Wartatrans.com, BANDA ACEH — Halaman Jeda yang berlokasi di Jalan AMD, Batoh, Lueng Bata, Kota Banda Aceh, kini menjadi titik kumpul para pemikir Aceh. Seperti yang yang terjadi pada Sabtu (29/8/2029l, dimana para pemikir Aceh berdiskusi dan berekspresi, dari ilmuwan profesor, seniman hingga aktifis.
“Hari ini para pemikir Aceh hadir di Halaman Jeda, bukan saja memikirkan masa depan Aceh, tapi lebih dari itu. Semoga setelah Berpikir selanjutnya akan bergerak,” papar Rafly Kadde tokoh seniman musik bergenre world music sekaligus politisi nasional.

Menurutnya, Aceh harus dibangun dan dimajukan lewat cinta dan hati dengan sentuhan seni. Karena dalam seni itu ada “rasa”, Agar nantinya kemajuan Aceh bisa dirasakan oleh seluruh rakyat Aceh.
Acara diskusi dibuka dengan penampilan Rafly Kande yang melantunkan lagu berlirik sosial dan dilanjutkan pembacaan puisi yang ekspresif dari sastrawan ternama Aceh. Suasana makin mencair dan terbuka dengan gagasan revolusioner dari para tokoh yang hadir.
Tokoh ilmuwan Prof. Rajuddin di forum diskusi tersebut mengingatkan, bahwa kesehatan adalah fondasi penting dalam membangun manusia. Pertanyaan tentang “rumah sakit yang sakit?”, kemudian berkembang menjadi pertanyaan yang lebih besar: Bagaimana membangun manusia Aceh yang sehat, produktif, berilmu, dan mampu menghadapi masa depan?
Sedangkan dari perspektif filsafat, Prof. Fuad Mardatillah membawa pembicaraan kepada persoalan kejujuran dan keautentikan manusia.
“Nilai tidak cukup hanya diucapkan atau diklaim. Nilai harus hadir dalam perilaku. Manusia dituntut untuk jujur terhadap dirinya, pekerjaannya, dan tanggung jawabnya. Di sinilah pertanyaan tentang kemunafikan menjadi penting: apa yang kita katakan, apakah benar-benar menjadi apa yang kita lakukan?,” paparnya.
Wakil Rektor itu kemudian menekankan pentingnya belajar dengan sungguh-sungguh, membangun ilmu, dan membentuk perilaku yang baik. Masa depan tidak akan lahir hanya dari slogan, tetapi dari generasi yang memiliki pengetahuan, karakter, disiplin, dan kemampuan untuk bekerja.
Dari para tokoh budaya muncul gagasan lain: Islam jangan hanya ditempatkan sebagai identitas, tetapi sebagai penjaga arah. Jika Islam disebut sebagai penentu arah, maka nilai-nilainya harus terlihat dalam perilaku manusia, pendidikan, kepemimpinan, tata kelola, dan kehidupan sosial.
Sementara dari generasi muda muncul kegelisahan yang sederhana tetapi mendasar: mereka membutuhkan kepastian sistem pemerintahan yang mampu memberikan ruang dan jaminan bagi masa depan mereka.
Berbagai pandangan tersebut sebenarnya bertemu pada satu persoalan, yaitu Aceh membutuhkan manusia yang sehat, jujur, berilmu, berkarakter, memiliki arah nilai, dan hidup dalam sistem yang mampu bekerja dengan baik.
Di sinilah Halaman Jeda menjadi menarik sebagai titik kumpul para pemikir Aceh. Lokasi kumpul ini tidak mencoba memberikan jawaban atas seluruh persoalan Aceh dalam satu malam. Justru ruang ini membuka pertanyaan, mempertemukan berbagai disiplin, dan membiarkan gagasan diuji melalui percakapan.
Sejarah, budaya, agama, kesehatan, pendidikan, pemerintahan, ekonomi dan masa depan Aceh akhirnya tidak lagi berdiri sebagai persoalan yang terpisah. Semuanya saling berhubungan karena pada akhirnya berbicara tentang manusia dan arah kehidupan bersama.
Dari percakapan itulah muncul gagasan untuk melanjutkan Halaman Jeda ke tahap berikutnya melalui tema ISLAM, ACEH, DAN PERDAGANGAN GLOBAL
Tema ini membawa pertanyaan yang lebih luas: jika Islam adalah penjaga arah, manusia adalah fondasi, dan Aceh memiliki sejarah serta posisi geografis yang strategis,
bagaimana seluruh modal tersebut dapat diterjemahkan menjadi kekuatan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat?
“Halaman Jeda IPart 2 nantinya diharapkan menjadi ruang untuk mempertemukan perspektif keumatan, akademisi, dunia usaha, perbankan, maritim, korporasi, dan generasi muda.
Bukan sekadar untuk berdiskusi,” pungkas Rafly Kande yang juga founder dari Halaman Jeda.*** (Bois)


























