Wartatrans.com, JAKARTA – PT Jasa Marga (Persero) Tbk memperluas sumber pertumbuhan melalui pengembangan ekosistem di sepanjang koridor jalan tol.
Strategi ini diarahkan untuk mengoptimalkan aset sekaligus menangkap aktivitas ekonomi yang tumbuh di sekitar jaringan jalan tol.

Direktur Utama Jasa Marga Rivan A. Purwantono mengatakan, perseroan tidak hanya mengandalkan penambahan ruas tol, tetapi juga mengembangkan sejumlah lini usaha seperti rest area, building management, advertising, utilitas, Transit Oriented Development (TOD), dan Toll Corridor Development (TCD).
Strategi tersebut berjalan bersamaan dengan rencana belanja modal atau capital expenditure (capex) sekitar Rp12 triliun hingga akhir 2026.
“Namun kami estimasi bahwa capex investasi sampai dengan akhir tahun 2026 adalah mencapai sekitar Rp12 triliun,” kata Rivan dalam Public Expose 2026, Rabu (9/9/2026).
Hingga semester I 2026, realisasi capex untuk operasional, pemeliharaan dan investasi pembangunan jalan tol mencapai Rp4,4 triliun.
Penyerapan selanjutnya masih bergantung pada realisasi lapangan, termasuk optimalisasi jadwal konstruksi dan pengoperasian jalan tol baru secara bertahap.
Dari sisi kinerja, Jasa Marga membukukan laba bersih Rp1,91 triliun pada semester I-2026, naik 2% secara tahunan.
Pendapatan usaha mencapai Rp10,31 triliun atau tumbuh 7,6%, dengan pendapatan tol Rp9,5 triliun.
Pendapatan usaha lainnya mencapai Rp798,2 miliar atau tumbuh 17,6%, sedangkan EBITDA tercatat Rp6,99 triliun atau meningkat 8,1%.
Hingga 30 Juni 2026, Jasa Marga mengoperasikan sekitar 1.294 kilometer jalan tol dari total konsesi 1.736 kilometer.
Besarnya jaringan tersebut menjadi basis pengembangan konektivitas dan aktivitas ekonomi di sepanjang koridor.
Salah satu gambaran pemanfaatan konektivitas baru terlihat pada Jalan Tol Probolinggo-Situbondo-Banyuwangi (Prosiwangi).
Saat dibuka secara fungsional untuk mendukung arus mudik Lebaran 2026, sekitar 2.000-2.500 kendaraan golongan I melintas setiap hari.
Pengamat Kebijakan Publik Agus Pambagio menilai jalan tol memiliki posisi strategis dalam sistem transportasi dan logistik nasional.
“Jalan tol memiliki posisi strategis dalam sistem transportasi dan logistik nasional,” jelas Agus, Selasa (1/9/2026).
Ia menilai konektivitas tol turut mendukung mobilitas, efisiensi rantai pasok, hubungan pusat produksi dengan pasar dan pertumbuhan ekonomi.
Di sisi ekspansi, Jasa Marga tetap membuka peluang pengusahaan jalan tol baru maupun investasi brownfield.
Setiap peluang dievaluasi berdasarkan prospek lalu lintas, konektivitas, jaringan eksisting, kelayakan investasi dan kemampuan finansial.
Dengan pendekatan tersebut, pertumbuhan Jasa Marga diarahkan tidak hanya melalui penambahan ruas, tetapi juga optimalisasi jaringan, aset, layanan dan aktivitas ekonomi di sepanjang koridor. (Artha Tidar)
































