Wartatrans.com, JAKARTA – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat 9.870 gempa susulan setelah gempa utama bermagnitudo 7,7 (M7,7) mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur, pada 15 Agustus 2026.
Hingga Ahad I(30/8/2026) pukul 11.00 WIB, gempa susulan berkisar M1,0 hingga M6,2, dengan 35 kejadian M5,0 atau lebih dan 156 gempa dirasakan masyarakat.

Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) Daryono, mengatakan pusat gempa utama dan mayoritas episenter susulan berada di zona Flores Back-Arc Thrust (FBT).
Sebagian besar gempa susulan terjadi pada kedalaman kurang dari 60 kilometer.
“Banyaknya gempa susulan menunjukkan proses penyesuaian dan pelepasan tegangan di kawasan tersebut masih sangat aktif. Namun, aktivitas ini tidak selalu berarti seluruh gempa susulan terjadi pada satu bidang sesar yang sama,” kata Daryono, Ahad (30/8/2026).
Angka tersebut besar, tetapi tidak berarti Flores mengalami hampir 10 ribu gempa besar. Untuk memahami skalanya, Indonesia memiliki pengalaman rangkaian pascagempa dalam jumlah besar, meski setiap kasus memiliki konteks tektonik dan metode pencatatan berbeda.
Setelah gempa Sumatra-Andaman sekitar M9,1 pada 26 Desember 2004, jaringan enam seismometer di Kepulauan Andaman-Nicobar merekam, sekitar 18.000 gempa susulan M3,0 atau lebih, pada 6 Januari hingga 16 Maret 2005.
Angka itu berasal dari jaringan dan periode pengamatan tertentu, sehingga tidak dapat dibandingkan langsung dengan catatan Flores.
Palu juga memberikan konteks lain. Setelah gempa Mw7,5 pada 2018, sebuah penelitian menggunakan katalog 554 gempa susulan, pada periode 28 September hingga 22 November 2018, dan merelokasi 386 kejadian untuk memetakan pola sumbernya.
Di Flores, perhatian justru bergeser dari jumlah ke mekanisme. Daryono menyebut sedikitnya empat gempa M>5 di Flores bagian barat, memiliki mekanisme sesar turun, berbeda dari gempa utama M7,7 yang bermekanisme sesar naik.
“Adanya gempa dengan mekanisme sesar turun di luar karakter mekanisme gempa utama menjadi indikasi bahwa respons kerak bumi terhadap gempa besar ini cukup kompleks. Ada sumber-sumber gempa lain yang kemungkinan ikut terpicu akibat perubahan tegangan setelah gempa utama,” ujar Daryono.
Pola tersebut berkaitan dengan kemungkinan off-fault seismicity, yakni aktivitas gempa di luar bidang sesar utama. Perubahan tegangan setelah sesar utama bergerak dapat memengaruhi struktur sesar lain di sekitarnya.
Guru Besar Institut Teknologi Bandung (ITB) Prof. Irwan Meilano, dalam penjelasannya pada Sabtu (15/8/2026), mengatakan gempa Flores 2026 memiliki kemiripan lokasi dan mekanisme dengan gempa Flores 1992.
“Apabila kita melihat dari mekanisme gempa serta lokasi gempa, maka gempa ini sangat berdekatan dan memiliki kemiripan dengan kejadian gempa di Flores pada tahun 1992,” ujar Irwan.
Fenomena reaktivasi sesar dalam konteks berbeda juga pernah diteliti pada gempa Ambon M6,5 pada 2019. Penelitian David P. Sahara, Andri D. Nugraha, Sri Widiyantoro dan peneliti lainnya di jurnal Tectonophysics mengidentifikasi 1.778 gempa susulan serta kluster sekitar 10 kilometer dari sumber utama yang ditafsirkan sebagai reaktivasi sesar akibat perubahan tegangan.
Karena itu, 9.870 lebih tepat dibaca sebagai gambaran aktivitas kerak bumi yang masih sangat aktif. Yang perlu diperhatikan bukan hanya jumlah gempa, tetapi bagaimana sumber-sumber di sekitar Flores merespons perubahan tegangan setelah gempa utama. (Artha Tidar)






























