Wartatrans.com, ACEH TENGAH — Hujan deras pada Minggu sore (13/9/2026) kembali merenggut nyawa di Kabupaten Aceh Tengah. Tanah longsor di Kampung Sanehen, Kecamatan Silih Nara, menghancurkan permukiman warga dan menewaskan Nazila (9 tahun), anak dari Sulis yang berasal dari Paya Reje. Peristiwa ini terjadi belum genap setahun setelah banjir bandang dan longsor besar 26 November 2025, menegaskan bahwa wilayah Dataran Tinggi Gayo kini berada dalam status kerentanan bencana kronis yang menuntut respons struktural, bukan hanya reaktif.
Berdasarkan data resmi yang diverifikasi oleh BPBD Kabupaten Aceh Tengah (Irham Temasmiko), Reje Kampung Saneheh (Bahtiar), Danramil Silih Nara (Kapten Inf Subekti KCPPM), Kapolsek Silih Nara (IPTU Samsul Bahri Bangun), serta disaksikan Camat Silih Nara (Mardani, SE) per pukul 19.22 WIB, bencana ini menyebabkan kerusakan parah pada empat unit rumah dan menelan 14 korban luka-luka. Selain satu korban jiwa, seluruh korban luka telah dievakuasi ke RSUD Datu Beru untuk penanganan medis lanjutan.

Rincian Korban dan Dampak Material (Data Resmi 19.22 WIB)
Dampak Kerusakan Rumah:
Dusun 1: Dua unit rumah rusak berat (milik Aliyah & Idham Halid; 2 KK/4 jiwa), satu unit rusak sedang (milik Rosita; 1 KK/2 jiwa), serta satu rumah terdampak imbas longsor (milik Jarkasi & Syahfitra; 2 KK/5 jiwa).
Dusun 5: Satu unit rumah rusak berat (milik Nurhayati; 1 KK/3 jiwa).
Korban Meninggal Dunia:
Nazila (±9 tahun, warga Paya Reje). Jenazah telah dibawa ke rumah duka di Paya Reje.
Korban Luka-Luka (Total 13 Orang):
Warga Kampung Saneheh: Rosita (61 thn), Nurjanah (51 thn), Halimatus Sakdiyah (43 thn), Anisa (7 thn), Aliyah (74 thn), Sapri (32 thn, Dusun 5).
Warga Luar Kampung Sanehen: Sulis (39 thn, Paya Reje), Yuhana (39 thn, Paya Reje), Naumi (5 thn, Paya Reje), Sahril (27 thn, Genuren Bintang), Juraini (25 thn, ibu hamil, Genuren Bintang), Raimah (55 thn, Blang Gele), Ruhdi (42 thn, Paya Kolak Belang Jorong).
Para korban sempat mendapatkan penanganan awal di Puskesmas Angkup sebelum dirujuk ke RSUD Datu Beru. Kondisi Sulis, Juraini (ibu hamil), dan beberapa korban lainnya yang mengalami fraktur memerlukan fasilitas bedah ortopedi yang memadai—suatu tantangan logistik di wilayah pascabencana yang infrastrukturnya belum pulih sepenuhnya. Hingga laporan ini diturunkan, jumlah total kerugian material dan dokumen berharga masih dalam proses pendataan.

Korban yang meninggal dunia.
Wartatrans Saat Ini Berada di Lokasi: Evakuasi saat ini sedang berjalan Cuaca hujan.
Wartatrans saat ini berada di lokasi dan melaporkan langsung bahwa proses evakuasi dan pendataan masih berlangsung di tengah hujan yang belum reda. Tumpukan material tanah dan puing rumah menutupi akses permukiman, mobilisasi ala berat. Petugas gabungan berupaya keras mengamankan titik rawan, namun keterbatasan sarana prasarana pasca-bencana 2025 membuat respons lapangan terasa lambat dan berat.
“Satu rumah hancur. Lebih dari sepuluh orang menjadi korban. Satu nyawa anak melayang,” ucap seorang warga dengan suara bergetar. Kalimat ini bukan sekadar ungkapan duka, melainkan cerminan kelelahan kolektif masyarakat yang harus menghadapi bencana berulang tanpa pemulihan infrastruktur yang tuntas.
Seruan Kebijakan: Dari Bantuan Darurat Menuju Ketahanan Struktural
Kejadian di Sanehen adalah bukti empiris bahwa pendekatan penanggulangan bencana di Aceh Tengah selama ini masih bersifat reaktif. Tragedi November 2025 seharusnya menjadi momentum transformasi tata kelola risiko bencana, bukan sekadar babak baru dalam siklus kerusakan-pemulihan yang melelahkan.
Pemerintah Pusat perlu segera mengambil langkah konkret melampaui bantuan logistik jangka pendek:
Reklasifikasi Status Bencana: Menetapkan Aceh Tengah sebagai wilayah prioritas rehabilitasi pascabencana berkelanjutan, mengingat frekuensi dan intensitas kejadian yang meningkat drastis dalam kurun waktu kurang dari satu tahun.
Investasi Infrastruktur Tangguh Bencana: Mengalokasikan anggaran khusus untuk pembangunan sistem drainase lereng, retaining wall, dan jalur evakuasi permanen di kawasan rawan seperti Silih Nara, bukan sekadar perbaikan jalan rusak.
Penguatan Kapasitas Fasilitas Kesehatan Lokal: Meningkatkan kapasitas Puskesmas Angkup dan jaringan rujukan regional agar mampu menangani trauma berat dan fraktur kompleks tanpa bergantung penuh pada transfer pasien ke Banda Aceh atau Medan yang memakan waktu kritis.
Program Relokasi Berbasis Risiko: Mempercepat pemetaan zonasi bahaya dan program relokasi permanen bagi permukiman di zona merah, disertai jaminan mata pencaharian alternatif agar masyarakat tidak kembali menempati lahan rentan.
Longsor di Sanehen bukan lagi “bencana alam” semata, melainkan indikator kegagalan adaptasi terhadap perubahan iklim dan kerentanan geografis yang terakumulasi. Jika Pemerintah Pusat tidak mengubah paradigma dari responsif menjadi preventif-struktural, maka daftar nama korban seperti Nazila, Sulis, dan Juraini akan terus bertambah- dan memori kelam November 2025 akan berulang dengan korban yang lebih banyak.
Masyarakat di kawasan lereng dan bantaran sungai diimbau tetap siaga. Namun, kewaspadaan warga saja tidak cukup. Yang dibutuhkan sekarang adalah komitmen politik dan anggaran yang setara dengan besarnya ancaman yang menghadang Aceh Tengah.*** (Jasa)






























