Wartatrans.com, JAKARTA – Direktorat Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan melalui Balai Pengelola Transportasi Darat (BPTD) Kelas II Jawa Timur berupaya mengurai kepadatan panjang di Pelabuhan Ketapang-Gilimanuk yang terjadi beberapa hari terakhir.
Sejumlah strategi dilakukan, salah satunya penambahan tiga kapal besar 5000 GT dari Pelabuhan Padangbai dan Pelabuhan Merak.

“Untuk mempercepat pengangkutan muatan, akan dilakukan penambahan operasional kapal besar sebanyak dua unit dari Pelabuhan Padangbai dan satu unit dari Pelabuhan Merak,” ungkap Direktur Jenderal Perhubungan Darat Aan Suhanan di Jakarta, Sabtu (5/9/2026).
Selain itu, skema Tiba – Bongkar – Berangkat (TBB) juga masih dilaksanakan untuk mempercepat proses bongkar muat kapal dan pergerakan kendaraan.
“Untuk mempercepat proses bongkar muat kami terapkan skema TBB, skema ini juga mempersingkat waktu sandar kapal dan diharapkan dapat meningkatkan produktivitas layanan sekaligus mempercepat pergerakan kendaraan secara bertahap. Setiap kapal yang tiba di Pelabuhan Gilimanuk dari Pelabuhan Ketapang maupun sebaliknya, langsung bongkar dan berangkat lagi untuk mengangkut muatan,” imbuhnya.
Pihaknya juga berkoordinasi dengan Ditjen Perhubungan Laut, Kepolisian daerah Jawa Timur, Pemerintah Daerah Jawa Timur, dan PT ASDP Indonesia Ferry untuk menambah operasional dua kapal pada lintasan Pelabuhan Tanjung Wangi tujuan Pelabuhan Lembar dan Pelabuhan Jangkar.
Kemudian, Dirjen Aan menjelaskan pihaknya juga melakukan pemisahan antrean kendaraan berdasarkan berat muatan.
Kendaraan dengan berat tertentu diarahkan ke dermaga yang mendukung berat muatan kendaraan tersebut.
“Kami juga menerapkan pemisahan antrean kendaraan berdasarkan berat muatan melalui stikerisasi. Kendaraan dengan berat ≤35 ton diarahkan ke dermaga dengan daya dukung ≤35 ton dan dengan berat >35 ton diarahkan ke LCM atau dermaga dengan daya dukung minimal 50 ton,” katanya.
Di samping itu, langkah penanganan lainnya juga telah disiapkan Ditjen Hubdat bersama stakeholders untuk mengurai kepadatan di antaranya proses revitalisasi dermaga II Ketapang akan dipercepat, menyiapkan bufferzone alternatif, serta akan mengaktifkan Pelabuhan Jangkar khusus untuk kendaraan logistik tujuan Pelabuhan Lembar dan kendaraan kecil tujuan Pelabuhan Celukan Bawang.
Sebelumnya, Jumat (4/9) dilaporkan terdapat antrean di luar Pelabuhan Ketapang sepanjang kurang lebih 12 Km yang didominasi kendaraan angkutan barang.
Adapun kepadatan ini terjadi dikarenakan adanya peningkatan volume kendaraan logistik dan kapasitas angkut berkurang akibat adanya pengerjaan peningkatan kapasitas Dermaga MB II dari 35 ton menjadi 50 ton di lintasan penyeberangan Ketapang-Gilimanuk.
Faktor lainnya karena jumlah kapal yang beroperasi berkurang dari 28 unit menjadi 23 unit (di Dermaga MB sebanyak 14 kapal dan Dermaga LMC sembilan kapal).
Lalu pada trayek Tanjung Wangi (Banyuwangi)-Gili Mas (Lombok Barat) hanya dioperasikan dua kapal dari kondisi normal empat unit, serta masih adanya kerusakan pada Dermaga Bulusan sebagai dermaga penyangga sehingga belum dapat dioperasikan secara maksimal.
KSOP Tanjung Wangi
Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas III Tanjung Wangi juga terus melakukan koordinasi dengan seluruh pemangku kepentingan dalam rangka mempercepat penguraian antrean kendaraan di akses menuju Pelabuhan Penyeberangan Ketapang dan Pelabuhan Tanjung Wangi.
Hal itu dilakukan dengan tetap mengutamakan keselamatan dan kelancaran operasional pelayaran.
Kepala Kantor KSOP Tanjung Wangi, Capt. Purgana mengatakan, dalam menghadapi kondisi antrean dan kepadatan lalu lintas saat ini, aspek keselamatan pelayaran tetap menjadi prioritas utama.
“Kami mengimbau seluruh pemangku kepentingan untuk meningkatkan koordinasi agar penanganan antrean dapat dilakukan secara cepat dan tepat, tanpa mengabaikan ketentuan keselamatan pelayaran,” ujar Capt. Purgana. (omy)
































