Wartatrans.com, BUKITTINGGI — Seni puisi kembali menjadi ruang bagi generasi muda untuk mengekspresikan gagasan, rasa, dan kreativitas. Hal itu ditunjukkan Hurriya Rahima Adabi, siswi kelas XII SMAN 1 Bukittinggi, yang berhasil melaju ke tingkat nasional dalam Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N) cabang lomba baca puisi.
Keberhasilan Hurriya menjadi kebanggaan bagi SMAN 1 Bukittinggi sekaligus membawa nama Sumatera Barat ke ajang nasional. Ia kini tengah mempersiapkan diri menghadapi persaingan yang lebih ketat di tingkat nasional.

Kepala SMAN 1 Bukittinggi, M. Hernandar, S.Pd., M.Si., mengaku bangga atas pencapaian anak didiknya tersebut. Menurutnya, keberhasilan Hurriya merupakan bukti bahwa bakat seni siswa perlu mendapat ruang dan dukungan yang memadai di lingkungan pendidikan.
“Sebagai kepala sekolah, saya merasa bangga dan senang karena anak murid saya berhasil masuk ke tingkat nasional. Karena persaingan di tingkat nasional semakin ketat, kami mencari pelatih yang profesional. Guru memiliki keterbatasan karena masing-masing memiliki spesifikasi dalam mengajar,” ujar Hernandar.

Menurut Hernandar, sekolah berkomitmen mendukung siswa yang memiliki bakat, baik di bidang seni maupun bidang lainnya. Pendidikan, kata dia, tidak hanya berkaitan dengan ilmu pengetahuan, tetapi juga keterampilan, adab, dan pembentukan karakter.
“Bagi siswa yang punya bakat, sekolah akan mendukung sepenuhnya. Kami ingin memberikan bekal pendidikan, ilmu pengetahuan, keterampilan, adab dan tingkah laku agar mereka menjadi generasi muda yang sukses di masa depan,” katanya.
Pendamping lomba baca puisi, Fivil Pri Khoira, S.Pd., mengatakan persiapan Hurriya dilakukan secara menyeluruh, tidak hanya menyangkut kemampuan membaca teks puisi, tetapi juga kesiapan fisik dan mental.
Dalam menghadapi kompetisi nasional, Hurriya mendapatkan pelatihan dari Dr. Sulaiman Juned, M.Sn. Materi latihan mencakup analisis puisi, teknik pernapasan, olah tubuh, vokal, gesture hingga olah rasa.
“Anak dipersiapkan secara fisik dan mental, termasuk pemahaman dalam membaca puisi. Ada teknik pernapasan, olah tubuh, vokal dan rasa yang diberikan oleh pelatih,” ujar Fivil.
Namun, proses persiapan tersebut tidak lepas dari tantangan. Sebagai siswi kelas XII, Hurriya juga harus mempersiapkan diri menghadapi pendidikan lanjutan dan seleksi masuk perguruan tinggi.
Fivil mengatakan, sekolah memberikan dispensasi agar Hurriya dapat mengikuti pelatihan tanpa mengabaikan kewajibannya sebagai pelajar.
“Kendalanya adalah membagi waktu antara persiapan lomba dan belajar untuk masuk perguruan tinggi. Di satu sisi Aya harus belajar, di sisi lain juga harus berjuang meraih prestasi di tingkat nasional,” katanya.
Sekolah memberikan keringanan berupa dispensasi selama masa pelatihan dan izin meninggalkan pelajaran. Hurriya juga diberi kesempatan untuk menyusul materi serta tugas yang tertinggal.

Bagi Hurriya, keberhasilan melaju ke tingkat nasional merupakan bagian dari perjalanan panjangnya dalam mengenal puisi. Ketertarikannya terhadap puisi telah tumbuh sejak duduk di bangku sekolah dasar.
“Saya sudah memiliki ketertarikan terhadap puisi sejak SD dan juga mendapat dukungan dari orang tua. Setelah masuk SMA, saya lebih fokus ke lomba baca puisi. Alhamdulillah, sekarang sudah sampai ke tingkat nasional,” tutur Hurriya.
Pada FLS3N tingkat provinsi, Hurriya sempat mendapatkan pelatihan bersama Fatur. Untuk menghadapi kompetisi tingkat nasional, ia kemudian menjalani pembinaan bersama Sulaiman Juned.
Hurriya mengaku metode latihan bersama Sulaiman Juned memberikan pengalaman baru baginya. Selain teknik vokal dan pernapasan, ia mendapatkan pemahaman lebih mendalam mengenai bagaimana sebuah puisi dianalisis dan kemudian diterjemahkan melalui ekspresi tubuh dan rasa.

“Sejak dilatih Sulaiman Juned, saya sangat berkesan karena cara berlatihnya asyik dan menarik, berbeda dengan pelatih sebelumnya. Beliau memberikan ilmu analisis terhadap puisi, kemudian melatih gesture, vokal, pernapasan dan olah rasa,” katanya.
Menurut Hurriya, kedisiplinan yang diterapkan dalam proses latihan juga menjadi pengalaman penting yang dapat menjadi bekal untuk pengembangan dirinya ke depan.
Kini, Hurriya membawa dua harapan sekaligus: memberikan penampilan terbaik di panggung nasional dan menjadikan prestasi di bidang puisi sebagai bagian dari perjalanan menuju perguruan tinggi.
“Mohon doanya agar saya dapat tampil lancar dan memperoleh hasil terbaik dalam perlombaan. Semoga prestasi di bidang puisi ini juga dapat menjadi bekal saya untuk masuk perguruan tinggi melalui SNBP,” ujarnya.
Prestasi Hurriya memperlihatkan bahwa puisi tidak sekadar aktivitas membaca teks sastra. Di tangan generasi muda, puisi menjadi medium untuk melatih kepekaan, keberanian tampil, kemampuan berpikir, olah rasa, sekaligus membangun karakter.
Dari ruang kelas SMAN 1 Bukittinggi, Hurriya kini bersiap membawa suara Sumatera Barat ke panggung nasional melalui kata, suara, tubuh, dan rasa.*** (Awa/Dini)
































