Menu ✖

Mode Gelap
KAI Services Gandeng Clothes for Charity Perpanjang Masa Guna Produk Tekstil Pabrik Sabu di Pidie Diduga Dikendalikan Jaringan Luar Daerah, Ustaz Ajak Masyarakat Lebih Waspada Dirantai Digelang Rindu Dipopulerkan Exists Band Legendaris Malaysia, Kini Diremake Indra Adhari Cut Tari Bikin Konflik Makin Panas, Rahasia Masa Lalu Terkuak di Sinetron Wajah Cinta Yang Lain Film Banyak Anak Banyak Rejeki Siap Tayang Januari 2027 Lima Tahun Jaga Konsistensi, FIFGROUP Raih The Finance Golden Star Award 2026

EKOBIS

Dampak Ekonomi Gempa NTT Tembus Rp2,2 Triliun? Industri Asuransi Menghitung Exposure

badge-check


 Aktivitas Baznas di lokasi gempa NTT Perbesar

Aktivitas Baznas di lokasi gempa NTT

Wartatrans.com, JAKARTA – Gempa Nusa Tenggara Timur (NTT) berdampak terhadap sejumlah aset nasabah industri asuransi, tetapi nilai kerugian yang menjadi tanggungan perusahaan belum seluruhnya dihitung.

Direktur Utama Asuransi Tri Pakarta (Tripa) G.C. Koen Yulianto mengatakan dampaknya belum sebesar bencana Sumatera-Aceh karena karakter aset yang terdampak berbeda.

“Di gempa NTT tentu berdampak, tapi kelihatannya karena tidak semasif waktu di Sumatera-Aceh tersebut,” ujar Koen, pekan lalu.

Menurutnya, exposure di NTT kemungkinan lebih banyak berupa bangunan. Di Sumatera dan Aceh banyak perusahaan sawit dan alat beratnya banyak, tapi kalau di NTT mungkin kalau pun ada hanya gedung-gedung.

“Jadi tidak terlalu banyak, tapi belum dihitung.”

Besarnya kerusakan di lapangan menunjukkan mengapa angka exposure tidak dapat langsung disamakan dengan nilai klaim.

Kajian Damage and Loss Assessment (DALA) Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) berdasarkan pendataan lima hari setelah gempa memperkirakan total kerugian di delapan kabupaten NTT mencapai sekitar Rp2,2 triliun.

Kehilangan aktivitas ekonomi mencapai Rp334,1 miliar, kerusakan perumahan Rp1,42 triliun, fasilitas umum dan infrastruktur Rp275,1 miliar, serta biaya tambahan akibat bencana Rp191,7 miliar.

Namun, dampak terus berkembang. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Ahad (30/8/2026) mencatat 95.567 rumah rusak. Rinciannya, 46.161 rusak ringan, 21.992 rusak sedang, dan 27.414 rusak berat, meski kategori kerusakan masih akan diverifikasi.

Sebanyak 188.161 orang masih mengungsi, sementara gempa susulan mencapai 9.765 kali.

Di perusahaan lain, Direktur Utama Asuransi Asei Dody Dalimunthe mengatakan perusahaan melakukan monitoring terhadap potensi akumulasi risiko dan evaluasi eksposur portofolio.

Langkah itu dilakukan bersamaan dengan penguatan koordinasi dengan reasuradur serta kesiapan menangani laporan dan proses klaim yang dijamin polis.

“Proses pendataan dan asesmen masih berjalan, kami belum dapat menyampaikan informasi final mengenai dampak klaim dari kejadian tersebut,” kata Dody, Kamis (20/8/2026).

Ketua Umum Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) Budi Herawan mengatakan besarnya klaim bergantung pada aset yang diasuransikan, jenis perlindungan, nilai pertanggungan, serta syarat dan ketentuan polis. Karena itu, total kerusakan tidak otomatis menjadi nilai klaim.

“Alhasil, selisih antara total economic loss dengan insured loss tersebut justru menjadi salah satu gambaran besarnya protection gap yang masih perlu dikurangi,” ujarnya.

Persoalan perlindungan juga mulai diarahkan pada skema baru. Budi menyebut gempa NTT 15 Agustus 2026 digunakan dalam materi Kementerian Keuangan sebagai backtesting rancangan produk parametric insurance. Skema tersebut dikembangkan untuk memperkuat perlindungan terhadap risiko bencana.

Gempa NTT akhirnya memperlihatkan dua ukuran kerugian yang berbeda. Economic loss menggambarkan dampak bencana, sedangkan insured loss baru dapat dihitung setelah exposure dan cakupan polis diverifikasi.

Bagi industri asuransi, persoalannya bukan hanya menghitung kerusakan setelah gempa, tetapi memperluas perlindungan sebelum bencana terjadi. Selisih kedua ukuran tersebut menunjukkan ruang perlindungan yang masih perlu ditutup. (Artha Tidar)

 

Baca Lainnya

Lima Tahun Jaga Konsistensi, FIFGROUP Raih The Finance Golden Star Award 2026

23 Oktober 2026 - 22:20 WIB

KMP Portlink III Disiapkan ASDP Perkuat Layanan Penyeberangan Merak-Bakauheni

23 Oktober 2026 - 18:41 WIB

Pelindo Dukung Penanganan Bencana Melalui Fasilitasi Pengiriman Kontainer Pelayanan Kesehatan di NTT

23 Oktober 2026 - 18:09 WIB

Perkuat Sinergi dengan Mitra, Pelindo Regional 2 Pulihkan Keuangan Negara Rp170 Miliar

23 Oktober 2026 - 18:03 WIB

AirNav Bersama Malaysia Perkuat Koordinasi Pelayanan Navigasi Penerbangan

23 Oktober 2026 - 15:23 WIB

Tani Merdeka Indonesia dan SPPG Buka Peluang Pasar Baru bagi Petani Aceh

23 Oktober 2026 - 12:43 WIB

Indonesia AirAsia Dukung Kebijakan Pemerintah, Libur Nataru Harga Tiket Domestik Turun Mulai dari 12%

23 Oktober 2026 - 12:13 WIB

CSR Bank BJB Biayai 3 Halte Transjakarta di Jatiasih

23 Oktober 2026 - 07:45 WIB

Pelindo Regional 4 Perkuat Budaya HSSE melalui Pelatihan Tanggap Darurat

23 Oktober 2026 - 05:24 WIB

DAMRI Uji Coba Bus Listrik di Kota Serang, Dukung Transportasi Publik Berkelanjutan

23 Oktober 2026 - 05:01 WIB

Trending di EKOBIS