya Gunung dan Pesisir
Kawasan Kem–Seni Antara memiliki masyarakat yang berasal dari berbagai daerah, seperti Gayo Lues, Aceh Tengah, Bener Meriah dan Aceh Utara.
Keberagaman tersebut melahirkan pertemuan budaya antara masyarakat pegunungan Gayo dengan masyarakat pesisir Aceh.
Akulturasi tersebut terlihat dalam berbagai bentuk kesenian tradisional yang berkembang di kawasan tersebut, di antaranya Tepok Runcang, Donang Banan, Repai dan Gegedem.
Sementara dalam musik tradisi, masyarakat mengenal Saman Gayo Lut, Didong Sesuk, Didong Alo dan Didong Gelung.
Menurut Azam, keberagaman tersebut merupakan kekuatan budaya yang perlu dirawat dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
“Bersatunya budaya gunung dan pesisir di Kem Pegayon, Desa Seni Antara,” ujarnya.
Dengan pembentukan Forum Budaya Gayo Kem–Seni Antara dan rencana Festival Seni Antara setiap tahun, masyarakat berharap kawasan tersebut tidak hanya menjadi tempat tinggal, tetapi juga berkembang sebagai ruang kebudayaan yang mampu menghidupkan kesenian, adat, pariwisata dan ekonomi masyarakat lokal.*** (Kamaruzzaman)


























