Wartatrans.com, JATENG — Tsunami dugaan keracunan menu Makan Bergizi Gratis (MBG) melanda wilayah pantai utara (pantura) bagian timur Provinsi Jawa Tengah. Dalam dua hari tanggal 08 – 09 September 2026, ratusan siswa dan puluhan guru di Rembang, Blora, Jepara, dan Pati mengalami sakit perut, mual, muntah, dan pusing. Mereka sakit setelah menyantap menu MBG di sekolah masing – masing.
Di Rembang, dugaan keracunan MBG menimpa 271 siswa MAN 2 dan di Blora sebanyak 136 siswa SMAN 1 Tunjungan terdampak. Yang terjadi di Jepara lebih parah karena tersebar di tiga sekolah yaitu SMK Nawakartika, MA Nawakartika, dan SDN 01 Srobyong. Total korbannya berjumlah 118 orang.

Peristiwa terkini terjadi di Kabupaten Pati pada Rabu (09/09/2026). Korbannya berjumlah 236 dari SMPN 1 Gembong dan Madrasah Tsanawiah Negeri (MTsN) 3 Pati.
Di SMPN 1 Gembong, banyaknya siswa yang terdampak adalah 106 siswa kelas 7, 8, dan 9 serta 13 guru. Banyaknya siswa yang bolak – balik ke toilet membuat sekolah bertindak cepat menghubungi Puskesmas terdekat.

Siswa keracunan MBG.
Adapun di MTsN 3 Pati, sebanyak 127 siswa dan 30 guru juga mengalami gejala keracunan makanan. Keluhan perut mulas terasa mulai jam 22.00. Siswa kelas 7 tidak mengalaminya karena sedang menjalani pembelajaran daring.
Mengetahui ratusan siswanya mengalami sakit, pihak sekolah gerak cepat memberi tindakan pengobatan. Banyaknya jumlah korban serta ruang yang terbatas, membuat fasilitas kesehatan setempat kewalahan.
Sebagian korban dari SMPN 1 Gembong akhirnya dirujuk ke RSUD Soewondo, RS Mitra Bangsa, hingga RS KSH. Sementara itu, seluruh korban dari MTsN 3 Pati dievakuasi dan dipusatkan di RSUD Soewondo untuk mempermudah koordinasi serta penanganan medis.
Mencegah situasi bertambah tidak kondusif, pihak sekolah di 4 daerah terdampak MBG kompak memulangkan seluruh siswanya lebih awal. Kendati demikian, kegiatan belajar mengajar dipastikan tetap berjalan normal pada hari berikutnya.

Penanganan siswa keracunan MBG.
Dari pantauan Wartatrans.com pada Kamis (10/09/2026) semua sekolah terdampak dugaan keracunan menu MBG sudah melakukan kegiatan belajar mengajar secara langsung walau sebagian siswanya masih menjalani pengobatan.***
(Aditiya Widodo Putra)

























