Wartatrans. BANYUWANGI — Ada sesuatu yang selalu menarik dari Tari Gandrung Banyuwangi.
Setiap tahun, ketika ribuan penari berkumpul dalam sebuah pertunjukan yang menjadi salah satu agenda Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, saya tidak hanya melihat sebuah pertunjukan seni. Saya melihat sebuah peristiwa kebudayaan yang memperlihatkan bagaimana perbedaan dapat dirajut menjadi harmoni.

Ribuan penari datang dari usia, latar belakang sosial, dan kehidupan yang berbeda. Namun ketika musik dimainkan, perbedaan itu seolah luruh. Mereka bergerak dalam irama yang sama, mengenakan busana yang sama, dengan selendang merah yang menjadi bagian dari keseragaman visual pertunjukan.
Kipas berwarna putih pun menjadi bagian dari simbol yang menarik untuk direnungkan. Merah dapat dibaca sebagai keberanian yang tertanam dalam jiwa dan raga, sementara putih mengingatkan pada ketulusan dan kesucian hati. Semuanya kemudian bertemu dalam satu gerak, satu irama, dan satu kebersamaan.
Di situlah seni bekerja.
Ia tidak bertanya siapa yang kaya dan siapa yang sederhana. Ia tidak bertanya siapa yang lebih senior dan siapa yang baru bergabung. Ketika berada dalam satu panggung, semuanya memiliki kedudukan yang sama: menjadi bagian dari sebuah harmoni.
Pemandangan itu mengingatkan saya pada gagasan besar yang diwariskan Mpu Tantular melalui Kakawin Sutasoma: Bhinneka Tunggal Ika.
Frasa yang kemudian menjadi semboyan bangsa Indonesia itu lahir dari konteks kehidupan keagamaan pada masa Majapahit, antara pemeluk Siwa dan Buddha. Pesannya sederhana tetapi sangat dalam: perbedaan tidak harus menjadi alasan untuk saling meniadakan.
Justru karena berbeda, manusia membutuhkan ruang untuk saling menghormati.
Saya sempat berbincang dengan salah seorang panitia mengenai bagaimana mungkin mengumpulkan sekian banyak orang dengan latar belakang yang berbeda, kemudian membuat mereka mampu bergerak dalam kekompakan yang sama.
Jawabannya ternyata tidak sederhana. Ada banyak lika-liku yang harus dilalui. Salah satunya adalah bagaimana menepis ego. Ada mereka yang merasa sudah senior, sudah lama berkecimpung, atau hidup dalam kecukupan. Di sisi lain, ada mereka yang secara ekonomi mungkin jauh lebih sederhana, tetapi memiliki bakat dan semangat yang luar biasa.
Menyatukan keduanya tentu bukan pekerjaan mudah. Namun kerja keras panitia, proses latihan, kesabaran, dan kesediaan untuk saling menyesuaikan akhirnya melahirkan sesuatu yang indah. Mereka berdiri bersama, bergerak bersama, mengikuti irama yang sama.
Dan penonton menyaksikan sebuah pertunjukan yang memukau. Bagi saya, justru proses menuju pertunjukan itulah yang memiliki makna lebih besar daripada sekadar pertunjukannya.
Sebab kehidupan pun demikian. Kita sering gagal membangun kebersamaan bukan karena tidak memiliki tujuan yang sama, tetapi karena terlalu sibuk mempertahankan ego masing-masing. Kita ingin dianggap paling senior, paling berjasa, paling tahu, paling berpengalaman, atau paling berhak menentukan arah.
Padahal, sebuah harmoni tidak mungkin lahir jika setiap orang ingin menjadi nada utama.
Dalam musik, keindahan justru muncul karena ada nada yang berbeda tetapi dimainkan dalam irama yang sama.
Tari Gandrung mengajarkan hal serupa. Kita boleh berbeda usia. Berbeda pekerjaan. Berbeda kelas sosial. Berbeda pengalaman. Bahkan berbeda cara memandang kehidupan.
Tetapi ketika memiliki tujuan bersama, perbedaan itu tidak harus menjadi tembok. Ia dapat menjadi warna.
Renungan ini kemudian membawa ingatan saya kepada Marcus Aurelius, filsuf Stoik sekaligus Kaisar Romawi. Dalam pemikirannya tentang kosmopolitanisme, manusia dipandang sebagai bagian dari satu komunitas yang lebih besar. Manusia tidak berdiri sendiri, melainkan saling terhubung sebagai bagian dari kehidupan bersama.
Gagasan itu terasa relevan dengan apa yang saya lihat dalam Tari Gandrung. Persatuan bukan berarti menghapus perbedaan.
Persatuan adalah kemampuan untuk hidup bersama di tengah perbedaan. Harmoni bukanlah ketika semua orang memiliki suara yang sama. Harmoni justru terjadi ketika suara yang berbeda mampu menemukan irama yang sama.
Mungkin itulah pesan paling sederhana dari ribuan penari Gandrung. Mereka tidak harus menjadi orang yang sama untuk dapat menari bersama.
Mereka hanya perlu bersedia menurunkan ego, mengikuti irama, menghargai peran orang lain, dan menyadari bahwa keindahan yang mereka ciptakan bukan milik satu orang.
Ia lahir dari kebersamaan. Dari sana kita kembali memahami makna Bhinneka Tunggal Ika bukan sekadar kalimat yang terpampang pada lambang negara, tetapi sebagai sikap hidup.
Berbeda, tetapi tidak bermusuhan. Beragam, tetapi tidak tercerai. Masing-masing memiliki warna, namun tetap berada dalam satu harmoni.
Dan Tari Gandrung Banyuwangi, bagi saya, adalah salah satu panggung yang memperlihatkan bahwa filosofi itu masih hidup.
Bukan hanya dalam kata-kata. Tetapi dalam gerak, dalam irama, dan dalam kebersamaan.***


























