Wartatrans.com, JAKARTA — Siapa yang tak mengenal Denny JA? Di lingkaran politik, birokrasi, intelektual, hingga sastra, nama itu rasanya bukan lagi nama yang asing. Ia telah menjadi bagian dari perjalanan panjang berbagai peristiwa, gagasan, perdebatan, bahkan perubahan zaman yang berlangsung di negeri ini.
Namun, tulisan ini tidak hendak membicarakan Denny JA dari sisi politik, survei, lembaga, ataupun kontroversi yang pernah mengiringi perjalanan intelektual dan kesusastraannya.

Saya ingin melihatnya dari kaca mata yang jauh lebih sederhana: sebagai seorang sahabat.
Di usia yang tidak lagi muda, Denny masih terlihat energik. Menulis, membaca, berdiskusi, melahirkan gagasan, dan terus bekerja seolah waktu belum pernah mengajarinya tentang kata “berhenti”.
Dalam dunia sastra, tentu saja, perjalanan Denny JA tidak selalu berada di ruang yang sunyi dan nyaman. Ada apresiasi, ada kritik, ada pro dan kontra. Bahkan perdebatan tentang dirinya dan gagasan-gagasannya dalam sastra telah menjadi bagian dari sejarah perjalanan sastra Indonesia kontemporer.
Tetapi mungkin justru di situlah menariknya Denny. Ia tidak berhenti hanya karena dikritik. Ia tetap menulis. Tetap berkarya. Dan yang lebih penting, ia tetap memberikan sesuatu bagi dunia yang diyakininya.
Salah satunya melalui perhatian terhadap keberlangsungan kehidupan sastra. Gagasan tentang “dana abadi” untuk sastra yang ia dorong melalui Satu Pena menunjukkan bahwa baginya sastra bukan sekadar panggung untuk mendapatkan pengakuan, tetapi juga sesuatu yang perlu dirawat agar terus hidup melampaui generasi.
Kini, untuk kedua kalinya, ia dipercaya memimpin Satu Pena sebagai ketua umum.
Terlepas dari segala pro dan kontra yang menyertai namanya, saya melihat ada satu sisi Denny yang sering luput dibicarakan: kemampuannya merawat persahabatan.
Ini bukan perkara kecil. Banyak orang bisa hadir ketika sedang berada di bawah. Tetapi tidak semua orang mampu tetap mengingat sahabat ketika berada di puncak kesibukan, karier, dan pencapaian.
Denny termasuk yang saya lihat mampu melakukan itu. Ada satu hal sederhana yang bagi saya justru memperlihatkan karakter seseorang: mengingat ulang tahun sahabat.
Di tengah kesibukan yang luar biasa, ia tetap mengingatnya. Bahkan ketika waktu tidak memungkinkan untuk merayakan tepat pada waktunya, ulang tahun itu bisa “dirapel”. Bukan karena tanggal tidak penting, melainkan karena perhatian tidak ingin hilang hanya lantaran kesibukan.
Bagi sebagian orang, mungkin itu hal biasa. Bagi saya, tidak. Sebab semakin panjang usia persahabatan, semakin banyak hal yang mudah terlupakan.
Nama-nama orang yang dahulu begitu dekat perlahan menghilang dari ingatan. Kesibukan pekerjaan membuat komunikasi semakin jarang. Jarak membuat pertemuan semakin sulit. Dan usia membuat kita semakin sadar bahwa waktu tidak pernah benar-benar menunggu.
Tetapi ada orang-orang tertentu yang tetap menyimpan ruang bagi sahabatnya. Denny, dalam pengalaman persahabatan saya, adalah salah satunya.
Saya mengenalnya ketika kami masih sama-sama berstatus mahasiswa. Kami melewati masa ketika masa depan masih berupa pertanyaan besar. Kami belum tahu akan menjadi apa, akan berada di mana, dan sejauh apa perjalanan hidup membawa kami.
Puluhan tahun kemudian, kami berada di fase yang berbeda. Rambut mungkin sudah berubah. Tenaga tidak lagi sama. Lingkaran pergaulan semakin luas. Kesibukan semakin banyak. Kehidupan masing-masing telah membawa kami ke jalan yang berbeda.
Tetapi ada sesuatu yang ternyata tidak ikut berubah: persahabatan.
Mungkin itulah salah satu ukuran keberhasilan seseorang yang tidak pernah masuk dalam laporan pencapaian.
Bukan berapa banyak jabatan yang pernah diduduki. Bukan berapa banyak buku yang telah ditulis. Bukan berapa banyak orang yang mengenal namanya.
Melainkan berapa banyak hubungan kemanusiaan yang masih mampu ia rawat ketika waktu telah membawa semuanya jauh.
Denny JA mungkin telah menjadi banyak hal dalam perjalanan hidupnya: intelektual, penulis, penggagas, penggerak, dan tokoh yang tidak pernah sepi dari perbincangan.
Namun bagi saya, di balik semua label itu ada Denny yang lain.
Denny, seorang sahabat.
Seorang sahabat yang masih ingat hari lahir sahabatnya, bahkan ketika kesibukan membuat perayaan harus dilakukan belakangan.
Ada empati di sana. Ada perhatian. Dan mungkin ada sesuatu yang lebih sederhana tetapi jauh lebih mahal: ketulusan untuk tidak melupakan.
Di usia senja, barangkali kita tidak lagi membutuhkan terlalu banyak orang di sekitar kita. Kita justru semakin membutuhkan orang-orang yang benar-benar mengenal perjalanan kita—orang yang tahu bagaimana kita memulai, tahu bagaimana kita pernah jatuh, tahu bagaimana kita pernah bermimpi, dan tetap hadir ketika rambut mulai memutih.
Persahabatan seperti itu tidak lahir dalam sehari. Ia ditempa oleh waktu. Dipelihara oleh perhatian. Dan diuji oleh jarak serta kesibukan.
Karena itu, ketika melihat Denny JA hari ini masih produktif, masih menulis, masih berorganisasi, masih mengurus sastra, dan masih memiliki energi untuk melahirkan gagasan, saya tidak hanya melihat seorang tokoh yang terus berkarya.
Saya melihat seorang kawan lama. Kawan dari masa ketika kami masih mahasiswa. Kawan yang perjalanan hidupnya telah membawa kami melewati puluhan tahun.
Dan mungkin, pada akhirnya, sejarah paling indah dari sebuah persahabatan bukanlah seberapa sering kita bertemu.
Melainkan seberapa lama kita tetap saling mengingat. Sebab jabatan akan berganti. Panggung akan berpindah. Perdebatan akan datang dan pergi. Buku akan selesai ditulis.
Tetapi persahabatan yang dirawat dengan empati bisa tinggal jauh lebih lama.
Dan ketika usia semakin senja, mungkin itulah salah satu kekayaan paling berharga yang masih kita miliki: orang-orang yang pernah berjalan bersama kita, dan tidak memilih untuk melupakan.***
Duren Sawit 2026


























