Wartatratrans.com, TAKENGON — Enam hari sudah pencarian terhadap lima wartawan yang hilang di perairan Selatan Selat Sunda berlangsung. Di tengah ketidakpastian itu, solidaritas insan pers di Aceh Tengah dan Kota Takengon terus menyala.
Minggu, 13 September 2026, para wartawan Dataran Tinggi Gayo menggelar aksi solidaritas. Api obor dan unggun dinyalakan sebagai simbol harapan, sekaligus doa bagi lima rekan mereka sesama jurnalis yang hingga hari keenam pencarian belum diketahui keberadaannya.

Dalam aksi tersebut, wartawan Wartatrans.com, Jasa Purnama, membacakan puisi berjudul “Doa untuk Lima Cahaya di Selat Sunda”.
Puisi itu menggambarkan kegelisahan para wartawan Gayo yang selama enam hari menanti kabar tentang lima wartawan yang hilang. Ombak Selat Sunda menjadi saksi perjalanan para jurnalis yang disebut pergi membawa misi jurnalistik, namun kemudian terjebak dalam kabut ketidakpastian.
“Lima wajah gagah di Selat Sunda, mengemban misi jurnalis yang mulia,” demikian salah satu penggalan puisi yang dibacakan Jasa Purnama.
Aksi solidaritas tersebut dipusatkan di kawasan Mendale, dengan doa bersama yang juga dikaitkan dengan Masjid Baitul Quddus dan kawasan Danau Lut Tawar. Para peserta menggenggam tangan satu sama lain, mengirimkan doa agar kelima wartawan tersebut mendapat perlindungan Tuhan.
Api yang dinyalakan bukan sekadar penerang dalam suasana malam. Bagi para wartawan Gayo, api itu menjadi lambang bahwa harapan belum padam.
Kamera yang mungkin telah terseret arus dan catatan jurnalistik yang mungkin telah basah oleh air laut, menurut pesan puisi tersebut, tidak akan mampu menenggelamkan semangat pengabdian para jurnalis.
“Namun semangat kalian tak akan pernah tenggelam,” menjadi pesan kuat dalam puisi tersebut.
Jasa juga mengingatkan bahwa pekerjaan jurnalistik tidak semata-mata profesi. Ada panggilan pengabdian di dalamnya – mencatat peristiwa, menyampaikan kebenaran dan menghadirkan suara masyarakat.
Di penghujung pembacaan puisi, doa dan harapan disampaikan untuk lima wartawan yang masih dalam pencarian.
“Kembalilah… atau istirahatlah dengan damai,” menjadi kalimat penutup yang sarat haru.
Bagi insan pers Dataran Tinggi Gayo, apa pun hasil pencarian nantinya, nama kelima wartawan tersebut telah menjadi bagian dari catatan perjalanan dan perjuangan pers Gayo.
Dari dataran tinggi, doa terus dikirimkan ke laut. Enam hari pencarian mungkin memperpanjang penantian, tetapi tidak memadamkan harapan. Api solidaritas wartawan Gayo tetap menyala.*** (Adung)






























