Membaca Pesan Leluhur Pang Kilet Murrahim Bin Yassara

Wartatrans.com, ACEH TENGAH — Ada benda-benda tertentu yang tidak pernah benar-benar menjadi benda.
Ia menyimpan ingatan. Sebilah pedang, misalnya. Di mata orang biasa, ia mungkin hanya sebongkah besi yang ditempa, diasah, kemudian disarungkan. Tetapi bagi mereka yang mewarisi sejarah di baliknya, pedang adalah sesuatu yang jauh lebih dalam. Ia membawa nama, darah, sumpah, kehormatan, bahkan pesan yang melintasi generasi.
Karena itu, ketika saya menggenggam pedang warisan Pang Kilet Murrahim Bin Yassara, yang saya rasakan bukan sekadar berat bilahnya. Ada beban sejarah yang ikut berpindah ke telapak tangan.
Pedang itu seolah bertanya: untuk apa engkau menggenggamku?
Pertanyaan tersebut penting. Sebab benda pusaka akan kehilangan maknanya jika hanya dijadikan aksesori kebanggaan. Warisan leluhur tidak cukup dipamerkan; ia harus dipahami.
Dan saya percaya, makna sebuah pedang tidak terletak pada ketajaman bilahnya, melainkan pada kemampuan orang yang menggenggamnya untuk memahami kapan harus menghunus dan kapan harus menyarungkannya kembali. Di situlah letak kepemimpinan.
Pedang dan Kepemimpinan.
Sejarah selalu mengajarkan bahwa kekuasaan memiliki dua wajah. Ia dapat menjadi alat untuk melindungi, tetapi juga dapat berubah menjadi alat untuk menindas.
Pedang berada di antara kedua kemungkinan itu. Ia bisa menjadi simbol keberanian, tetapi juga bisa menjadi simbol kesewenang-wenangan. Karena itu, orang yang menggenggam pedang sesungguhnya sedang berhadapan dengan tanggung jawab moral.
Bagi saya, pesan Pang Kilet bukanlah tentang keberanian mengangkat senjata. Pesannya jauh lebih besar: beranilah berdiri ketika kebenaran membutuhkan pembelaan.
Seorang pemimpin harus tajam dalam membaca keadaan, tetapi tidak boleh tajam melukai rakyatnya.
Harus teguh dalam prinsip, tetapi tidak boleh keras kepala terhadap kebenaran.
Harus berani mengambil keputusan, tetapi tidak boleh menjadikan kekuasaan sebagai alasan untuk merendahkan orang lain.
Pedang, dengan demikian, adalah metafora kepemimpinan.
Bilahnya mengingatkan tentang ketegasan. Gagangnya mengingatkan tentang kendali. Sarungnya mengingatkan tentang batas. Sebab keberanian tanpa kendali hanyalah keberingasan.
Ketika Adat Bertemu Syara
Di tanah Gayo, identitas tidak lahir dari ruang kosong. Ia tumbuh dari perjumpaan antara sejarah, adat, agama, tanah, dan ingatan kolektif.
Karena itu, pedang yang diangkat dengan ujung mengarah ke langit mempunyai makna simbolik yang dalam.
Manusia boleh memiliki kekuatan, tetapi kekuatan itu tidak berada di atas kehendak Tuhan.
Gagang pedang berada di tangan manusia; tetapi arah hidup manusia tetap berada di bawah tuntunan Allah.
Di sinilah prinsip “Adat bersendi Syara, Syara bersendi Kitabullah” memperoleh relevansinya.
Adat memberi manusia identitas. Syara memberikan arah moral. Keduanya tidak semestinya dipertentangkan.
Menjaga adat bukan berarti membeku di masa lalu. Melestarikan warisan leluhur bukan berarti menolak perubahan zaman.
Justru tugas generasi sekarang adalah menemukan kembali nilai yang terkandung dalam warisan itu, lalu menerjemahkannya ke dalam kehidupan masa kini.
Sebab kebudayaan yang hanya disimpan di museum akan menjadi benda mati. Kebudayaan yang dihidupkan dalam perilaku akan menjadi nilai yang terus bernapas.
Bilah dan Sarung
Ada pelajaran menarik dari pedang. Ia memiliki dua bagian yang secara simbolik saling melengkapi: bilah dan sarung.
Bilah adalah ketegasan. Sarung adalah pengendalian. Bilah tanpa sarung dapat melukai. Sarung tanpa bilah kehilangan fungsi perlindungannya.
Bukankah demikian pula kehidupan masyarakat?
Kita membutuhkan keberanian, tetapi juga kebijaksanaan. Membutuhkan ketegasan, tetapi juga kesabaran. Membutuhkan identitas, tetapi juga keterbukaan.
Dan yang paling penting: membutuhkan persatuan. Pesan leluhur kepada generasi Linge semestinya tidak berhenti pada romantisme masa lalu.
Jangan tercerai-berai. Kalimat itu mungkin terdengar sederhana. Tetapi dalam sejarah sebuah masyarakat, perpecahan sering kali menjadi awal dari hilangnya kekuatan.
Karena itu, semangat Pasak Opat tidak sekadar dapat dibaca sebagai struktur sosial dan adat. Ia juga dapat dipahami sebagai pesan tentang keseimbangan, kebersamaan, dan tanggung jawab kolektif.
Pedang mengajarkan satu hal yang sangat sederhana: kekuatan tidak selalu berarti mengangkat senjata. Kadang-kadang kekuatan terbesar justru terletak pada kemampuan untuk tetap bersatu.
Warisan yang Sesungguhnya
Pada akhirnya, saya menyadari bahwa yang diwariskan Pang Kilet kepada generasi sesudahnya bukanlah sebilah pedang semata.
Yang diwariskan adalah pertanyaan tentang siapa kita dan untuk apa kita hidup.
Pedang itu hanya medium. Yang lebih penting adalah nilai yang berada di baliknya: keberanian, keadilan, kehormatan, persatuan, adat, syara, dan tanggung jawab kepada tanah leluhur.
Maka saya tidak menggenggam pedang itu untuk gagah-gagahan. Saya menggenggamnya sebagai pengingat bahwa setiap warisan membawa kewajiban.
Kewajiban untuk menjaga Nahma ni Linge. Kewajiban untuk melestarikan kebudayaan.
Kewajiban untuk menjaga marwah tanah Gayo. Kewajiban untuk menghormati agama dan adat.
Dan kewajiban untuk mengabdi kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia tanpa kehilangan akar sejarah dan identitas kebudayaan.
Sebab mencintai tanah leluhur dan mencintai Indonesia bukan dua hal yang harus dipertentangkan.
Keduanya dapat bertemu dalam satu kesadaran: bahwa kebudayaan daerah adalah bagian dari kekayaan bangsa.
Mungkin kelak pedang itu akan kembali masuk ke dalam sarungnya.
Bilahnya mungkin akan semakin tua. Besinya mungkin akan berkarat. Generasi akan berganti. Nama-nama zaman akan berubah.
Tetapi ada sesuatu yang tidak boleh ikut berkarat: amanah. Sebab pada akhirnya, ukuran seorang pewaris bukanlah apakah ia mampu menghunus pedang leluhurnya.
Ukuran seorang pewaris adalah apakah ia mampu menjaga nilai yang membuat pedang itu layak diwariskan.
Pedang dapat diwariskan oleh darah. Tetapi marwah hanya dapat diwariskan melalui keteladanan.
Dan selama nilai itu tetap hidup, Pang Kilet tidak benar-benar pergi. Ia tetap hadir—dalam ingatan, dalam adat, dalam persaudaraan, dan dalam setiap langkah generasi Linge yang memilih menjaga warisan leluhur tanpa kehilangan arah sebagai anak bangsa.*** (PK)


























