Menu

Mode Gelap
Ramaikan GBK, Penonton Pertandingan Persija-Persib Tembus 58.961 Aceh Coffee Day Rayakan Dua Tahun Hari Kopi Aceh Dihelat 15 September 2026 Bidik Ekosistem Umrah Terintegrasi, JARDY Travel Gandeng BPRS Harum Hikmahnugraha Gubernur Jateng Ahmad Luthfi Buka Akses Masyarakat Saksikan Langsung MTQ Nasional XXXI di Semarang KAI Daop 4 Semarang Siap Layani Mobilitas Masyarakat pada MTQ Nasional XXXI, Penumpang Melonjak Naik KAI Daop 1 Jakarta Gunakan 6,5 Juta Liter B50, Operasional KA Tetap Lancar

RAGAM

Ada Apa Gerangan? Pemikir Revolusioner Tentang Aceh Berdiskusi dan Berekspresi di Halaman Jeda

badge-check


 Ada Apa Gerangan? Pemikir Revolusioner Tentang Aceh Berdiskusi dan Berekspresi di Halaman Jeda Perbesar

Wartatrans.com, BANDA ACEH — Halaman Jeda yang berlokasi di Jalan AMD, Batoh, Lueng Bata, Kota Banda Aceh, kini menjadi titik kumpul para pemikir Aceh. Seperti yang yang terjadi pada Sabtu (29/8/2029l, dimana para pemikir Aceh berdiskusi dan berekspresi, dari ilmuwan profesor, seniman hingga aktifis.

“Hari ini para pemikir Aceh hadir di Halaman Jeda, bukan saja memikirkan masa depan Aceh, tapi lebih dari itu. Semoga setelah Berpikir selanjutnya akan bergerak,” papar Rafly Kadde tokoh seniman musik bergenre world music sekaligus politisi nasional.

Menurutnya, Aceh harus dibangun dan dimajukan lewat cinta dan hati dengan sentuhan seni. Karena dalam seni itu ada “rasa”, Agar nantinya kemajuan Aceh bisa dirasakan oleh seluruh rakyat Aceh.

Acara diskusi dibuka dengan penampilan Rafly Kande yang melantunkan lagu berlirik sosial dan dilanjutkan pembacaan puisi yang ekspresif dari sastrawan ternama Aceh. Suasana makin mencair dan terbuka dengan gagasan revolusioner dari para tokoh yang hadir.

Tokoh ilmuwan Prof. Rajuddin di forum diskusi tersebut mengingatkan, bahwa kesehatan adalah fondasi penting dalam membangun manusia. Pertanyaan tentang “rumah sakit yang sakit?”, kemudian berkembang menjadi pertanyaan yang lebih besar: Bagaimana membangun manusia Aceh yang sehat, produktif, berilmu, dan mampu menghadapi masa depan?

Sedangkan dari perspektif filsafat, Prof. Fuad Mardatillah membawa pembicaraan kepada persoalan kejujuran dan keautentikan manusia.

“Nilai tidak cukup hanya diucapkan atau diklaim. Nilai harus hadir dalam perilaku. Manusia dituntut untuk jujur terhadap dirinya, pekerjaannya, dan tanggung jawabnya. Di sinilah pertanyaan tentang kemunafikan menjadi penting: apa yang kita katakan, apakah benar-benar menjadi apa yang kita lakukan?,” paparnya.

Wakil Rektor itu kemudian menekankan pentingnya belajar dengan sungguh-sungguh, membangun ilmu, dan membentuk perilaku yang baik. Masa depan tidak akan lahir hanya dari slogan, tetapi dari generasi yang memiliki pengetahuan, karakter, disiplin, dan kemampuan untuk bekerja.

Dari para tokoh budaya muncul gagasan lain: Islam jangan hanya ditempatkan sebagai identitas, tetapi sebagai penjaga arah. Jika Islam disebut sebagai penentu arah, maka nilai-nilainya harus terlihat dalam perilaku manusia, pendidikan, kepemimpinan, tata kelola, dan kehidupan sosial.

Sementara dari generasi muda muncul kegelisahan yang sederhana tetapi mendasar: mereka membutuhkan kepastian sistem pemerintahan yang mampu memberikan ruang dan jaminan bagi masa depan mereka.

Berbagai pandangan tersebut sebenarnya bertemu pada satu persoalan, yaitu Aceh membutuhkan manusia yang sehat, jujur, berilmu, berkarakter, memiliki arah nilai, dan hidup dalam sistem yang mampu bekerja dengan baik.

Di sinilah Halaman Jeda menjadi menarik sebagai titik kumpul para pemikir Aceh. Lokasi kumpul ini tidak mencoba memberikan jawaban atas seluruh persoalan Aceh dalam satu malam. Justru ruang ini membuka pertanyaan, mempertemukan berbagai disiplin, dan membiarkan gagasan diuji melalui percakapan.

Sejarah, budaya, agama, kesehatan, pendidikan, pemerintahan, ekonomi dan masa depan Aceh akhirnya tidak lagi berdiri sebagai persoalan yang terpisah. Semuanya saling berhubungan karena pada akhirnya berbicara tentang manusia dan arah kehidupan bersama.

Dari percakapan itulah muncul gagasan untuk melanjutkan Halaman Jeda ke tahap berikutnya melalui tema ISLAM, ACEH, DAN PERDAGANGAN GLOBAL

Tema ini membawa pertanyaan yang lebih luas: jika Islam adalah penjaga arah, manusia adalah fondasi, dan Aceh memiliki sejarah serta posisi geografis yang strategis,

bagaimana seluruh modal tersebut dapat diterjemahkan menjadi kekuatan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat?

“Halaman Jeda IPart 2 nantinya diharapkan menjadi ruang untuk mempertemukan perspektif keumatan, akademisi, dunia usaha, perbankan, maritim, korporasi, dan generasi muda.

Bukan sekadar untuk berdiskusi,” pungkas Rafly Kande yang juga founder dari Halaman Jeda.*** (Bois)

Baca Lainnya

Aceh Coffee Day Rayakan Dua Tahun Hari Kopi Aceh Dihelat 15 September 2026

12 September 2026 - 21:25 WIB

Bidik Ekosistem Umrah Terintegrasi, JARDY Travel Gandeng BPRS Harum Hikmahnugraha

12 September 2026 - 19:04 WIB

Gubernur Jateng Ahmad Luthfi Buka Akses Masyarakat Saksikan Langsung MTQ Nasional XXXI di Semarang

12 September 2026 - 16:23 WIB

KAI Daop 4 Semarang Siap Layani Mobilitas Masyarakat pada MTQ Nasional XXXI, Penumpang Melonjak Naik

12 September 2026 - 16:18 WIB

Bansos Digital Jangkau 50 Juta Warga

11 September 2026 - 21:31 WIB

Poestaka Betawi Dihidupkan Kembali, Upaya Menyelamatkan Jejak Literasi Betawi

11 September 2026 - 20:30 WIB

Kemarau 2026, Sejumlah Sungai Indonesia Menyusut Ekstrem hingga Dasarnya Terbuka

11 September 2026 - 20:20 WIB

SM Sekper PTP Nonpetikemas Sabet Penghargaan Rising Women Communications Leaders PRIWOLA 2026

11 September 2026 - 19:40 WIB

Akal Sehat dan Pohon Ilmu

11 September 2026 - 19:28 WIB

FIFASTRA Raih Indonesia Most Reputable Companies Award 2026

11 September 2026 - 18:31 WIB

Trending di EKOBIS